SEBUAH PENGABDIAN DI TANAH PAPUA


Bagi sebagian orang, bekerja adalah untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. namun ternyata, di luar sana masih ada yang bekerja untuk mengabdian dirinya sepenuhnya untuk ummat. Mengabdi tanpa harapan pamrih, namun demi misi kemanusiaan yang harus tertunaikan. adalah seorang dokter gigi sekaligus pendwakwah, yang telah dua belas tahun hidup di Papua.

**

“Saya tidak pernah bercita-cita jadi dokter,” katanya membuka obrolan beberapa hari yang lalu. “Dokter buat saya bukan profesi tapi pelayan. Pelayan masyarakat.”

Pernyataan beliau membuat saya berdecak kagum, namun juga menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, pelayan yang dipilih dengan menjadi dokter. Kenapa bukan profesi/cara lain? Beliau mengatakan bahwa saat itu jalan yang ada dan bisa dijangkau hanya itu.

“Jalan memang banyak, tapi kesempatan yang terbatas. Kan tidak mungkin kita menjalani banyak hal bersamaan. Harus fokus sama satu jalan dulu. Jika ingin berhasil. Menurut saya begitu,” tambahnya.

Saya setuju dengan pernyataannya. Dan yang perlu diketahui, beliau ini adalah seorang dokter gigi di Papua. Maka, rasa ingin tahu saya selanjutnya adalah kenapa Papu? Karena yang saya tahu, beliau tumbuh dan besar di Jawa.

“Karena ingin lebih bermanfaat untuk orang lain. Saya merasa ketika di Jawa kurang bermanfaat, tentu karena di Jawa banyak yang lebih senior dan pandai dari saya. Waktu itu, saya hanya ingin punya lebih banyak kesempatan untuk melakukan banyak hal. Di Jawa saingan banyak, otomatis kesempatan saya berkarya lebih sedikit saat itu.”

Benar memang, sebuah pekerjaan tidak hanya untuk meninggikan kelas sosial. Namun lebih dari itu, sejauh mana kebermanfaatan kita untuk orang lain.
14 tahun menjadi dokter, tentu banyak pengalaman menarik, terlebih di tanah Papua. Beliau pun membenarkannya.

“Karena masyarakat asli Papua mungkin dulu belum paham. Dikira semua dokter itu sama. Yang datang ke saya itu banyak, ada yang kena bacok suruh jahit, disuruh bantu ibu melahirkan dini hari, yang paling sering saya disuruh mengobati orang kesurupan. Lucu memang, tapi itu pengalaman yang berkesan buat saya.”

Migrasi ke Papua sejak 23 September 2006 lalu, beliau tak pernah lelah menjelaskan bahwa dia adalah dokter gigi, dan tidak paham pengobatan lainnya. Beberapa dari mereka akhirnya paham, namun lebih banyak yang mengirau beliau ini melakukan diskriminasi. Beliau kembali mengatakan jika beliau telah melakukan yang terbaik untuk warga Papua. Itulah sepenggal kisah beliau ketika di Boven, Digoel, Tanah Merah, Papua.

Untuk hal-hal tak terduga seperti tadi, apa yang kemudian dilakukan? Adakah klinik terdekat?
"Mana ada klinik terdekat di pedalaman? Saya tolong sebisa saya. Baginya saya laporkan ke pustu. Untungnya, saat itu sudah ada teman-teman dokter umum, bidan dan perawat yang tugas disana. Jarak pustu ke tempat saya sekitar 17 km, apalagi kalau malam tidak ada sinyal, jadi tidak bisa komunikasi saat itu juga."

Lambat laun, warga sekitar mulai paham jika dokter memiliki bidang masing-masing. Terlebih dengan adanya dokter gigi di sana, warga mulai mengerti pentingnya merawat gigi. Karena mayoritas penduduk asli masih makan pinang, sirih buah, kapur dan gambir.

“Misi saya di Papua juga untuk dakwah. Jadi saya contohkan metode-metode kebersihan atau cara hidup sehat yang diajarkan dalam Syariat Islam.”

Selain itu, rekan beliau sesama dokter pun merangkap sebagai misionaris. Hanya jika mereka tertarik ingin tahu, barulah dijelaskan. Benar, karena sejatinya begitulah dakwah Islam, merangkul tanpa memaksa.

Dalam kurun waktu 11 tahun (2006 – 2017), belai telah mengislamkan sekitar 300 orang asli papua. Bahkan 17-20 teman sejawat atau sesama dokter pun ada yang memutuskan menjadi mualaf setelahnya.

“Tidak perlu saya buat pengumuman untuk hal itu. Saya tidak ingin dikenal. Lillahi ta’ala. Biar Allah yang menilai. Karena sayapun bukan siapa-siapa tanpa hidayah dan cinta Nya yang luar biasa.”

Bagiamana dengan pergerakan dakwah disana? Mengingat jika Islam adalah agama minoritas di Papua, adakah gesekan dengna masyarakat adat setempat?

Hanya dengan memberi contoh yang bagus, tak perlu banyak bicara. Menghormati mereka, membantu dan memperlakukan mereka dengan baik. Ketika mereka semakin simpati, disitulah kesempatan saya. Tapi, tidak semudah itu tentunya.
Beliau menambahkan, bahwa pergesekan agamapun sering terjadi di Papua. Menurut beliau, justru gesekan terbesar datangnya di sesama muslim yang merasa alirannya paling benar.

Selain itu, ternyata beliau tidak memiliki program khusus. Belia hanya menyempatkan berkunjung ke rumah-rumah warga atau mengundang mereka untuk makan di rumah. Menurut beliau, terlibat obrolan santai adalah waktu yang tepat untuk memberikan pemahaman tentang Islam.

“Lakukanlah kebaikan sekecil paapun dan istiqomahlah, dengan cara apapun sesuai keahlian dan kemampuan. Karena mengabdi untuk ummat tidak harus menjadi pendakwah. Dakwah itu bisa berupa apa saja, yang penting tujuannya adalah menyerukan kebenaran dan menentang keburukan. Setelah itu yakinlah bahwa kita akan bermanfaat untuk ummat dan Allah akan memuliakan derajat kita (dunia akhirat). Aamiin

Begitulah obrolan kami berlangsung singkat, namun berisikan konten yang mengedukasi saya. Saya setuju dengn pesan beliau untuk mengabdi pada ummat. Kita hanya perlu melakukan kebaikan dan ajaran-ajaran Allah, karena mengabdi bukan untuk mencari ketenaran apalagi uang. Beliau berhasil menutup obrolan selama du hari semalam itu dengan bijak.

“Saya pernah dilempar batu, pernah diusir, bahkan pernah mau dibusur, dan masih banyak lagi.”



Data Narasumber
Nama : Miftahul Habibi
Domisili : Papua
Pekerjaan : Pelayan Masyarakat (Dokter Gigi)
Pendidikan : S2

Posting Komentar

0 Komentar