Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Baiknya Allah

Ketika Tuhan sudah berkehendak, tak ada manusia yang mampu menahannya, termasuk aku.

********************************
28 Juni 2017

Setelah pagi-pagi ikut ke pasar, kini dalam hitungan menit harus kesana lagi. Ibu memutuskan akan membeli sebuah bakul nasi baru, beberapa sendok sayur baru, dan perabot rumah tangga lainnya. Tak berselang lama, ibu mengajakku ke catering langganannya, akulah yang menentukan pilihan menunya. Sorenya, kembali bersama ibu ke rumah paman, menyampaikan sebuah berita besar, jika besok pagi ibu akan ada acara dan butuh paman sebagai pendamping. Ya, ayah sudah lebih dulu dipanggil Allah ta'ala.

********************************
29 Juni 2017

Rumah sudah ramai sejak pagi tadi, ruang tamu kini kosong. Jam 13.00, tamu yang kami tunggu datang.

Duduk melingkar sudah menjadi budaya ketika ada acara di rumah. Bersebelahan dengan ibu dan kakak perempuanku, tak kuasa ku angkat wajahku, rasanya panas.

" ... jadi kami kesini, mau mengantarkan anak kami yang katanya mau melamar. Tapi saya juga tidak tau siapa yang akan dilamar" seloroh seorang pria setengah baya yang tak ku kenal. Semua tertawa, dengan guyonannya.
"Siapa namanya nang?" tambahnya.
"Nimas pakdhe" seorang pria yang dulu ku sebut teman, kini datang melamar.

Satu persatu sambutan telah disampaikan, saling memuji dan merendah. Hingga sebuah keadaan memaksaku bersuara.

"Ya saya mau tanya dulu sama Rizal keponakan saya ini, apa sudah mantap mau melamar Nimas? Jangan-jangan Nimas sudah dilamar orang?" kembali tawa pecah diantara kami. Sebuah usaha mencairkan suasana hatiku yang terbilanh sukses.
"Ya kalau saya sudah yakin pakdhe insya Allah, sudah istikharah juga. Kemarin sudah tanya, alhamdulillah Nimas belum ada yang melamar. Kalau diijinkan saya akan menikahi Nimas juga" jawabnya sumringah.

Ketika seorang pria datang niat karena Allah, maka diapun akan mendapatkan kita dengan cara terhormat.
Pun sebaliknya, ketika kita menerima seorang pria dengan terhormat, diapun akan menerima penghormatan.

"Saya juga tidak tau, apa Nimas ini keponakan saya mau menerima mas Rizal atau gimana. Gimana ndhuk kamu? Diterima nggak ini mas Rizalnya?" tanya paman.

Aku hanya mampu menganggukkan kepala dengan senyum tersembunyi di balik wajahku.

"Alhamdulillah" kulihat beberapa orang mengusapkan tangan ke wajahnya. Aku menyadari satu hal, jika aku telah menentukan cerita baru dalam hidupku.

Suasana semakin cair. Di tengah-tengah perjamuan makan, ku kihat ibu dan "calon mertua"ku asing berbincang. Aku terharu melihat pemandangan ini. Sebuah peristiwa yang tak kusangka akan begitu mudah ku lalui, semoga Allah selalu melindungi kami. Sepertinya mereka akan segera berpamitan.

"Kami sebenarnya masih mau melanjutkan makan siangnya tapi takut nanti terlalu malam sampai rumah. Jadi kami pamit dulu, terimakasih untuk hidangannya ini". Kembali kami tertawa, sepetinya tawaku lebih ringan daripada sebelumnya. Aku masih saja tak berani melihat dia.

"Sebelum pulang, ada yang mau kami serahkan. Ya istilahnya sebagai tanda kalau mbak Nimas sudah dilamar Rizal. Biar nggak ada yang melamar mbak Nimas lagi, dan kalau ada yang melamar jangan diterima ya mbak, kasihan keponakan saya nanti" tambahnya dengan sedikit kelakar. Untuk kesekian kalinya kami tertawa.

Sebuah kotak akrilik transparan mendarat di hadapku. Sebuah cincin ku lihat. Pandangan semua orang tertuju padaku. Aku masih menundukkan wajahku ketika ibu menyerahkannya padaku. Ibu memeluk dan mengusap kepalaku.
"Barakallah ya ndhuk" bisiknya.

********************************

Sabtu, 2 September 2017 jam 13.00 kami resmi secara agama dan hukum sebagai sepasang suami istri.

********************************
Sebuah perjumpaan yang telah diatur Allah sedemikian rupa
Cara Allah menggerakkan kami, sungguh sangat mengharukan

Beberapa kali mungkin kami patah, karena itulah cara Allah menjaga kami
Hingga kemudian Allah datangkan sebuah nama, yang kemudian berikrar menjadi yang pertama dan terkahir, bersama di dunia dan di Surga

Allah terimakaaih ataa suruh kebaikanMu
Mengatur setiap waktu yang akhirnya mendewasakan kami, sebelum akhirnya kami bertemu

Allah terimakasih
Telah menjadikan kami pasangan halal

********************************


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

>
Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Baiknya Allah"