Nimas

Setiap Kita Adalah Pengabdi

2 comments
mengabdi untuk Tuhan
Desain : nimasachsani.my.id


Mengawali cerita kali ini, rasanya ada kenangan yang ingin saya bagikan untuk teman-teman semua. Semoga teman-teman nyaman membaca cerita ini ya.

2017, setelah tertunda cukup lama, akhirnya ujian komprehensif syarat sidang skripsi bisa saya laksanakan. Saat itu jadwal tes bersama pembimbing utama, beliau adalah dosen senior di fakultas kami. Dan, setiap mahasiswa yang dibimbingnya, pasti akan tenar di satu angkatan hahaha.

Saat itu, beliau menanyakan satu pertanyaan yang sangat sederhana namun tidak ada di ingatan saya. Saya tidak ingat pernah membaca materi itu. Belasan menit saya diam menyerah, dan akhirnya beliau memberi tahu di mana pertanyaan itu berasal. Kata pengantar. Iya, materi ujian komprehensif saya diambil dari halaman kata pengantar.

Beliau bilang “apa bedanya kamu dengan mahasiswa lain, jika kamu tidak membaca sesuatu yang lain?’. Siang itu, waktu berlalu lebih lama rasanya. Ada rasa tidak nyaman namun juga ingin tetap bertahan di ruangan itu.

Di akhir tes, beliau menutupnya dengan pernyataan yang sangat menggugah hati saya. “Seperti amanat pembukaan UUD 1945, mengantarkan ke gerbang kemerdekaan. Saya dosen, maka tugas saya adalah mengantarkan kamu ke gerbang kemerdekaan. Wisuda, kan? Tapi, kalau kamu merdeka tanpa bekal, apa kamu bisa bertahan?”

Kurang lebih begitu yang beliau katakan. Sepenuhnya saya setuju dengan beliau, untuk apa kita menyelesaikan studi namun hakikatnya tidak membawa apapun untuk terjun di masyarakat. Dari kenangan itulah, akhirnya tulisan tercipta.

Sinopsis Film Tanah Surga Katanya

Ada yang sudah pernah melihat film ini? Ini film lama, kalau tidak salah rilis tahun 2013. Seperti judulnya, film ini sedikit berkisah tentang keadaan negara kita tercinta -Indonesia-.

Film ini mengisahkan tentang kehidupan sebuah desa di daerah perbatasan, yang kebetulan semuanya juga terbatas. Termasuk pelayanan kesehatan dan pendidikan. Seorang guru datang, setelah setahun lamanya tidak ada kegiatan belajar mengajar.

Lalu disusul seorang dokter yang datang dari Kota, yang juga dituntut untuk bisa mengobati hewan. Yap, karena dia juga satu-satunya dokter di desa tersebut.

Ada Astuti, menjadi guru tunggal hingga susah payah mengajarkan lagu Indonesia raya. Lalu Anwar, dokter umum yang juga dituntut bisa mengobati hewan. Keduanya memberikan sumbangsih dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Keduanya mengabdikan diri, sebagaimana fungsi mereka di masyarakat. Jauh dari jangkauan teknologi dan hiruk pikuk, mungkin awalnya mereka terpaksa dan nyatanya mereka mencintai desa di batas negara tersebut. Film ini, adalah gambaran nyata bagaimana pengabdian di batas negeri.
Buat saya pekerjaan sempurna itu melibatkan otot, otak, dan hati. Tidak boleh ada yang ketinggalan - Saur Marlina Manurung (Butet Manurung), Pendiri Sokola Rimba
berbagi kebahagiaan
Desain : nimasachsani.my.id

Pengabdi Yang Mungkin Tak Dilihat Banyak Orang

Apa yang terlintas di benak teman-teman, ketika mendengar “pengabdi”? Apakah yang berlalu-lalang menggunakan seragam? Atau yang keluar masuk perumahan menggunakan kendaraan plat merah? Faktanya, tidak sesempit itu.

Banyak pengabdi hebat, yang bahkan dirinya tidak banyak dikenal.

Tokoh Pengabdi Masyarakat

Iman Usman

Siapa yang menyangka, jika pemuda kelahiran 1991 ini adalah pendiri organisasi pemuda non profit yang bergerak pada pemberdayaan masyarakat dan relawan sosial? Ada yang tahu Indonesia Future Leaders? Nah, organisasi ini adalah wujud baktinya sebagai seorang pemuda Indonesia.

Belva Devara

Nama ini mungkin tidak asing ya. Belakangan semakin dikenal karena kiprahnya di dunia pendidikan. Ruang Guru. Salah Satu inovasi dalam dunia pendidikan, yang manfaatnya sangat dirasakan banyak pihak. Tidak hanya memberikan kursus secara daring, namun juga banyak event daring yang bermanfaat bagi muda-mudi. Khususnya pelajar.

Anies Baswedan

Sepak terjang beliau dalam dunia politik, mungkin sudah banyak dikenal. Namun, tahukah teman-teman jika beliau adalah penggagas gerakan Indonesia Mengajar?

Lembaga non profit ini, banyak mengirimkan “pengajar muda”, ke daerah-daerah pinggir Indonesia. Seperti namanya, mereka fokus pada pendidikan adik-adik yang tidak seberuntung kita. Tidak tanggung-tanggung, pengabdian para relawan ini selama setahun, loh!

Jemi Ngadiono

Namanya mungkin terdengar asing, namun beliau adalah sosok dibalik Komunitas 1000 Guru. Komunitas ini, memiliki program travel and teaching. Yaitu mengajar di daerah pinggir Indonesia, yang diikuti dengan “jalan-jalan”. Tidak hanya pendidikan, namun komunitas ini juga memberikan pakan kebutuhan nutrisi. Jangan salah, sudah banyak artis papan atas dan influencer yang ikut bergabung dengan program mereka.

Saur Marlina Manurung

Satu lagi nama dan sosok yang tak banyak kita dengar namanya. Wanita yang lebih dikenal dengan Butet Manurung ini, adalah pendiri Sokola Rimba. Sokola Rimba adalah sebuah sekolah yang ada di tengah hutan. Tidak salah, memang di hutan. Sekolah gagasannya, merupakan lembaga pendidikan pertama yang berfokus pada masyarakat adat.

Mengabdi Setengah Hati?

Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti

Arti dari petikan kalimat di atas, kurang lebih, bahwa apa yang kita dapatkan selama menuntut ilmu, sudah selayaknya juga dibagikan pada banyak orang. Rasanya ini serupa dengan apa yang disampaikan guru saya.

Namun ada kisah lain, yang juga ingin saya bagikan. Beberapa waktu lalu, saya sempat bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Kebetulan, pembinanya saat itu seorang pendeta. Kami memanggilnya Pak Pras.

Sepertinya beliau tahu, jika saya setengah hati bekerja di sana. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu bilang “bekerja itu juga perlu pakai hati. Kalau kita pakai hati, pelan-pelan akan mencintai pekerjaan itu”. 2 tahun lebih saya berusaha mencintai pekerjaan itu, dan tiba-tiba beliau meninggal karena pendarahan otak.

Lalu saya sadar. Meskipun terlihat berbeda dalam banyak hal, saya juga mengabdikan diri dalam lembaga pendidikan tersebut. Mencintai anak-anak yang datang dan bercerita banyak hal. Bahkan, beberapa dari mereka rajin memberikan hadiah kecil khas anak-anak.

Mungkin latar pendidikan saya bukanlah sarjana pendidikan atau yang satu linier. Namun, saya punya kewajiban yang sama untuk mendidik mereka. Membagikan semua pengetahuan yang saya miliki untuk mereka.

Seorang murid laki-laki, saat itu usianya 4 tahun, pernah bertanya pada saya “kenapa miss Nimas jadi guru di sini?”. Tidak mungkin saya ceritakan jalan panjang itu. “Buat ketemu sama Feivel, dong”. Dia tersenyum, matanya sipit sekali. Menggemaskan.

Kalau dipikir-pikir, gaji saat itu memang tidak banyak. Tapi entah kenapa, ada rasa sayang pada anak-anak kecil itu. Rasanya egois jika saya hanya memikirkan gaji, namun mengabaikan hak mereka sebagai manusia.

Melihat mereka pandai berhitung, memahami apa cerita saya dan berdiri membawa piala penghargaan, ternyata cukup membuat bangga pada pekerjaan yang sering saya sembunyikan.

Kini, setelah resmi berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya merenungi banyak hal. Bahwa terkadang, untuk mengabdikan diri pada masyarakat kita tidak perlu modal besar. Karena usaha kecil yang kita lakukan secara berkelanjutan, sering kali membuah hasil yang mengejutkan.

Ilmu yang saya bagikan mungkin tidak banyak, tapi seringkali saya berharap jika hal itulah yang bernilai keikhlasan dan pahala di hadapan Tuhan.

Untuk Mendiang Bapak Prasetyo Budi

Terima kasih untuk semua nasehatnya

Untuk tetap berjuang dan bertahan

Juga mencintai pekerjaan saya

Bapak benar, mungkin secara materi gaji kami tidak seberapa

Tapi melihat anak-anak mendapat value atas pelajarannya

Melihat anak-anak tumbuh dengan pola pikirnya yang berubah

Juga melihat orang tua yang mau bersabar melihat anaknya tumbuh

Rasanya cukup membuat saya bangga mengenang semua itu

Bahwa kita juga telah mengabdi untuk pendidikan, dan pengetahuan

Kata bapak, pendidikan tidak selalu berakhir dengan pendidikan formal

Sebab lembaga eksternal seperti kita juga memberikan sumbangsih untuk anak-anak

Saya yang dulu sama sekali tidak nyaman

Kini bersyukur pernah menjadi pendidik di lembaga pendidikan tersebut

Terima kasih, sebab mengijinkan saya mendapatkan pengalaman yang tidak terbayangkan sebelumnya


Dari banyak tokoh yang menggagas gerakan nirlaba di atas, kita bisa menarik benang merah. Jika kita bisa saja berbagi manfaat atas pendidikan dan pengetahuan kita, tak peduli apa latar belakang pendidikan kita. Sebab mengabdi juga tidak selamanya menjadi aparat keamanan.

Apapun yang sedang kita tekuni saat ini, apapun pendidikan yang sedang kita selesaikan, seharusnya tidak membatasi kita untuk berbagi. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan? Di luar itu semua, kadang kita bergerak bukan karena mengejar untung, namun ada rasa yang tak bisa dijelaskan ketika apa yang kita berikan diterima dengan baik. Lelah dan jenuh pasti datang, namun ada semangat yang entah dari mana selalu menguatkan.

Selamat mengabdi untuk negeri, selamat berbagi dan merasakan kebahagiaan dari sisi yang tidak terduga :)



#BlogUnparPengabdian # LombaBlogUnpar


Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangkai kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

2 comments

Post a Comment