Genta Mengiring Kepergian Ibu

Tulisan ini teradaptasi dari perjalanan seoranng perempuan yang sampai hari ini masih menghembuskan nafas dan terus menjalani harinya (dengan perubahan seperlunya)
__________________________________________________

perkenalkan, namaku Genta dan aku perempuan. begitulah aku memperkenalkan diriku di banyak kesempatan, karena banyak yang menyangka jika aku adalah seorang laki-laki, hanya dengan mendengar namaku. genta berarti lonceng. ada banyak cerita di balik penamaan ini. satu yang sangat berkesan dan tidak rasional adalah karena ibuku suka dengan suara lonceng gereja. entah ada motivasi apa yang ibuku pegang, hingga ayahku sepakat memberiku nama genta. mungkin karena sagat mencintainya.

aku tumbuh seperti kebanyakkan anak seusiaku. aku bahagia dengan hidupku, namun semuanya berubah. bagaikan disambar petir di siang bolong. kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai, dengan alasan yang sampai saat ini tidak masuk akal bagiku juga keluargaku. ibu pergi meninggalkan kami: aku, ayah, dan 2 adikku.

kalut. aku tak tau harus berbuat apa, ayah tak lagu seperti yang dulu. hampiraku tak pernah melihatnya tersenyum, dan kini lebih banyak menghisap batang rokok daripada sekedar bergurau dengan anaknya.
kemudian adikku yang paling kecil, usianya baru 5 tahun, kami tak tau bagaimana harus menjelaskan keadaan ini kepadanya. tapi aku tau, dia tidak bahagia dengan perpisahan ini. dia sama seperti ayah, lebih banyak murung daripada bermain dengan temannya, lebih banyak melamun daripada menanggapi candaanku. bahkan ada satu waktu, ketika dia menanyakan padaku, kenapa bukan ibu yang mengantarnya ke sekolah. hatiku bgai disayat, air mata ini seolah ingin emngalir bebas.

keluargaku tak lagi sama. kini aku yang menggantikan peran ibu. aku ambil alih beberapa urusan rumah tangga. keadaan sedikit membaik, kami semakin terbiasa dengan kepincangan keluarga ini.

aku tak tau harus kemana membagi luka ini, bahkan aku tidak berpikir jika lukaku akan sembuh, atau sekedar terobati. aku menahannya, keluargaku membutuhkanku, aku tak bisa memasang wajah murung atau lelah meski hanya sesaat. 

aku berubah menjadi pribadi yang tegar, bahkan air mata tak aku ijinkan menetes. aku lonceng yang dulu terbuat dari cinta, namun kini terabaikan oleh cinta yang lain.
akulah lonceng yang diletakkan begitu saja, di atas tumpukkan bara. iya, aku terluka namun aku semakin kuat.
akulah lonceng, yang gema dentingku kini di dengar seluruh negeri. iya, karena akulah lonceng mereka - keluargaku.

aku mencintai ayahku, nahkan jauh sebelum "mereka" berpisah. aku tak melihat banyak sosok keibuan dalam diri ibuku, aku tak banyak melihat kedewasaan dalam sikapnya. sedang ayah, bagaikan gunung es yang tersembunyi di tengah lautan, tak pernah ada yang tau seberapa besarnya sampai kita menyelaminya dnegan keras.

aku mencntai keluargaku yang utuh ini. akupun mencintai ibu, yang melahirkan namun juga meninggalkan kami. aku mencintai ibuku, yang menyusui namun melepaskan kami.

aku tau, masih ada cinta di mata orang tuaku, masih ada kehangatan diatara keduanya. namun karena ego, ibu memilih pergi meninggalkan kehangata yang kami inginkan. ibu pergi dengan keyakinan dan pilihannya.

ah, aku menangis. aku ingat betul saat itu, ketika ibu memintaku mencari suami seperti ayah, dan jangan tumbuh seperti ibu. bukankah ibu masih mencintai ayah?

ayah, dia tetap tak banyak bicara. selalu menerima kedatangan ibu, selalu menginginkan perubahan ibu, dan kehangatan kasihnya selama puluhan tahun lalu. ayah selalu mencintainya, perempuan yang telah memberikan cintanya selama puluhan tahun namun dengan mudah beralih untuk cinta yanng baru.

ibu, pulanglah
ada cinta yang teralamatkan untukmu
ibu, pulanglah
ada makhluk kecil yang merindukan belaianmu
ibu, pulanglah
ada tawa dan luka yang ingin aku bagi denganmu
ibu, pulanglah
ada sosok tegar yang selalu menunggumu
ibu, pulanglaha 
ada kami yang sangat merindukanmu
ibu, pulanglah


17/02/16

Posting Komentar

0 Komentar