Hadiah Untuk Ebi

Matahari baru saja meninggi, semburat emas tergores di ujung timur bumi. Beberapa awa masih bergumpal, seolah enggan untuk segera berpencar, memberi ruang sang matahari untuk menunjukkan dirinya. Namun ternyata kehidupan menginginkan sesuatu yang lebih, semesta memaksa kawanan awan menyingkir dan memberpisalan matahari beetengger di tempatnya. Hangat.

Di bagian lain bumi, seseorang masih saja menatap natap pada hamparan tanah luas yang hampir kosong. Masih ada beberapa gundukan bahan material, sisa dari penggusuran besar-besaran pemerintah, yang katanya untuk menormalisasi sungai. Rumah-rumah kayu yang dibangun di atas tanah pemerintah itu, dihuni ole ratusan puluhan kepala keluarga dengan ratusan warga berdiam disana. Beberapa regenerasi tumbuh disana.

Matanya melihat sekeliling, dia bahkan tak lagi ingat dimana rumahnya dulu berdiri. Sebuah rumah petak kecil dari kayu, denngan satu pintu dan satu jendela. Sebuah rumah yang ditinggali 7 orang: ibu, nenek, kakak, kakak ipar, keponakan, adik, dan dia. Bukan lagi sesak, bahkan mereka harus makan, tidur dan sesekali menerima tami di ruangan yang sama. Menonton televisi? Tidak. Mereka tak cukup uang untuk membayar tagihan listrik. Bagi mereka, bisa makan sehari 2 atau 3 kali sehari sudah cukup.

Mereka adalah keluarga pemulung. Dia, panggil saja Ebi. Seorang gadis kecil yang setia menemani ibunya menyusuri jalanan. Topi lusuh bergambar teletubies tak lepas dari kepalanya setiap hari. Dia mengekor di belakang ibunya, beberapa kali juga harus masuk dan tiduran di gerobak bersisihan dengan hasil pulungan. Hari-harinya selalu seperti itu. Termasuk hari itu.

Sepanjang jalan dia murung, tak mengindahkan perintah ibunya untul mengambil beberapa botol plastik yang tercecer di jalanan, sepertinya sengaja dibuang. Satu dua tiga kali ibunya diam saja. Namun, kini ibu marah padanya. Kesal, karena botol-botol itulah yang akan menyelamatkan kelaparan mereka di ujung petang nanti. Ebi diam, dan sejurus kemudian menangis.

"Aku mau naik bis" rengeknya.
"Ambil botol yang banyak, nanti ibu ajak naik bis"
"Setiap hari aku mengambil botol, tapi ibu tak pernah membelikanku tas sekolah, tak ada sepeda, tak ada baju baru. Ibu pembohong"
"Ambil botol yang banyak, nanti ibu belikan semuanya" ulang ibu menahan amarahnya.
"Apakah ibu akan berbohong lagi?"
"Tidak" jari-jari ibu yang terbungjus sarung tangan mengusap air mata Ebi, anaknya yang tak mengeluhkan lelahnya. Ibupun terluka hatinya melihat keadaan ini, seharusnya Ebi mendapatkan lebih asupan untuk tumbuh kembangnya. Ibu tersenyum melihat Ebi kembali riang, namun kantungnya terlihat sangat berat menahan air mata.

Matahari di ujung kepala. Ibu dan Ebi pulang untuk mengganjal perut, dengan makanan seadanya.
"Mbah, nanti ibu beli daging. Tadi aku ambil botol banyak, ada gambar kartun-kartun juga tadi. Mau dibawa pulang tapi dilarang ibu" gerutu Ebi. Nenek tersenyum mengusap kepala Ebi.
"Ndhuk, kan betul ibumu. Botol-botol itu jangan dibawa pulang, mereka yang menjatuhkan dijalan pasti akan mencari kalau tau botol mereka gambarnya bagus-bagus".
"Wah betul ya mbah".
"Nah, makanya Ebi bantu ibu kumpulkan botol-botol itu di rumah Pak Dirgo, biar mereka gampang carinya"
"Siap mbah, aku nanti mau bilang pakdhe Dirgo supaya botol-botol itu dijaga biar yang mau ambil carinya gampang". Nenek mengangguk, namun Ebi tak pernah tau, jika botol-botol itu sengaja dibuang pemiliknya, dan tak akan pernah diambil lagi di pengepul.

"Ibu kemana mbah?" tak dilihatnya ibu berlalu-lalang, Ebi resah.
"Beli beras mungkin" jawab nenek sekenanya.
"Mbah, naik bis itu mahal ya?"
"Kalau jauh ya mahal. Mau kemana kamu?"
"Mau ke Surga mbah. Kata mbak Da, bapak lagi nunggu kita di pintu Surga"

Nenek menangis. Dipeluk cucubya erat, sesekali mengusap punggung kecil Ebi yang masih terasa hangat karena paparan matahari.
"Mbah kenapa?"
"Ndhuk, kamu berdoa ya, semoga kita bisa ke Surga bareng bapak. Minta Mbak Da biar kamu diajarin sholat, ngaji juga ya"
"Berarti aku bisa ke Surga kalau aku bisa sholat dan ngaji mbah?"
"Iya ndhuk"
"Kalau aku ajak ibu, mbah, Sofi, Iyan Mbak Sari, sama Mas Endro boleh mbah?"
"Boleh ndhuk, boleh. Gusti Allah itu baik hati"

Ebi mengacungkan jempolnya. Pintu terbuka, suaranya berderit, gesekan antara pintu dan lantai semen terdengar mengganggu.

"Ibu" teriak Ebi
"Ndhuk, kita naik bisnya lain kali ya"
"Katanya ibu tidak akan bohong" Ebi menangis seketika, berlari dan memeluk nenek.
"Lihat ibu bawa apa itu" bujuk nenek. Ebi diam dan menengok, Ibu dan nenek kompak tersenyum. Ebi berjalan gontai menghampiri ibu. Dilihatnya barang bawaan ibu lekat-lekat, tidak tau apa yang harus dilakukannya.

"Bawa ini ke Mbak Da, minta diajarin. Biar kamu bisa bawa kita ke Surga ketemu bapak ndhuk" ibu meneteskan air mata bersamaan dengan lengkungan senyum yang terkembang sumringah.
"Itu namanya Iqro' ndhuk, kamu belajar ngaji pakai itu nanti" ibu manambahkan.
"Bi, iqro' itu lebih mahal daripada bayar bis" sambung nenek. Ebi masih diam tak bergeming, memandangi buku kecil di tangannya, sesekali dia membuka lembaran-lembaran perlahan.

"Berarti Ebi sebentar lagi ketemu bapak ya? Kan Ebi sudah punya iqro?" tanyanya polos. Ibu dan mengangguk dalam haru.

Ebi, dipundaknya kini diletakkan amanah besar. Sebuah amanah yang diharapkan akan membawa mereka pada perjalanan panjang berujung keabadian. Ebi, sebuah hadiah kecil dari Tuhan untuk keluarganya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar