Seorang Tamu


Pintu kamar usangku berderit. Seseorang tengah mencoba masuk dengan mengendap. Ah, aku tau. Aku mengenali aroma tubuhnya, wangi kasturi. ⁣
"Hai, masuklah"⁣
"Em, eh, ya baiklah". Dia duduk di sebelahku. Tubuhnya tinggi besar, rahangnya tegas, bola mata coklatnya di bungkus oleh bulu mata yang lentik.⁣
"Aku lelah", sahutku.⁣
"Ya, aku tahu". Dia selalu tak banyak bicara.⁣
"Aku ingin berhenti. Kenapa Tuhan tak ijinkan aku menemuinya kemarin?"⁣
"Karena tugasmu belum tuntas"⁣
Aku menatap matanya. Tersedu dipeluknya. Jemarinya yang kuat dan halus mengusap kepalaku perlahan.⁣
"Bertahanlah, sebentar lagi"⁣
"Tapi sampai kapan? Aku sudah sangat lelah. Aku ingin pulang", rengekku seperti bocah.⁣
"Sampai Tuhan memanggilmu. Sampai dengan hari itu, teruslah bertahan untuk seseorang"⁣
Aku mengangkat kepala. Dia tersenyum. Ah, dia pun nampak lelah namun tak pernah mengeluh padaku.⁣
"Siapa?", tanyaku.⁣
"Dirimu sendiri". Tangisku pecah. ⁣
"Aku sudah menemanimu sejak 21 tahun yang lalu, hari dimana engkau dilahirkan. Kenapa engkau tak mau bertahan sebentar lagi? Bukankah selama ini engkau telah bertahan dengan cukup keras?"⁣
Aku diam. Pilu. Haru.⁣
"Bertahanlah untuk dirimu, kuatlah untuk dirimu. Tak lama, sebentar saja. Ketika Tuhan telah memanggilmu, maka habis masamu. Ketika saat itu tiba, beristirahatlah dengan tenang di Surga-Nya denganku. Karena dunia bukan tempat untuk istirahat".⁣
Aku memeluknya erat.⁣
Sejak malam itu, tak lagi ku panggil dia melalui keluhku. Dia telah menunggu di Surga.⁣
Dia -sisi terlemah dalam diriku- ⁣
@30haribercerita⁣
#30haribercerita⁣
#30hbc2030⁣
#30hbc20istirahat

Posting Komentar

0 Komentar