Pensiunan

Pagi ini ku pilih duduk di teras rumah, masih bisa kuhirup bau asap sisa pembakaran sampah shubuh tadi. Matahari sepertinya enggan beranjak terlali cepat dari peraduan, sinarnya pudar bersama dengan gumpalan awan-awan kelabu di beberapa tempat.

Sebuah pohon mangga tua ku biarkan berada disana, bukan saja untuk ku nikmati buahnya namun juga ikut merasakan rindangnya di tengah hari. Ah benar, ini sudah musim penghujan. Seharusnya sudah bisa kupetik buah-buah itu sebentar lagi, bayangku.

Tak ada hal signifikan pagi ini. Aku hanya melihat tukang sayur yang menjajakan dagangan berikut berita yang ditinggalkan ibu-ibu sebelumnya. Ya, karena gosip  salah satu penglaris paling mutakhir untuk mereka saat ini. Lumayan, sambil tawar-menawar harga, sambil pilih-pilih sayuran juga sambil membicarakan urusan rumah tangga orang lain. Ah, aku tak tertarik.

Namun satu yang membuatku rindu, lama sudah tak ku dengar suara petugas pos. Dulu, ketika usiaku masih belia, yang sangat kutunggu-tunggu adalah ketika pak pos datang dengan beberapa amplop ditangannya. Benar, aku salah satu yang terjangkit virus sahabat pena. Ada bahagia ketika kulihat nama-nama mereka tertulis dengan rapi di muka amplop, oh beberapa juga mengetikkan namanya dengan mesin ketik.

Mencoba mengenang masa lalu di era digital seperti ini adalag salah satu kepuasan yang tak mampu ku uraikan partikelnya. Manusia saat ini, menyebut para muda-muda dengan istilah generasi milenial. Mereka adalah anak muda yang lahir di tahun 2000an, begitu kalau aku tak salah mendeskripsikan. Tapi memang, para muda-mudi ini sudah punya budaya yang berbeda. Banyak pergaulan dan kebiasaan yang sangat berubah. Salah satu yang aku rasakan juga adalah bagaimana cara komunikasi zaman ini.

Surat menyurat tak lagi tenar, itulah kenapa tak lagi sering kuterima amplop-amplop dari petugas pos. Karena gawai, sebuah alat komunikasi yang kurasa cukup canggih telah menggantikan kemampuan telegram bahkan surat. Gawai ini datang dengan menawarkan segala kelebihannya, bukan hanya mampu menjadi media komunikasi, namun dia juga mampu membantu transaksi jual beli.

Ah, sepertinya anak cucuku sangat menyukai perubahan zaman ini. Kuseruput kembali kopiku. Kunikmati tiap butiran kopi tak tergiling dengan baik. Benar, aku menggilingnya sendiri. Entahlah, tapi aku tak merasakan kenikmatan dalam bungkusan-bungkusan itu.

Penjual sayur itu masih setia melayani ibu-ibu yang datang dengaaan daster andalannya,  juga sesekali menimbali obrolan-obrolan mereka dengan. Karena kadang, tukang sayurpun mampu menjadi mediator juga moderator diantara ibu-ibu.

Angin semilir berhembus, menggoyangkan dedaunan yang berada di pucuk-pucuk pohon manggaku. Sepertinya ada seeokor ulat kecil yang terjatuh. Kurasa dia tak mampu mengait dengan kuat pada lembaran daun muda itu. Atau dia sudah terlalu tua sepertiku untuk bertarung melawan tiupan angin.

"Pak ayo sarapan" ujar anak bungsuku dari balik pintu.
"Ya sebentar, kopinya belum habis ndhuk" balasku terkekeh sambil menyesapi pelan-pelan kopiku.
"Ibu buat nasi urap buat mbah kakung, ayo makan sama Aya mbah" cucuku menarik lenganku.

Aku beranjak. Aku selalu kalah dengan cucuku, mereka punya senjata yang mampu melawan seluruh pertahananku. Terlebih nasi urap, dulu mendiang istriku begitu rajinnya membuatkan itu untukku. Ku tinggalkan gelasku yang kosong, dengan sebuah tanya yang kubiarkan melayang di benakku.

"20 tahun lagi, apalagi yang mampu generasi ini tinggalkan untuk cucuku kelak?"

#onedayonepost
#ODOPbatch6
#tantanganODOP1

Posting Komentar

0 Komentar