Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Surat Untuk Tuhan

Jika engkau menikah karena ibadah, maka apapun yang kau lakukan tak pernah ada keluhan.
Jika rumah tanggamu berdasar pada Islam, maka apapun yang terjadi rumah tanggamu akan tertuju pada Surga.
Karena rumah adalah surga bagi setiap pasangan yang menempatkan agama di atas segalanya.
****************************
"Pulang jam berapa nanti?"
"Jam 17 lebih sedikit, masih ada yang harus diselesaikan"
"Aku jemput ya. Jangan telat. Aku sudah ijin"
"Ya. Terimakasih sayang"
Begitulah obrolan kami, beberapa menit sebelum dia akhirnya datang menjemputku. Jarak tempat kerja yang jauh, dan melewati beberapa titik kemacetan tak menyurutkan semangatnya. Aku tau, diapun ingin memberikan yang terbaik padaku tanpa mengucapkan banyak kata-kata puitis. Di belakangnya, aku hanya bisa menatap haru pada sebidang punggung yang tentu sangat lelah hari ini. Sebidang punggung yang tentu sangat ingin direbahkan.
Alhamdulillah, kita sampai di rumah sebelum adzan maghrib. Lebih awal dari hari-hari biasanya.
"Aku sholat di rumah. Setelah ini kita berangkat"
Aku menganggukkan kepala, sembari menghabiskan sisa sandwich bekal hari ini, selalu ada bahagia ketika dia ikut menghabiskan bekalku.
18.00 kita berangkat. Lelah? Iya. Tapi ini harus segera kami tunaikan, sebuah janji pada diri sendiri.
21.30 akhirnya kami masuk ke rumah, sebuah tempat yang selalu menyaksikan bagaimana dia tak bosan menguatkanku. Sebuah tempat yang menjadi saksi bagaimana dia mengusahakan segala yang terbaik untukku.
Serangkaian proses pemeriksaan akhirnya selesai, dan dia selalu ada disetiap prosesnya. Mengantri berjam-jam di ruang tunggu yang tak terlalu nyaman, bolak-balik ke ruang dokter, pemeriksaan laboratorium dan termasuk mencari apotek untuk mengambil resep.
Aku tau, biaya yang dia keluarkan untuk proses ini tak sedikit. Dia harus mengambil lebih banyak budget dari tabungannya. Juga berarti kami harus lebih berhemat untuk beberapa minggu ke depan. Sepertinya, aku juga akan rela menghapuskan wishlist liburan dalam waktu dekat.
Entah sudah berapa kali aku menangis di depannya, dan sebanyak itu pula dia selalu menguatkanku. Adakah rasa ingin menyerah? Ada. Namun dia tak pernah membiarkanku jatuh, dia akan selalu mengajakku bangit dengan segala usahanya.
****************************
Tuhan
Terimakasih telah mengirimkan makhuk terbaik-Mu untukku
Tak banyak pintaku, tolong kuatkan dan lindungi dia sebagaimana Engkau lakukan paa orang-orang terdahulu
Tuhan
Maaf jika beberapa kali aku lelah, jenuh bahkan kecewa ketika berhadapan dengan kehendak-Mu
Karena memang, akulah hamba-Mu yang lemah
Tuhan
Aku mencintai laki-laki ini
Laki-laki yang tak pernah bosan menyeka tiap tetes linangan air mataku
Laki-laki yang tak pernah mengijinkanku jatuh 
Tuhan
Akupun menyadarinya
Jika tangan kita tak akan selamanya bergandengan di dunia ini
Salah satu dari kami akan menghadap-Mu lebih dulu atau Engkau panggil kami bersamaan
Tapi Tuhan, tolong satukan kembali kami sebagi sepasang kekasih yang abadi di surga-Mu kelak
Tuhan
Engkaulah tempatku berserah atas segala kehendak-Mu
Bukan tempatku menyerah dan menhyalahkan kehendak-Mu
****************************
Ku lihat dia sudah terlelap.
"Terimakasih untuk hari ini" bisikku.
- Semarang, 12 September 2018
****************************




#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Surat Untuk Tuhan"