Nimas

Ibu Rumah Tangga Rawan Terkena HIV daripada PSK

8 komentar

memperingati hari hiv/aids sedunia


HIV belum tentu AIDS dan penderita AIDS sudah pasti karena HIV

Halo semuanya, jumpa lagi ya kita.

Ibu rumah tangga lebih rentan terkena HIV daripada PSK, sudahkah ada yang aware tentang ini? Atau, justru belum menyadari kenyataan ini? Sedih ya, tapi ya memang begitu adanya.

Kali ini, saya mau tulis sedikit tentang isu sosial yang sangat dekat tapi juga masih sangat tabu bagi sebagian besar masyarakat. Yes, tentang HIV/AID.

Sejujurnya, pada beberapa bulan yang lalu, ketika anak kami dinyatakan positif TB, dokter kembali minta untuk dilakukan tes HIV. Padahal, serangkaian pemeriksaan untuk mengecek TB sudah begitu menyesakkan, karena lihat bayi harus disuntik sedemikian effortnya (suntikan tes mantoux beda dengan suntikan biasa), belum lagi harus nangis kejer ketika dironsen, ini harus diambil darahnya dan untuk tes HIV.

Reaksi saya? Saya ngomel. Sebel. Selain karena kasihan sama bayi, saya juga merasa "baik-baik" saja sebagai seorang ibu dan sebagai orang tua. Dalam benak saya, tidak ada sama sekali virus HIV itu dalam darah saya. Ketika saya tanyakan kenapa pasien TB wajib melakukan tes HIV, beliau menjelaskan jika itu adalah prosedur wajib dengan alasan jika hanya fokus pada penyembuhan TB tapi ternyata ada virus HIV yang bersembunyi, maka semua usaha akan sia-sia. 


 
kasus hiv/aids berdasarkan pekerjaan

HIV/AIDS Bukanlah Hal yang Tabu 

Masih ingat betul tentang kejadian itu, dan memang sedang dalam keadaan yang sangat penasaran dengan HIV, ternyata ada webinar yang membahas tentang ini. Bahasannya sangat dekat dengan kehidupan saya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Acara ini, diinisiasi oleh halo dkt, yang mana merupakan sebuah lembaga swadaya yang bergerak dalam bidang kesehatan, khususnya berkaitan mengenai kesehatan reproduksi dan seputar alat kontrasepsi. Mengusung dr. Gia Pratama sebagai pemateri dan Citra Ayu sebagai moderatornya. Tema yang diangkat memang sangat menarik, terlebih bagi saya yang memang juga istri dan ibu rumah tangga.

Nah, kembali soal materi webinar. Dokter Gia mencoba menguraikan, apa sih HIV itu? Karena mengingat, HIV sendiri dianggap suatu yang tabu dan memalukan. Padahal, HIV harus segera dikurangi sebanyak mungkin jumlah virusnya. Loh, kenapa dikurangi? Kenapa tidak disembuhkan? Yes, for your information ya kalau HIV ini belum ditemukan obatnya. Obat yang diberikan hanya berfungsi untuk mengurangi sebanyak mungkin jumlah virus dalam tubuh. Begitu ya?

Lanjut lagi. HIV atau Human Immune deficiency Virus adalah sebuah virus yang menyerang kekebalan manusia. Dokter Gia mengibaratkan jika tubuh kita adalah sebuah negara, yang mana setiap negara tentu punya pertahanan yakni tentara. Nah, bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika tentara kita diserang? Apa yang terjadi pada negara tersebut?

Seperti halnya tubuh kita. HIV tidak menyerang saluran pernapasan, otak, jantung atau bahkan pencernaan manusia, tapi yang di serang adalah kekebalannya manusia. Itulah mengapa ketika sudah terjangkit HIV, tubuh menjadi lebih mudah sakit karena banyak bakteri, virus dan juga jamur yang masuk ke dalam tubuh dengan mudah.

Dari sini, kemudian muncullah AIDS. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah serangkaian gejala yang menunjukkan bahwa imunitas seseorang sudah rendah.

Dari obrolan yang santai tersebut, dokter Gia kembali menegaskan jika HIV bisa berkembang menjadi AIDS dalam rentang waktu 10-12 tahun. Nggak terbayang ya, selama kurun waktu tersebut sudah berapa banyak orang tersebut berinteraksi secara "intim" dengan orang di sekitarnya?

Karena, pengidap HIV ini tidak menunjukkan gejala apapun. Kecuali jika sudah menjadi AIDS, maka banyak gejala-gejala yang bisa diperhatikan.

data kasus hiv/aid tahun 2007-2017


Dari diagram di atas, kita bisa lihat jika angka HIV positif mengalami lonjakan yang luar biasa selama 10 tahun, namun tidak dengan penambahan angka AIDS. Di sini, dokter Gia menjelaskan, jika angka tersebut terjadi karena terjadi penekanan jumlah virus HIV dalam tubuh seseorang. Dokter yang yang terlihat muda ini pun, kembali mengingatkan audience jika perlu adanya kesadaran untuk memeriksakan diri, karena mengingat HIV pada umumnya tidak menunjukkan gejala apapun.

Ibu Rumah Tangga Rawan Terkena HIV/AIDS daripada PSK

Setelah pemanasan yang sudah cukup mencengangkan bagi saya, Mak Aji a.k.a Citra Ayu Mustika sebagai moderator, kembali mengingatkan kapan seorang istri atau juga ibu rumah tangga mulai aware untuk memeriksakan dirinya.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, dr. Gia terlebih dahulu menyampaikan sebuah data statistik yang mengejutkan juga bagi saya. Jika pada tahun 2017, Ibu Rumah Tangga pernah berada pada peringkat 1 golongan yang paling banyak positif HIV. Miris ya?

Lebih lanjut, dokter memberikan beberapa kemungkinan yang menjadikan istri atau ibu rumah tangga sebagai pihak yang rentan mengidap HIV/AIDS bahkan jika dibandingkan PSK (Pekerja Seks Komersial).

  • Istri atau ibu tersebut merupakan PSK secara langsung
  • Merupakan pasangan (istri dan suami) pengguna narkoba
  • Istri atau ibu tersebut memiliki pasangan yang penyuka sejenis

Tentang hal ini, dokter Gia menjelaskan sedikit lebih banyak. Jika banyak pasiennya, yang ternyata adalah suami penyuka sejenis. Yang mana, hubungan badan antar keduanya (pria dan pria) merupakan hubungan yang beresiko. Karena bisa menyebabkan IMS (Infeksi Menular Seksual), terlebih HIV.

Ketika "mereka" berhubungan seksual yang tidak pada tempatnya (seharusnya penis dan vagina), maka sangat besar kemungkinan terjadinya robekan atau pendarahan, yang ini memudahkan penularan virus tersebut.

Pasangan LDM (Long Distance Marriage)

Menurut dr. Gia, hal ini bisa saja menjadi salah satu sebab penularan HIV/AIDS. Tapi ketika pasangan tersebut memiliki komitmen untuk tidak "jajan", maka kemungkinan tersebut sangat rendah terjadi.

Yang membahayakan adalah, ketika salah satu berhubungan badan dengan "orang lain". Yang kita juga tidak tahu "orang lain" tersebut sudah berhubungan dengan siapa saja. Lalu pulang, dan berhubungan badan dengan pasangannya seperti biasa.

Pasangan dengan Pernikahan Poligami

Ketika suami hanya berhubungan dengan istri-istrinya, dan para istri pun demikian, maka kemungkinan terjadi penularan HIV/AIDS juga sangat kecil. Namun, tidak ada salahnya, jika masing-masing dari mereka memeriksakan diri.

1 desember hari aids sedunia

Tips Mencegah HIV/AIDS/IMS dengan ABCD

  • Abstinace

Tidak berhubungan seksual dengan orang lain, kecuali pasangan yang resmi.

  • Be Carefull

Setia pada pasangan masing-masing, dengan tidak coba "jajan" di luar dan justru pulang-pulang menularkan virus.

  • Condom

Penggunaan kondom dirasa lebih baik dan meminimalkan penularan penyakit kelamin lainnya. Thailand sudah melakukan kampanya ini, dengan membagikan kondom secara gratis dan berhasil menekan angka HIV di negaranya.

  • Drugs

Jangan menggunakan obat-obatan (narkoba), karena penularan virus ini memang bisa melalui jarum suntik, yang terdapat droplet cairan tubuh (darah) manusia pada jarumnya.

As A Woman, We Must Aware

Mengingat bahasan mengenai penularan HIV/AIDS setelah memiliki pasangan. Maka, ada hal-hal yang harus dilakukan sebelum akhirnya memutuskan menikah, yakni melakukan rapid test HIV/AIDS, bahkan menurut dr. Gia, ini merupakan prosedur wajib bagi pasangan calon pengantin.

Masih dari penuturan dr. Gia, di Israel, apabila seseorang akan menikah, maka kedua kromosom dari pasangan akan dicek untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan melahirkan keturunan cacat! Nah ternyata, Israel adalah salah satu negara dengan angka cacat lahir yang terbilang sedikit.

Sebagai seorang wanita, istri dan juga ibu, sudah sepatutnya kita peduli dengan keadaan diri. Memeriksakan diri (rapid test HIV) bisa dilakukan kapanpun dan di mana pun (baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, atau juga di puskesmas).

Mau bagaimana pun, seorang ibu akan melahirkan anak. Lalu bagaimana jika si ibu terinfeksi HIV/AIDS? Kecil kemungkinan bayi tersebut tidak tertular, kembali lagi dari seberapa banyak virus yang dimiliki si ibu dalam tubuhnya.

Bahkan di akhir sesi, dokter Gia mengatakan jika penderita HIV/AIDS bisa saja berkeluarga dan memiliki keturunan seperti kebanyakan pasangan, namun dengan catatan dia harus memiliki pasangan yang tahu betul resikonya. Salah satu resikonya adalah memiliki keturunan yang tertular HIV/AIDS. Sampai pada sesi ini, saya masih merinding. Terbayang, entah bagaimana perasaan para penderita HIV/AIDS di luar sana yang tengah memimpikan kehidupan rumah tangga.

Kemudian ada seorang penanya yang mengaku jika suaminya pernah melakukan hubungan beresiko 2 tahun yang lalu. Dokter Gia mengatakan, untuk melakukan pengecekan ulang baik istri maupun suami. Meskipun hasilnya negatif, tetap harus diperiksa lagi paling tidak 6 bulan setelahnya.

Menurut dr. Gia, salah satu ciri yang perlu diwaspadai adalah apabila munculnya jamur pada area-area lembab pada tubuh kita, yakni mulut dan vagina (wanita). Jika terjadi, maka segera lakukan pemeriksaan atau rapid test HIV.

Pada pertanyaan terakhir, jawaban dr. Gia membuat saya tersenyum dan mengernyitkan kening bersamaan. Sebab menurutnya, daripada kita (istri) memikirkan apakah suami kita memiliki perilaku beresiko, lebih baik kita pastikan jika suami kita bahagia. Mengapa? Sebab, survei membuktikan (100%) jika suami yang setia adalah suami yang bahagia. Sebuah jawaban yang sangat menarik.

Sepanjang acara, dr. Gia tak henti-hentinya mengingatkan audience untuk melakukan pemeriksaan dini, karena ini sangat berguna bagi penanganan di kemudian hari. Supaya lebih cepat ditangani dan diberi obat penurun jumlah virus HIV.

Closing statement dari dr. Gia, pernikahan adalah roller coster dunia sesungguhnya, maka ketika kita sudah masuk ke dalamnya, Enjoy it!

kata mutiara dokter gia

Sejam mendengarkan pembicaraan yang sangat mengalir, tak hentinya membuat saya mengangguk tanpa sadar. Sebab, nyatanya banyak fakta-fakta tentang HIV/AIDS yang selama ini kita tidak tahu, dan justru memilih bertahan pada stigma yang salah kaprah.

Dari sini saya mulai paham, mengapa rapid test HIV/AIDS ini diwajibkan sebagai prosedur pemeriksaan. Karena memang kasus ini sendiri seperti gunung es, angka-angka yang nampak pada statistik hanya puncaknya, sedangkan apa yang ada di lapangan dan tidak tercatat memiliki persentase angka yang jauh lebih besar.

Ibu rumah tangga rawan terkena HIV memang sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dari pemaoaran dr. Gia selama satu jam, kita bis alihat agaimana segala kemungkinan bisa menjadi sebagai seorang istri atau ibu tertular virus ini. Meskipun kita masih single, tidak masalah tes HIV. Justru ini sangat baik dan bijak untuk menentukan langkah selanjutnya. Sedang jika kita sudah menikah, maka lakukanlah tes HIV ini bersama pasangan, meskipun kita merasa baik-baika saja secara komunikasi dan emosi.

Selamat saling membahagiakan - dr. Gia Pratama


Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

8 komentar

  1. Ternyata selama ini aku sudah salah kaprah. Takut tes HIV, takut dikira kenapa-napa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah hehe, tes aja, di puskesmas gratis kok. Nggak tau kalau di rs atau lab

      Hapus
  2. Infonya bermanfaat banget mbak

    BalasHapus
  3. Baru tau kalau TB dan HIB ternyata berhubungan, nice info mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan berhubungan mbak, tapi dikhawatirkan tb ini karena ada hiv. Hiv kan yg diserang kekebalan tubuh. Cmiiw

      Hapus
  4. Ok. I see. Makasih mba informasinya. Selama ini abai karena merasa aman2 aja.

    BalasHapus
  5. wah ternyata saya baru tahu infonya,, pokoknya jangan terlalu abai sama kesehatan ya kak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email