Senandika "Menyelesaikan Hati"




Sebagian orang memilih mengisahkan penggalan kisah hidupnya di dunia maya. Hingga pada akhirnya, dunia maya layaknya kumpulan arsip dengan beragam kisah. Lalu pertanyaannya, apa yang membuat mereka melakukannya? Membiarkan kisahnya tersebar, hingga memunculkan bermacam asumsi?
Karena ternyata, mereka membutuhkan ruang untuk menyembuhkan luka dan menyalurkan bahagia. Writing for healing.
Sebab, banyak luka yang tak tampak, namun bekasnya tak kunjung hilang sepanjang hayat.

***

Pernikahan yang tinggal hitungan hari mendadak dibatalkan sepihak, lamaran yang dikembalikan, penolakan keluarga, tumpukan kata manis namun tak berujung akad, adalah beberapa contoh dari kisah-kisah yang mewarnai perjalanan sebelum seseorang menikah, termasuk saya. Tidak semua pernikahan berawal dengan luka. Namun merenungi setiap pengalaman adalah cara terbaik untuk mengasah empati.

Berharap menikah sebelum wisuda, nyatanya tidak semudah yang diceritakan para selebgram atau seindah barisan diksi para penulis buku best seller. Sedang ketika keinginan itu semakin membumbung, justru yang "datang" adalah mereka yang kelak mengijinkan saya belajar banyak darinya.

"Mau nunggu 3 tahun lagi nggak? Aku harus kumpulin tabungan dulu buat nikahin kamu".
"Boleh ke rumah nggak? Insya Allah setelah lebaran nanti mau silaturahim ke sana".
"Kamu mau batalin proses ini? Aku bakal sebar semua aib kamu".

Adalah sebagian kalimat yang saya ingat. Sungguh, ketika itu keinginan untuk segera menikah sudah sangat. Namun ketika dihadapkan pada kalimat demikian, nyatanya saya mampu berpikir dengan logis. Benar, karena pada dasarnya menikah juga tentang kematangan pola pikir kita. Bukan hanya nafsu.

Karena bagi saya, menikah adalah membentuk peradaban, bukan sekadar menggugurkan syahwat.

Ketika saya telah memutuskan untuk ingin menyegerakan pernikahan, maka sudah wajib bagi saya untuk menghindari hal-hal yang tidak pasti, seperti kalimat di atas. Akhirnya, saya yang lebih memilih mundur perlahan, bukan tiba-tiba hilang seperti bocah.

Ingat, menyegerakan itu berbeda dengan terburu-buru. Dimana letak bedanya? Pada kesiapannya.

Di tengah masa-masa mematangkan keinginan untuk menikah, saya sibukkan diri dengan berbagai kegiatan, termasuk tergabung dalam komunitas keagamaan dan mengurus kelengkapan administrasi beasiswa magister. Tuhan temukan dan kenalkan saya pada lebih banyak karakter manusia.

Hingga pada satu hari, ada seorang yang membuat saya berdecak kagum.
"Lagi proses nggak? Kalo nggak, aku ajak ta'aruf. Kapan bisa ke rumah buat ketemu orangtuamu?", katanya.

***

‌Maka kemudian, Senandika "Menyelesaikan Hati" saya tulis untuk healing pada diri saya sendiri, dan bukan untuk menggurui siapapun. Menuliskan pengalaman pribadi, sama dengan menjaga kenangan dan pembelajaran. Karena seperti kebanyakan orang di luar sana, saya pun butuh media menyembuhkan luka lama dan penguat atas lelahnya menanti.
Sekali lagi, tidak semua pernikahan diawali dengan kisah pilu, namun setiap pernikahan sudah selayaknya memberikan kebahagian bagi pelakunya. Karena pernikahan adalah episode panjang dalam kisah hidup setiap manusia.




Posting Komentar

8 Komentar

Aiysdays mengatakan…
Setuju kak. Pernikahan itu harus kesiapan yang matang bukan terburu-buru. 👍 Sukses ya
maria8181 mengatakan…
Keren mbak..ga sabar nunggu bukunya
Lutfi Yulianto mengatakan…
Aaaawwwhh :-( terharu bacanya.
Saya setuju bangettt. Menikah itu membentuk peradaban. Jadi harus dipersiapkan dengan matang.
Maksud saya bukan persiapan di hari akad dengan persiapan yang wow, tapi persiapan untuk kehidupan setelahnya ...
Nimas Achsani mengatakan…
Betul, pernikahan bukan cuma resepsi mewah megah
Nimas Achsani mengatakan…
Wah terima kasih :)
Nimas Achsani mengatakan…
Suskes untuk kita semua ya ka :)
Sakif mengatakan…
Jadi, sambil berusaha 'menyelesaikan hati' tetap harus fokus dengan apa yang sedang dihadapi...hiks, bakal jadi buku penuh makna ini... Semangat, yakin selesai on time.
Agung Betariko mengatakan…
Semoga berkah mbak, amiinnn