Bukan Tentangku - 2

Jika mata mampu menyerah pada lelah, maka tidak dengan hati. Seberapapun dia lelah dan sakitnya, dia tetap akan mencoba berjuang.

Sekar ~

Bagaimana mungkin aku jatuh hati pada dia? Ya Tuhan, dia bahkan lebih muda dari ku. Sepanjang malam, hanya itu yang menghantui bahkan hingga beranjak tinggi. Pertanyaan yang sama tak juga pergi.

Kuputuskan memutar semua drama korea yang sudah terunduh dengan lengkap siang tadi. Kupikir dengan melihatnya akan sedikit menenabgkan hatiku yang terus saja berisik ingin didengarkan. Namun, ternyata itu adalah satu kesalahan besar. Aku tenggelam dalam skenario mereka, sebuah kisah rekaan manusia yang kemudian membawa ijaminasiku sedikit nakal tentang pria itu.

Bagaimana mungkin kisahku akan berakhkir sama dengan drama ini? Ini hanyalah kisah dengan akhir yang diinginkan manusia, tapi tak ada campur tangan Tuhan.

Ku lihat jam pada layar laptop, segera kuambil ponsel dan mencari slaah satu kontak yang harus kuhubungi segera. Ah sial, nomornya tidak aktif. Kuulangi panggilanku, dan mesin penjawab memintaku meninggalkan pesan untukknya. Persetan dengan meain penjawab pikirku, ini lebih penting dari sekedar memencet kode-kode tertentu.

"Chinggai dimana? Ke burjo yuk."

Tak terkirim, tertunda lebih tepatnya. Kukirimkan lagi, pesan yang berbeda dan masih untuk orang yang sama.

"Chinggai. Bagaimana jika ku utarakan perasaan ini saja ? Bukankah Khadijah juga melakukan hal yang sama kepada Rasulullah? Aku tidak ingin berlarut-larut dalam ketidakpastian, sedangkan dia masih saja berada dekat denganku seolah tak ada masalah. Akupun harus siap denga segala kemungkinannya, termasuk ketika perasaanku tak berbalas. Chinggai, doakan ya."

Hingga larut malam tak ku dapatkan balasan darinya. Balasan yang kuharapkan menyetujui dan sekaligus menguatkan.

Sudah dua hari aku tak meninggalkan kamar, makanan diantar kurir sampai depan pintu kamar, untungnya. Aku seperti tak siap bertemu dengan dunia. Seperti tak siap menerima segala kenyataan yang akan terjadi. Ponselku berdering, salah satu notifikasi khusud yang membuatku segera membukanya.

"Sekar maaf aku tak menghidupkan ponselku beberapa waktu lalu. Bagaimana? Adakah yang bisa kubantu"

"Sudah baca pesanku seluruhnya?"

"Ya sudah"

"Pendapatmu, kumohon"

"Sekar. Benar ibunda Khadijahlah yang menyatakan perasaannya terlebih dulu pada Nabi Muhammad, tapi jangan lupa jika kerabat beliaulah yang menjadi perantara. Seharusnya setiap perempuan itu memilik rasa mau, termasuk untuk urusan ini. Saranku, tunggulah dulu. Satu atau dua hari sampai kau yakin jija itu bukan karena nafsumu semata"

"Aku ditolak. Ajakan ta'arufku ditolak"

"Nah itu dia yang kutakutkan. Nantinya kau akan malu jika bertemu dengannya. Betul? Terlebih kalian masih terikat satu project, intensitas kaliab bertemu tak akan merubah apapun. Maaf aku terlambat membalas pesanmu. Kuharap kau baik-baik saja"

"Tenanglah. Aku baik-baik saja. Namun benar katamu, aku malu. Sangat malu. Seharusnya aku tau, jika dia belum siap dengan pernikahan. Akulah yang terburu-buru mengambil keputusan"

"Sekar. Pernikahan itu bukan cuma tentang rasa suka semata, lebih dari itu kau harus pandai mengatur egomu, menempatkan segala hak dan kewajibanmu dengan benar, dan tuntaskan lebih dulu bakti pada papah mamahmu"

"Kau benar. Sepertinya memang harus segera kutambah ilmuku, termasuk darimu. Kita harus lebih banyak diskusi serius sepertinya"

"Kau selalu membuatku rindu. Tunggulah sampai nanti kita habiskan malam dengan obrolan yang ternyata tak penting sama sekali"

"Hahahaha, tak pentimg namun selalu ada pesan tersirat".

Dia tak lagi membalas pesanku. Aku tersenyum membaca pesan-pesannya. Pesan dari seorang teman yang layak kupanggil "kakak". Dia dengan obrolannya yang tidak penting selalu membuatku berdecak kagum, bagaimana tidak, dia mampu menyelipkan nasihat-nasihat untukku. Bahkan tak segan dia mengkritiku dengan caranya yang tak sekalipun menyakiti hatiku.

Termasuk kali ini. Dia juga benar, aku terjebak hawa nafsu untuk memiliki seseorang dengan mengatasnamakan pernikahan. Seharusnya aku mampu menjaga diri dan kehormatanku dengan  rasa malu. Bukan justru dengan mudah menyatakan jika keputusanku karena istikharah. Benar, aku tak lagi mampu membedakan mana logika dan nafsu. Kini akulah yang rugi dan sendiri.

"Pulanglah. Aku rindu padamu, juga sepiring nasi telur bersamamu".

Aku tak berharap dia membalas pesanku kali ini, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.

^bersambung^

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar