Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Setiap Persimpangan

Semarang bukan hanya tentang lalu lalang angkutan barang atau manusia lintas provinsi, bukan juga tentang megahnya Lawang Sewu yang kini menjadi salah satu ikon wisata Ibu Kota Jawa Tengah ini. Namun Semarang juga tentang perdaban kehidupan, perputaran kisah sejarah ratusan tahun silam.

Gedung bertingkat dengan belasan bahkan puluhan lantai telah menjadi sampil jalan-jalan protokol kota Semarang. Datang ke kota ini 6 tahun lalu, tak membuat kota ini kehilangan romansanya.

Setiap persimpangan jalan memiliki kisahnya sendiri. Simpang Lima, salah satu persimpangan terbesar di Semarang. Setiap hari melewati jalan ini, membuatku menyaksikan sepenggal cerita di tiap paginya.

Seperti seorang kakek tua, yang selalu berhenti di depan Hotel Ciputra dengan sepeda hitam lusuhnya. Setelan celana dengan kemeja atau kaos yang warnanya telah pudar, juga topi kumal menjadi outfit andalan sang kakek. Beliau seorang penjual makanan ringan dan minuman, sepedanya berubah menjadi warung berjalan. Ada iba ketika melihatnya, bagaimana tidak, sepeda itu mengangkut beban yang sangat berat, terlebih lagi dikemudikan oleh seorang kakek yang kuyakin usianya lebih dari setengah abad.

Belum lagi hiruk pikuk di Jalan Pandanaran. Siapa yang tak kenal Tugu Muda? Monumen yang dibangun atas sejarah perjuangan warga Semarang melawan kolonial. Tepat di persimpangan ini, ada seorang nenek penjual surat kabar. Usianya sungguh tak lagi muda, bahkan sesekali dia harus menopang tubuhnya dengan sebilah tongkat ketika menawarkan dagangannya. Kulit coklat gelap, mata sayu dan keriput di banyak bagian, seolah mengisyaratkan betapa inginnya dia beristirahat.

Sedikit ke timur, jalan Imam Bonjol. Salah satu jalan dengan jajaran kantor-kantor pemerintahan bertengger di tepian jalannya. Beberapa di renovasi, namun tidak juga meninggalkan perjuangan para pengais rupiah. Seorang penjaja manisan buah dan asinan setiap pagi lewat jalan ini, jam 08.30 biasanya si bapak lewat.

Tubuhnya kurus. Setiap pagi mendorong gerobak kayu besar, berisi toples-toples kaca beling. Sebuah handuk pitih kecil selalu melingkar di lehernya, juga topi. Kakinya beralas sepatu hitam. Beliau berjalan menyusuri tepian jalan, beriringan dengan kendaraan-kendaraan besar. Sesekali nampak dia menyeka peluh dengan handuknya. Juga pernah ku lihat, beliau duduk sebentar di depan sebuah ruko kosong, mungkin menunggu pembeli atau sekedar beristirahat.

Semarang pagi hari, bukan hanya tentang beradu dengan jalanan untuk sebuah hidup. Namun juga empati yang berhambur bersama debu-debu jalanan.

#tantangan
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Kisah Setiap Persimpangan"