Ada Kehidupan Dalam Rahimku

Self Talk 

Setiap manusia -khususnya seorang wanita-, sangat berhak untuk merayakan kehamilan. Karena dia adalah rejeki dan hadiah tak ternilai dari Tuhan. Namun, perayaan yang sejati adalah perbaikan kualitas diri, bukan sekadar menghamburkan uang, tertawa terbahak-bahak kemudian selesai.

Bagi saya dan yang sedang saya lakukan, adalah merayakan dengan memberdayakan  dan memperbaiki kualitas diri baik fisik maupun mental. Seorang ibu adalah wadah sebuah kehidupan akan diciptakan, kehidupan dan perjalanan takdir dimulai dari   seorang rahim ibu. Maka, meningkatkan kualitas diri adalah perayaan terbaik.

Ketika mengetahui bahwa saya (benar-benar) sedang mengandung, satu hal yang tanamkan diri. Saya ingin memiliki riwayat kehamilan yang menyenangkan, bahagia dan penuh cinta  jauh dari trauma. Siapa yang bisa mengupayakan, jika bukan saya sendiri? Suami dan lainnya adalah supporter. Sayalah yang memegang kendali penuh atas kehamilan dan di persalinan nanti. Oleh karena itu tidak  jarang memaksa diri saya untuk belajar dari berbagai media. 

Salah satu nasihat sederhana adalah "jangan stres dan banyak pikiran". That's it! Karena benar adanya. Ternyata, dengan keajaiban cara kerja Tuhan, apa yang sedang dialami oleh ibu maka janin pun ikut merasakan. Jangan salah, cairan ketuban tidak hanya mengalirkan sumber makanan dan memberikan rasa nyaman pada janin, tetapi energi kita positif dan negatif bisa tersalurkan padanya. Lalu mengapa psikis sangat penting untuk ibu dan janin selama kehamilan bahkan persalinan?

Kehamilan dan persalinan adalah kerja menakjubkan dari berbagai organ dalam tubuh wanita. Ternyata, hormon yang diproduksi juga mempengaruhi kualitas kehamilan dan persalinan. Tidak jarang, banyak ibu yang memiliki berbagai keluhan selama kehamilan,  dan bahkan beberapa masalah saat persalinan. Yang jika ditarik ke belakang hal ini terjadi karena "ibu tidak nyaman selama masa kehamilan banyak intervensi yang menyebabkan tertekan, tidak bahagia, bahkan tidak mensyukuri keadaan dirinya".
Itulah mengapa saya sangat memfilter berbagai energi yang ada di sekitar,  memasukkan cinta dan kasih sayang dari mereka yang benar-benar mencintai saya. bagaimanapun, saya sangat membutuhkan energi mereka untuk perbaikan pikiran dan emosi.

 Terima kasih untuk semua cinta- kasih sayang, perhatian dan dukungan dari kalian. Kehamilan ini bukan hanya  sains, tetapi ada nilai-nilai religi dalam perkembangan dan psikologis yang harus ditanamkan kepada buah hati kita.
***

Maret 2019 

Entah mengapa, beberapa hari terakhir saya berpikir jika sedang mengandung. Pun lebih sering membaca artikel-artikel tentang kehamilan. Bahkan dalam sehari,  bisa beberapa kali membaca artikel tentang "ciri-ciri hamil muda". Saya tidak tahu apakah dugaan ini benar atau tidak, atau hanya intuisi yang berujung dengan derai air mata. 
***

Pagi itu, sebelum berangkat kerja, saya memaksa diri berhenti di  apotek. Entah sudah berapa kali saya menyambangi dengan belanjaan yang sama, dan jumlah yang tidak pasti. Testpack. Tidak seperti biasa saya hanya membeli sebuah kemudian saya simpan dalam tas.  Entah kapan akan memakainya. 

Sudah  hampir sepekan testpack itu berada dalam tas. Saya juga tidak memberitahu suami. Hingga hari Ahad pun tiba. Seperti biasa saya dan suami  menghabiskan hari libur berdua. Quality time, kata orang.

Pagi-pagi, Saya  mengambil tespackt itu dari dalam tas dan membawa ke kamar mandi. Hatiku bergemuruh khawatir,  mengganggu suami dengan kesedihanku, nanti.

Beberapa menit berselang. Aku masih terdiam di dalam kamar mandi. Kemudian, aku hanya bisa bersandar pada kloset duduk. 

Hasilnya… Ya Allah, ada dua garis merah di dalamnya. Benarkah saya hamil? Benarkah dugaanku selama lebih dari sepekan ini? Hatiku berkecamuk antara percaya dan tidak. Ya Allah … aku berserah diri kepadaMu atas hal ini.  

Kemudia saya mengambil air wudhu dan melaksanakan salat Subuh. Berbagai perasaan  antara takjub, haru, dan Bahagia bercampur menjadi satu. Hingga tidak terasa air mata meleleh membasahi pipi.
***

Saya menyiapkan sarapan. Masih ingat betul, saat itu,  saya membuat scrambled egg, kentang goreng, jagung rebus,  dan segelas kopi untuk suami. Kami masih berbincang seperti biasa.  Ketika matahari  meninggi, saya memutuskan mengawali obrolan.
"Mas, aku mau kasih tau sesuatu. Tapi aku takut". Kataku seperti kehabisan kata-kata.
"Apa? Bilang aja". Getaran suaranya selalu membuatku hangat.
"Tadi aku pakai testpack, mas," lanjutku.
"Terus hasilnya gimana?" tambahnya
"Tunggu", kataku seraya mengeluarkan testpack yang tadi kusimpan kembali dalam bungkusnya.
"Ini," kataku ragu.
"Hah, ini betulan? Garis dua? Positif? Selamat sayang,". Suamiku tersenyum, lesung pipin tampak di kedua pipinya. 
Sesaat kami saling menatap, aku ingin menangis. Dia segera memelukku, menepuk punggungku dan mengusapnya. Juga mengecup lembut keningku. Kemudian mengusap perutku.
"Kita perlu kasih tahu keluarga nggak ini?" tanyanya.
"Ya, boleh," aku mengiyakan dengan senyum.
Sesaat kemudian, notifikasi pesan masuk ramai di ponsel kami. Ada rasa bahagia, terharu, dan rasa khawatir tiba-tiba datang. Rupanya kegagalan selama ini masih menghantui.
"Kamu jaga diri ya sekarang!" Katanya dengan sumringah.
"Iya. Lalu, kapan kita ke dokter?" tanyaku.
"Tunggu ya. Kita pastikan dulu hasil tesnya. Atau kita tanya Dea aja?"usulnya.
"Boleh mas." Jawabku.

Dea adalah teman sekolah suami. Kebetulan dia adalah seorang bidan. Beberapa kali saya sempat konsultasi dengannya untuk masalah kesuburan kandungan. Jadi, Dea merupakan orang-orang pertama yang kami hubungi hari itu. ~Dea, terima kasih~

Dea mengatakan bahwa berdasarkan foto kiriman suamiku saya positif hamil. Dia juga memberitahu kami tentang makanan yang dianjurkan bagi orang hamil dan yang dihindari. Selain itu menjelaskan bagaiman saya harus menjaga diri dan berbagai pengetahuan dasar tentang kehamilan.
“Ternyata begini rasanya?” pikirku.
Namun, kita memutuskan untuk tidak mengunjungi dokter di hari itu. Kami menunggu beberapa hari, untuk melakukan tes lagi.
"Kamu tahu kan, kita sudah mrnunggu ini dari lama. Aku cuma mau memastikan kalau ini benar". Kata suami pada suatu siang, ketika saya kembali menanyakan kapan saya akan dibawa ke dokter. saya tersentuh dengan kata-katanya. Benar, kami memang telah menunggunya hampir dua tahun pernikahan.

***
"Oh, ini mas. Jadi di rahimnya sekarang ada kantong. Ini kelihatan ya. Nanti, kantong ini akan berkembang. Sementara ini uterusnya menebal ya. Kita ketemu 3 minggu lagi dengan harapan kantong ini sudah berkembang dengan baik ya ...". 

Kami diam mendengar penjelasan dokter Erika. Mataku tak lepas dari layar USG.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu "ada" dalam tubuhku. Namun, setibanya di rumah, justru kekhawatiran itu perlahan memenuhi diriku.
"Mas, kata dokter tadi, "dia" masih berupa kantong kan?" tanyaku ragu.
"Iya, kan masih kecil. Baru 6 minggu kan?" jawab suamiku. 
"Apa kantong itu bisa hilang mas?" aku menegaskan pertanyaanku.
"Maksudnya gimana?". Suamiku mulai fokus padaku.
"Ya kan "dia" masih berupa kantong. Kalau di pikiranku, kantong ini seperti menggantung di ruang kosong di dalam rahimku". Aku menvoba memvisualisasikan penjelasan dokter.
"Iya, terus?" suamiku menunggu.
"Kata dokter, kita ketemu 3 minggu lagi dengan harapan kantongnya sudah berkembang kan? Kalo kantongnya nggak berkembang, apa kantong ini akan hilang mas?". Aku taknbisa menyembunyikan kekhawatiranku.
"Kamu ngomong apa sih?". Dia mengerti kemana arah pembicaraanku.
"Kalau selama 3 minggu kantongnya nggak berkembang, berarti aku nggak jadi hamil mas? Terus kantongnya hilang kemana?" ujarku menahan diri.
Dia memelukku.
"Sudah nggak usah ngomong yang aneh2. Mulai sekarang kita jaga kantongnya. "Dia" nggak akan hilang kok".
Aku menatapnya dan tersenyum. 

~Terima kasih mas, karena sudah dan selalu menguatkanku, bahkan ketika saya tak tau bagaimana melsayakannya dengan diriku sendiri.~

Posting Komentar

0 Komentar