Bukan Tentangku - 1

A real love is tested after marriage, and thats's the meaning of true love- Hanum Rais

*****************

Kemuning~

Pada satu siang, dia memutuskan memesan sebuah tiket kereta api. Memilih sebuah perjalanan seorang diri dengan jarak cukup jauh, dengan beberapa lembar uang tunai dan sejumlah saldo yang dirasa bisa menjadi cadangan, dia bertekat berangkat siang itu juga.

Duduk di sebelah jendela dan selalu seperti itu. Baginya, jendela punya sisi romansa yang tak banyak orang tau. Matanya tak lepas dari genangan air yang menutupi hampir sebagian besar lahan persawahan. Mulutnya diam, jari saling mengait satu sama lain. Bukan lantaran dingin yang menusuk namun karena gundah yang tak kunjung usai. Matanya terus saja menyisir tepian pematang sawah yang tergenang, juga perumahan-perumahan yang sebentar lagi mendapat air kiriman itu.

Dia mencoba memejampkan mata setelah beberapa saat melihat layar ponselnya, dan dimasukkan kembali ke saku jaketnya. Otaknya masih saja bekerja dengan liar bahkan ketika mayanya terpejam rapat. Ada seseorang yang kemudian duduk di sebelahnya. Seorang ibu paruh baya selidiknya dari sudut matanya yang terpejam. Sedikit dia menggeser tubuhnya, untuk memberi ruanh si ibu agar mampu mengistirahatkan lelahnya, sebentar.


"Turun mana mbak?" tanya si ibu ramah ketika dia benar-benar terbangun dari tidur rekayasa semula. 
"Jatinegara bu. Kalau ibu?" tanyanya balik dengan meninggalkan satu senyum di ujung percakapan.
"Wah jauh ya. Ibu turun di Prujakan mbak. Cirebon."
"Oh, jenguk cucu ya bu?"
"Rumah ibu di sana kebetulan. Cucu ibu dibawa orangtuanya jauh-jauh. Ada yang di Palembang, Malang, anak terakhir malah kerjanya di Jayapura mbak"
"Ibu berdua dengan suamikah?"
"Bapak sudah wafat 24 tahun yang lalu, waktu anak ketiga ibu baru usia setahun mbak." Sang ibu nampak tegar dan baik-baik saja.
"Innalillahi. Maaf bu saya tidak tahu."
"Wah, ibu sudah biasa dengan pertanyaan seperti itu mbak. Tenan saja, ibu tidak akan menangis di kereta ini."
Mereka berdua terkekeh. Beberapa jam kemudian, obrolan mereka semakin akrab. Hingga stasiun akhirnya meminta mereka berpisah.

"Ibu turun dulu ya mbak. Hati-hati ya mbak. Oh ya, silahkan mampir kalau lagi ke Cirebon, rumah ibu kebetulan tidak jauh dari sini jadi mudah dicarinya." Sang ibu menepuk pundaknya dengan kasih.
"Ada nomor yang bisa saya hubungi kah? Siapa tahu Allah akan menggerakkan saya ke rumah ibu," pintanya sembari menyodorkan ponselnya. Sang ibu tersenyum dengan sebuah anggukan yang tulus.

Bu Rahayu Cirebon. Begitulah dia menamai kontak barunya. Kemudian dia tersenyum dan kembali menyimpan ponselnya. Namun sebuah pesan singkat masuk, sebuah pesan yang memaksa dia untuk memberikan sedikit perhatian sebelum dia benar-benar melupakannya.

"Maafkan abang. Jika abang salah, tolong katakan dimana salah abang. Adek jangan diam seperti ini. Keluarga kita sudah tahu rencana besar ini. Bagaimana jika abang ketemu ibumu lagi minggu depan? Dek, tolong jangan batalkan rencana pernikahan kita." 

"Besok pagi akan saya kirimkan cincin yang sudah diberikan pada pertemuan diwaktu yang lalu. Maaf dan terimakasih" balasnya.

"Adek dimana sekarang? Abang jemput adek, abang mau bicara dengan adek."

Ponsel dimatikan, setelah sebelumnya menambahkan nomor tersebut pada daftar kontak yang diblokir.
Matanya kembali terpejam, namun kali ini ada sebuah genangan yang mengkilap di kedua ujung matanya. Dia tak berusaha menahannya, setiap tetesan membasahi kerudungnya perlahan. 

Aku ingin hilang, batinnya.


^bersambung^



#komumitasonedayonepost
#ODOP_6



Posting Komentar

0 Komentar