Nimas

Parenting : Permainan Bertema Untuk Anak

permaian bertema
Halo halo halo

Adakah yang udah kenalin anakanya permainan bertema? Atau anaknya dibiarin main sendiri, dan bahkan dibiarkan gabut?

Jadi, sejak hamil aku udah memutuskan untuk nggak kasih anakku banyak "mainan jadi" ataupun banyak "mainan palsu". Pengennya ajak dia eksplor banyak hal yang nyata. Beruntungnya, suami setuju sama hal ini. Sejak lahir, dia nggak punya banyak mainan. Untuk stimulasi awal, aku cuma pakai alat perkakas dapur atau perabotan rumah yang nggak berbahaya buat dia.

Semakin dia besar, setelah aku amati, dia emang kurang tertarik sama mainan-mainan. Cuma sesekali aja dimainin, dia lebih suka baca buku dan mencoba banyak hal baru. Nah dari sinilah, tekadku buat ngenalin mainan bertema ini makin kuat.

Sebelumnya, aku coba cari referensi dulu soal mainan ini. Karena ku pikir, ini bisa jadi pemanasan untuk kami. Sebab, aku punya rencana mengambil program homeschooling buat dia, tapi masih belum dapet persetujuan nih dari suami. Nah ku pikir, cara ini bisa jadi bahan evaluasi buatku nantinya, apakah akan memilih atau memasukkannya ke lembaga pendidikan. Btw, soal sekolah anak, kami nggak terpikir dan belum tertarik untuk menyekolahkannya di sekolah negeri maupun yang berlabel “Sekolah Islam Terpadu”.

Kembali soal permainan bertema ini, awalnya aku banyak mencari referensi soal gaya pendidikan Maria Montessori. Ya, program ini memang banyak diadopsi oleh sekolah-sekolah swasta dan beberapa lembaga pendidikan non formal. Tarif yang mereka patok pun beragam, namun terbilang mahal untuk kami saat ini. Meski demikian, gaya montessori tetap akan aku coba sih (sambil nunggu peralatan yang menunjang dan menunggu usianya).

Awalnya, ketika memutuskan memberikan mainan bertema ini, aku nggak punya banyak ekspektasi. Aku cuma nggak mau dia banyak terpapar sama gadget atau main random yang nggak ada valuenya. Tapi, semakin aku baca, ternyata banyak hal yang ternyata juga bisa kami dapatkan. Salah satunya adalah bonding. Hal ini nggak bisa dipungkiri ya, karena mau bagaimanapun, di permainan yang aku berikan, selalu butuh kerja sama antara orang tua dan anak.

Sebelum Memilih Permainan Bertema Untuk Anak

Ada beberapa hal yang aku (secara pribadi) lakukan. Yakni, value apa yang ingin aku berikan ke dia. Saat ini, usia anak kami 20 bulan. Di usia ini, beberapa orang tua memang sudah mengenalkan permainan bertema kepada anaknya, namun karena satu dan lain hal, aku memutuskan untuk memulainya sekarang. Tidak ada kata terlambat, toh ini bukan perlombaan, kan? :)

Di usianya ini, kami mencoba untuk mengenalkannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan kami, agama Islam. Kami tidak mengajarkannya menyanyikan lagu Baby Shark (atau lagu anak sejenis), tidak mengijinkannya menonton channel youtube anak, atau memberikannya permainan yang sedang banyak direview para influencer. Apakah kami tidak mengajaknya bernyanyi? Tentu saja kami bernyanyi, namun lagu pilihan atau lagu yang kami buat sendiri.

Karena melakukan permainan bertema, tidak sama dengan membiarkan anak memainkan mobil-mobilannya tanpa tujuan, kan?

Selain itu, melihat kesiapan anak juga hal yang harus dipertimbangkan. Karena jangan sampai kita terlalu berambisi tapi ternyata anak belum siap melakukannya. Atau juga jangan terlalu khawatir anak tidak bisa sebelum kita mencobanya.

Misalkan saja untuk bermain sensori. Maka aku mencari tekstur apa yang belum bisa diterima oleh anakku. Setelahnya, aku akan coba mengajaknya bermain dengan hal itu tanpa memaksanya.

homeschooling

Contoh Permainan Bertema

Nah, kebetulan aku lagi mengenalkan dia bulan-bulan hijriah, bentuk huruf hijaiyah dan makanan hewan. Untuk permainan tentang bulan hijriah dan huruf hijaiyah, semoga aku sempat untuk menuliskannya di blog hehehehe (semoga niat untuk mengabadikan momen ini di blog terealisasikan dengan baik, aamiin).

Sebelum mengajaknya bermain, biasanya aku sounding dulu beberapa hari sebelumnya dan selalu berulang. Seperti kali ini, kami menggunakan kucing sebagai contohnya (karena dia suka kucing dan hewan ini mudah ditemui di sekitar rumah kami). Berikut ada perlengkapan yang bisa teman-teman siapkan (jika ingin mencoba).

Alat dan Bahan :

  • Kardus bekas
  • Kertas HVS/kertas gambar/kertas manila atau yang lainnya
  • Kertas lipat
  • Lem kertas
  • Spidol
  • Lakban
  • Gunting dan cutter

Cara Membuat :

  • Jika tidak punya kardus sesuai ukuran yang kita butuhkan, kita bisa membongkarnya terlebih dahulu dan membentuknya sesuai kebutuhan
  • Rekatkan dengan lakban atau isolasi dengan kuat
  • Buat tanda untuk mulut kucing dan lubang di bawah kotak
  • Gambar kucing di kertas sesuai ukuran kotak, lalu potong
  • Tempelkan pada kardus, dan pastikan lubangnya tepat
  • Gambar ikan pada kertas lipat warna-warni dengan ukuran beragam
  • Lalu potong dan tempelkan pada kardus (supaya kaku), lalu potong seperti contoh
  • Kucing dan ikan siap dimainkan

Manfaat :

  • Melatih konsentrasi anak
  • Menerima instruksi sederhana
  • Stimulasi motorik halus
  • Mengajak anak berhitung
  • Mengenalkan perbedaan ukuran
  • Menyebutkan warna
  • Merawat binatang

Selama melakukan permainan bertema ini, jangan lupa kita harus aktif ya :D Jadi nggak cuma dibuat, lalu anak nggak diarahkan. Kan sia-sia kalau kayak gitu :’)

Selama membuat mainan, si bayi juga terlibat dalam pembuatannya kok. Aku bagi tugas sama dia. Tugasnya adalah membuang sampah, membantu mengambil kertas, dan mengelem ikan. Sejauh ini dia memahami instruksi tersebut, bahkan dia sudah paham bagaimana harus memberi kucingnya makan (hahahaha)

Setelah ini, akan aku coba membuat contoh hewan lainnya. Atau jika tidak, kami akan melihat hewan peliharaan tetangga atau pergi melihat hewan-hewan yang digembala pemiliknya. Ya, biasanya di sore atau pagi hari adalah jadwalnya untuk berjalan-jalan melihat hewan gembala seperti kerbau, kambing atau sapi. Tidak jarang, suami akan menghentikan motornya sebentar dan mengijinkan istrinya menjelaskan sedikit lalu mengulanginya sepanjang jalan.

Benar, melakukan permainan bertema ini memang butuh kerja sama orang tua. Kan nggak asik, kalau ibunya udah susah payah nyusun materi, tapi bapaknya malah asik ngajak nonton youtube kan?

Minggu ini, tema mainnya adalah 3 hal di atas (huruf hijaiyah, bulan hijriah dan makanan hewan). Jadi, akan tetap diulang dengan cara yang berbeda.

main bertema


Permainan Bertema dan Stimulasi Tumbuh Kembang Anak

Teman-teman semua, tau nggak sih kalau permainan bertema ini juga punya kaitan dengan tumbuh kembang anak-anak? Jadi nggak cuma main “yang ribet”, tapi ada hal yang juga berpengaruh secara nggak langsung ke anak kita. Contohnya permainan sensori. Permainan jenis ini, banyak merangsang otot oromotor anak yang berkaitan dengan kemampuan dia mengunyah makanan, bahkan juga berkaitan dengan terapi speech delay, loh.

Lalu permainan fisik, seperti memindahkan balok, merayap, gym sederhana atau yang lain. Ini juga berpengaruh pada nafsu makan anak, kecerdasan sosial, motorik halus dan kasar hingga kemandirian.

Hal-hal ini, bisa kita tanyakan langsung pada psikolog anak atau terapis. Jika belum ada biaya, tidak ada salahnya dengan membaca artikel dari sumber yang terpercaya.

Seperti yang aku bilang tadi, jangan sampai kita membiarkan anak bermain tanpa value atau bahkan gabut. Tujuan bermain untuk anak adalah untuk belajar. Bedakan antara bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain ya. Dengan permainan bertema seperti ini, memang biasanya rumah akan sedikit lebih berantakan dan butuh waktu untuk mempersiapkannya.

Tapi, melihat anak tertarik dengan permainan yang kita berikan, pesan yang diterima dengan baik oleh mereka, atau bahkan rasa puas anak ketika mampu menyelesaikan tantangan, adalah hal-hal lain yang membuat kita akan tetap semangat melakukannya.

Tidak ada salahnya membelikan mereka banyak mainan, tapi kita juga harus tahu, manfaat apa yang akan mereka dapatkan? Pastikan kita selalu mendampingi mereka bermain, kecuali memang mereka ingin bermain seorang diri. Btw, anak juga punya masa untuk bermain sendiri (aku lupa istilahnya), tapi selalu coba dampingi dulu di awal.

Buat teman-teman yang ingin mencoba, silakan baca-baca dulu pengalaman dari para pendahulu. Bahkan, aku juga mengikuti kelas daring yang berkaitan dengan hal ini. Yap, jadi ibu juga harus belajar kan? Termasuk belajar memberikan permainan yang bermanfaat untuk buah hati. Ada juga komunitas yang bisa kita ikuti, jadi kita nggak akan kehabisan ide permainan.

Jadi gimana, ingin mencoba permainan bertema di rumah? Atau mau berbagi pengalaman? Yuk coba ceritakan di kolom komentar, supaya ibu-ibu yang lain jadi punya ide bermain yang asyik di rumah.

Selamat mencoba ya, semoga ada manfaat dari cerita ini. Sampai jumpa di permainan selanjutnya :)


Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email