Catatan Untuk Pejuang

Ku tulis ini sepulang dari rumah sakit pagi tadi, sebuah catatan kecil yang menjadi renunganku. Sebuah catatan tentang "perjuangan".

**********

Ku sadari, bukan aku saja yang sedang berjuang di dunia ini. Jauh di sana, aku yakin ada jutaan manusia yang sedang berjuang dengan lebih keras dibandingkan diriku.

Jika saat ini aku harus bangun pagi-pagi dan mengantri di bangku antrian pasien, pastilah di sana ada yang sengaja tak tidur demi kelancaran usahanya. Jika pagi-pagi aku harus berkejaran dengan waktu demi tak ketinggalan bus, tentu di sana ada yang memilih tak pulang demi selesainya satu pekerjaan.
Jika aku harus menghabiskan ratusan ribu untuk sekali melakukan medical chek-up, aku yakin disana ada yang rela berhutang untuk kesehatan mereka.
Jika aku harus mencari informasi dari berbagai media tentang keadaanku, pastilah disana ada yang memilih tinggal di rumah sakit demi membaiknya kesehatan.
Jika saat ini aku mampu menjalani serangkain pemeriksaan kesehatan, tentulah ada yang sedang berduka karena tak ada lagi yang bisa diupayakan.

Betul. Setiap manusia akan diberikan cobaan. Setiap manusia akan mengalami fase terendah dalam hidupnya.

Ibaratnya seperti ini, Tuhan ciptakan Semut dan Gajah tentu dengan kemampuan yang berbeda. Apa yang dibawa semut adalah sebutir gula pasir, sedang yang dibawa gajah pastilah sebongkah batang kayu yang besar. Tak mungkin semut mampu membawa bongkahan kayu, dan tak etis pula jika gajah hanya membawa sebutir gula pasir.

Karena Allah mencukupkan setiap kebutuhan dan kemampuan makhluknya.

Kemarin mungkin aku tersandung dan jatuh. Beberapa luka juga masih membekas sampai saat ini. Juga air mata sesekali kuseka ketika hati ini kembali tergores. Karena kemarin aku benar-benar lemah, seolah tak pijakan yang kuat untukku. Seolah akulah manusia paling sial di dunia ini. Juga beberapa kali, aku merasa iri dengam keadaan saudaraku. Menyalahkan Tuhan? Tidak. Aku hanya menginginkan apa yang orang lain punya.

Namun pagi itu, Tuhan seolah menamparku. Ternyata ikhtiarku bukan apa-apa dibandingkan mereka. Banyak yang jauh lebih sering menangis daripada diriku. Banyak yang berkali-kali jatuh dibanding diriku. Aku? Aku hanya semut kecil yang melihat perjuangan singa di ladang tandus, mereka lapar namun tak menyerah.

Sudah kutanamkan pada diriku sejak hari itu, seberapa besarpun biaya yang harus ku keluarkan, sebera sakitnya setiap proses yang ku jalani, sebera banyak air mata yang terjatuh, semua disaksikan Tuhan. Benar aku lemah, karena begitulah hakikatnya manusia. Namun setidaknya aku tidak diam dan meratap dihadapan Tuhan.

Tuhan, lihatlah usahaku ini. Aku sedang mencoba menerima segala ketentuanmu, tolong kuatkan aku.



Semarang, 8 September 2018

**********







#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar