Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kehendak Semesta?

Waktu berlalu dengan cepat, entah kapan terakhir kali dia melongokkan kepalanya ke sela-sela jendela kayu kamarnya. Ya, dia masih asik berkutat dengan tumpukkan deadline yang pelan-pelan mengurungnya dari hingar di luar sana. Masih saja bersila pada kasur usang tak bersarung. Benar, matanya dirundung rindu yang teramat pada meja cafe di ujung persimpangan jalan depan.

Rindu? Ah benar. Dia bukan hanya berkutat dengan kertas-kertas di ujung meja kerjanya, namun juga sibuk dengan sebagian otaknya yang masih mengingat satu manusia di belahan lain bumi ini. Satu nama yang kemudian menjebaknya dalam perjalanan panjang berliku bernama "rindu".

Oke. Kita lupakan sebentar tentang tumpukkan-tumpukkan kertas yang mulai berdebu itu, mari ku kenalkan pada satu manusia yang kini merubah dunia asmaranya. Merubah seluruhnya.

Dialah pria, yang datang tanpa permisi namun mengetuk dengan apik. Pria yang dengan segala keindahannya telah berhasil mencuri hati wanita, termasuk Ara.

Bertahun-tahun Ara jatuh hati pada pria ini. Pada pria yang memberi kenyamanan untuk bersandar, untuk menjadikan dia apa adabya dan kekanak-kanakkan. Ya, pria yang menawarkan keromantisan kisah cinta sepanjang hidupnya. Pria yang selalu datang dengan kata-kata yang menyentuh dasar sanubari wanita. Juga pria yang nyatanya justru membuatnya menangis berulang kali.

Seberapapun Ara mencoba melupakannya, dia akan selalu datang dengan kejutan-kejutan yang menggetarkan hati. Namun tidak dengan kejelasan akhir perjalanan mereka berdua. Ara menyadari satu hal, yang dia butuhkan bukan hanya sekumpulan kata manis, bukan pula kue-kue manis atau kado bergaris. Dia hanya butuh komitmen. Kesediaan untuk membawa mereka berdua pada sebuah maghligai yang Tuhan ijinkan. Namun tidak dengan pria ini, semuanya menjadi tidak jelas bahkan terkesan semu.

Ara mundur, mengatur langkah teratur agar tak kembali pada kubangan yang kotor bersama pria ini. Siapa bilang mudah? Ara berkali jatuh dengan luka menganga di hati, bahkan kadang air mata tak berhenti seharian. Ya, tubuhnya baik-baik saja namun tidak dengan hatinya. Jiwanya koyak, terluka dan terabaikan.

Ara hanya berharap satu hal, Tuhan menyembuhkan setiap luka yang tertinggal di hatinya. Karena yang dia imani adalah, Tuhan itu Maha Penyembuh. Ara pikir, dia benar-benar telah jatuh cinta pada pria ini. Namun dia lupa, Tuhan tidak menumbuhkan cinta pada manusia yang tak mengikrarkan hubungannya pada sebuah janji suci. Cinta yang Ara pikir, adalah ujian Tuhan untuk meneguhkan hatinya.

Ara bangkit dan dia menyimpulkan bahwa dia "hanya terbiasa dengan keberadaan pria ini dan hatinya telah salah menilai rasa".

-----
"Ara, kau benar. Semesta bergerak sesuai kehendakmu, Tuhanpun bertindak sesuai prasangkamu dan setiap persangkaan itu tak pernah baik", kataku pada Ara.

Aku? Siapa aku? Aka adalah pikiran Ara.

^Semarang, 30 Agustus 2018^

#1

Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Kehendak Semesta?"