Pintu Surga

Dua minggu sebelum pernikahan, hatiku sepertinya begitu bergejolak. Lebih sering menangis malam-malam di kos tanpa alasan yang jelas, lebih sering merindukan ibu daripada biasanya. Entah, mungkin saat itu aku sedang khawatir. Seorang pria, yang kemudian menjadi suamiku pernah berkata, "setelah menikah nanti, aku tidak bisa berjanji jika aku tidak akan membuatmu menangis". Sebuah pernyataan yang menyadarkanku, bahwa pernikahanku bukan potongan serial drama romance di televisi.

Kemudian, di salah satu malam, dengan berurai air mata, kukirimkan sebuah pesan pada ibu. Sebuah pesan tentang segala keresahan menunggu hari pernikahan. Isakan-isakan kecil mengiringi setiap kata yang muncul pada layar ponsel. Sesekali harus kuseka air mata, karena terlalu banyak menggenang di pelupuk. Hari itu, adalah 3 hari menjelang pernikahan, 30 Agustus 2017.

Esok harinya, dengan mata sembab ku raba ponsel yang berdering, ada satu notifikasi pesan yang masuk. Dari ibu ternyata, pesan yang ternyata kembali membuatku terisak di pagi buta. 

"Ndhuk, ndak usah nangis. Pernikahanmu tinggal sebentar lagi lho. Ibuk pasti ngawasi kalian walaupun jauh. Ibuk sudah kasih kamu bekal. Selamat ya ndhuk, ibuk ikut bahagia"

Jika saat itu bisa ku peluk ibu, sunghuh aku akan menumpahkan tangisku disana.

Esok harinya aku pulang, 31 Agustus 2017. Tak ada yang berubah dengan rumahku, masih rumah yang selalu menanti kedatangan penghuninya. Ternyata ibu belum tidur, masih menikmati sinema elektronik tengah malam.

"Sudah pindahan ndhuk?" tanya ibu ketika aku kembali dari kamar mandi.
"Alhamdulillah sudah bu. Sebelum pulang sudah selesai," jawabku mengambil posisi duduk dekat ibu. Malam itu aku tidur di samping ibu. Menceritakan banyak hal kepadanya.

Blora, 1 September 2017
Kami sekeluarga berangkat sholat idul adha di salah satu masjid jami' dekat rumah. Belum ada tetangga yang tau jika besok pagi, seseorang akan mengucap akad di rumahku.

"Ini yang besok mau nikah sampai enggak nafus makan," kakakku menggoda.
"Iya lah, besok kan sudah ketemu sama mas-mas yang punya lesung pipi," tambah kakak perempuanku. Tawa pecah di rumah kami.
Menjelang siang, aku dan ibu harus mengecek beberapa hal, memastikan segalanya berjalan seauai rencana kami. Perasanku semakin sensitif hari itu.

"Bu, yang baca tilawah sudah?"
"Sudah"
"Pak Masrur atau Pak Nur yang baca jadinya bu?"
"Pak Nur yang baca, sama sali tilawahnya sekalian. Pak Masrur yang doa nanti"
"Bu Bambang sudah dihubungi?"
"Tadi barusan telfon, sore ini mau ke rumah. Pasang tenda, sama antar meja kursi"
"Catering datang jam berapa besok bu?"
"Ibu kemarin bilang sebelum jam 13 sudah standby di rumah, tapi nanti kita kesana aja buat konfirmasi ya. Ndhuk coba masmu ditelfon, tanyakan sampai mana, besok dia yang jadi wali lho. Jangan telat"
"Nggih bu," jawabku seraya mengambil ponsel.

Ada satu pesan masuk, pesan yang membuatku tersenyum seorang diri di teras rumah.
"Besok kita menikah. Selamat ya"

Tiba saatnya, 2 September 2017
Jam 06.00
Rombongan calon mempelai pria dari Semarang sudah tiba. Aku tak kuasa mengarur perasaanku, ketika calon suami dan mertua, kini berada sangat dekat denganku. Namun itu tak berselang lama, mereka memilih ke salah satu masjid untuk menunaikan sholat dhuha, setelah menyantap sarapan dan teh hangat yang sudah disiapkan ibu.

Jam 12.00
Ku lihat dari balik jendela, calon suamiku duduk di samping orang tuanya. Mengenakan setelan gamis navy  dan peci senada, dia nampak tenang. Sedang di dalam kamar, salah satu kerabat ibu masih mempercantik wajahku dengan keahliannya sebagai seorang perias.

"Ndhak usah tebal-tebal ya bu," pintaku sambil memejamkan mata ketika ujung pensil yang tajam menari-nari di kelopak mataku.
"Ndak kok mbak, wong pengantinnya sudah cantik kok. Enggak perlu banyak besak juha sudah ayu," balasnya diikuti tawa kakak perempuanku.

Kini, aku seorang diri di kamar. Ku lihat diriku di cermin, aku tersenyum menyembunyikan debaran jantung yang tak karuan geraknya. Ku harap tak ada seorangpun yang mendengarnya. Ku rebahkan diriku di kasur, sesikit terpejam dan merapalkan doa-doa.

"Ayo ndhuk," ibu menghampiriku. Aku menundukkan kepala, kusadari mereka semua menatapkau denhan bisikan-bisikan masuk ke telinga namun tak jelas apa yang ku dengar.
"Sudah siap ya mas?" penghulu bertanya pada calon suamiku.
"Bismillah sudah pak," jawabnya dengan tersenyum, kemudian menyeka keringat di pelipisnya.

Sepertinya 5 menit yang baru saja kulalui adalah salah satu waktu terindah yang Allah berikan padaku.

"Saya terima nikah dan kawinnya fulanah binti fulan, dengan mas kawin Kiab Tafsir Jalalain tersebut dibayar tunai," katanya dengan jelas tanpa ada salah dan pengulangan.

Tangis pecah beriring doa yang bersahutan diantara kami. Aku yakin, saat itu ribuan bahkan ratusan ribu malaikat sedang berada dengan kami. Allah telah menyaksikan bagaimana dia mnegucapkan janji agung di hadapan keluarga kami.

Ibu memelukku, tangisku mengalir di pundaknya.
"Sudah, ndak apa-apa ndhuk. Selamat ya, Barakallah Barakallah," ibu mengusap-usap punggungku. Kulihat, ibu pun sedikit meneteskan air mata. Air mata yang bersembunyi dibalik senyum tegarnya.

"Ayo ndhak apa-apa dipegang tangan suaminya, sudah halal sekarang," salah seorang kerabat berujar diiringi riuh gelak tawa, ketika aku tak mampu menjulurkan tangan pada pria yang baru saja menjadi suamiku itu. Bahagia bersisihan dengan haru, ketika pada masanya Allah mengjinkanku menikah, beribadah dengan makhluk pilihannya untuk menyempurnakan agamaku.

"Ndhuk, sekarang kamu sudah jadi istri orang, yang nurut sama suamimu, jangan bantah omongannya kalau itu baik dan benar. Surgamu disana sekarang, ibu pasti selalu doakan kalian. Sekali lagi, ibu bahagia ndhuk," ibu berujar ketika tamu-tamu satu persatu berpamitan. Kurasakan beberapa tetes bulir air mata jatuh bebas di wajahku.

Ibu terimakasih telah mengijinkan pria ini menjadi suamiku.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar