Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

23 Jam


Kontraksi?
"Rasanya kayak tahan buang air besar di jalan tol terus lagi macet"
"Sakit banget pokoknya"
***
Sedang dalam KBBI, Kontraksi diartikan sebagai penegangan; pengerasan; penguncupan. Lalu bagaimana dengan kontraksi dalam kehamilan? Kontraksi ini ternyata adalah rangkaian proses yang berlangsung secara berkala pada otot rahim. Otot rahim sendiri, merupakan otot terbesar dalam tubuh wanita. Penyebab munculnya kontraksi ini didasari pada pelepasan hormon oksitosin. 

Beberapa literatur menyebutkan jika kontraksi menjelang persalinan merupakan kram pada otot rahim, yang dimulai dari bagian belakang (tulang punggung) hingga ke depan (rahim). Kontraksi ini sendiri, sangat beragam sensasinya pada setiap wanita, namun tentu saja mereka melalui proses yang sama, yaitu proses terbukanya serviks untuk membantu si janin melalui jalan lahir. 

Sebagian besar wanita berasumsi, jika kontraksi menjelang persalinan sangatlah menyakitkan. Hingga tak jarang, sebagian dari mereka hilang kendali hingga berteriak, bahkan mencakar suaminya. Benar, reaksi setiap orang akan berbeda pada "rasa" yang nilainya sangat subyektif. Lama durasinya pun berbeda. 
Ketika usia kandungan memasuki minggu ke 36, saya telah bersiap akan datangnya tanda cinta dari si janin. Saran dari dokter maupun bidan saya ikuti, salah satunya yakni power walk. Di salah satu pagi, di tengah perjalanan. Saya merasa ada cengkeraman kuat di perut saya, seluruh bagian perut. Akhirnya saya putuskan untuk segera pulang dan segera istirahat. 

"Dek, kalau mau lahir weekend aja ya. Tunggu ayah juga. Biar kita bisa ditemeni ayah". Salah satu kalimat yang selalu saya ucapkan di berbagai kesempatan. Karena saya yakin, setiap janin itu cerdas. Meski dia berukuran kecil dan tidak terlihat, tapi percayalah dia mampu mendengar dan merasakan apa yang terjadi di luar rahim. Terlebih pada komunikasi dengan ibunya. 
     

Kamis, 24 Oktober 2019
Seperti biasa, pagi itu saya sedang berjalan pagi sembari belanja sayuran. Teringat pesan dokter, jika pekan ini adek bayi tidak juga memberi tanda kelahiran, maka saya akan dirujuk untuk pindah ke rumah sakit. Hari itu, adek bayi masuk usia ke 38 minggu. Usia kandungan yang cukup matang untuk kelahiran. 

Di tengah jalan, perut kembali terasa "kencang". Saya sadar betul jika itu adalah kontraksi. Saya usap perut, memperlambat gerakan dan mengatur nafas sebaik mungkin. Saya ingin memberi kenyamanan pada janin kecil itu. 

"Gimana? Adek udah mau lahir ya? Nggak apa-apa. Kalau adek mau lahir, lahir aja. Ayah sama ibu udah pengen ketemu sama adek. Udah pengen main sama adek. Nanti, adek kasih tanda ya, biar ibu bisa siap-siap dulu". Saya ucapkan dengan perlahan, keringat mulai bercucuran, saya putuskan segera pulang. 

Tibanya di rumah, saya istirahatkan badan terlebih dulu. Menghidrasi tubuh, seperti saran dokter. Tidak boleh kekurangan cairan ketuban. Setelahnya kembali memulai yoga hamil seorang diri di rumah. Demikianlah rutinitas saya di pagi hari. 
Hari itu, saya sempat membuat sebuah pesan untuk si janin. Sebuah kenangan, yang kelak dapat dia kenang, jika dia dulu hanya berupa kantung yang sangat kecil dalam rahim seorang wanita, sebelum kemudian menjadi manusia besar yang bermanfaat. Aamiin aamiin 

Jumat, 25 Oktober 2019
Tidak ada rutinitas pagi yang berubah. 
"Aku lembur ya. Kamu nggak apa-apa sendirian? Kalau udah selesai, aku langsung pulang". Pesan yag dikirimkan suami, disela kesibukan dia. Saya sangat maklum, bahkan dia telah bergelut dengan kesibukan yang demikian sejak sebelum menikahi saya dua tahun yang lalu. 


Sabtu, 26 Oktober 2019
02.00 WIB
Semenjak hamil, siklus tidur saya berubah. Salah satunya adalah sepanjang tidur malam, saya akan terbangun beberapa kali, untuk buang air kecil, minum, mengubah posisi punggung atau sekadar meminta dipeluk lagi. Malam itu saya terbangun karena perut yang terasa tidak nyaman. Namun untungnya, tidak lama setelahnya saya kembali terlelap. 

03.00 WIB 
Kembali terbangun. Kali ini rasa tidak nyaman telah berubah menjadi lilitan kencang di perut. Ah, jangan-jangan ini kontraksi! Beberapa hari sebelnya, saya telah mengunduh sebuah aplikasi yang digunakan untuk mencatat durasi dan interval kontraksi. Setelahnya saya tidak lagi bisa tidur dengan nyenyak. 

"Cengkeraman" itu semakin kuat. Hilang, kemudian muncul, hilang, lalu tiba-tiba menimbulkan sensasi "nyeri" yang luar biasa. Saya masih tenang, karena durasi dan intervalnya masih renggang dan cenderung tidak beraturan. Saya rapalkan doa-doa dengan tetap mengajak si janin berkomunikasi. 

"Dek, lahirnya tunggu ayah pulang ya". 

05.30 WIB
Saya telah sampai pada titik, tidak lagi kuat menggerakan beberapa anggota tubuh. Shat shubuh saya putuskan mengerjakannya dengan duduk. Sebentar lagi pikir saya. Saya kuat. Saya bisa. Satu hal, saya mencoba sekuat tenaga untuk tidak merintih. Setiap sensasi "cengkeraman" itu memuncak, saya coba untuk tarik nafas dalam, bahkan sangat dalam. Keringat dingin telah membasahi tubuh. Tak lagi nyaman dengan semua posis tidur. 

"Sayang, pulang kapan? Perutku sakit sejak semalem. Cepet pulang ya. Kayaknya adek udah mau lahir ini".  Saya kirimkan pesan melalui aplikasi pengirim pesan. Tak lama setelahnya suami pulang. 

Diusap-usapnya punggung saya, jari-jemari yang sedikit kehilangan kekuatan tetap digenggamnya. 
"Gimana? Kita berangkat sekarang" ,tanyanya.
"Nanti aja, aku masih kuat kok".
Air madu, buah, dan kurma dia siapkan. Pagi itu, dia telah bersiap menjadi suami sekaligus ayah siaga.
*** 
Entah ketika itu jam berapa, tiba-tiba perut terasa dicengekeram dengan sangat kuat, melilit luar biasa. Saya genggam erat jari suami. Tidak lagi kuat berkata-kata, hanya tarikan nafas yang terus saya kendalikan. 
"Kita pergi sekarang?", tanyanya. Saya menggeleng. Dia mengusap keringat di kening saya. Mengusap kepala, dan tetap berada di dekat saya.

Sore hari setelah sholat ashar, ada bercak darah di pakaian dalam. Ah, sebentar lagi. Sebentar lagi. Bertahanlah! Kuatlah! 
Beberapa jam setelahnya, sepertinya setelah sholat isya. Saya ajak suami untuk pergi ke klinik bersalin dan menyiapkan perbekalan. Sebelum berangkat, saya sempatkan untuk mandi terlebih dahulu. 
***
Sudah bukaan 4 ternyata. Bapak dan ibu mertua ikut menunggu di luar kamar, bergantian dengan suami menguatkan saya. Menggenggam jemari dan merapalkan dzikir serta doa untuk kelancaran. Bertahan pada bukaan 8, ketika itu sekitar jam 12 malam. Tidak ada kemajuan lagi. Sedang tenaga saya semakin melemah. Botol minum yang dibawa suamipun menipis, karena seringnya saya minta minum. Tak diduga, tiba-tiba ada dorongan luar biasa dari dalam. Pyaaaar ........ Ketuban pecah. Keruh. 

Beberapa bidan meminta saya mengejan, tapi saya menolak karena sudah tidak ada tenaga. Suami tidak melepaskan genggaman jarinya, bahkan sayup-sayup saya mendengar dia mengaji. Masya Allah 

Akhirnya dipasang infus untuk menambah pasokan tenaga, nyatanya tidak berhasil. Justru saya semakin lemah. Keringat dingin mengucur. Saya dibawa ke rumah sakit. 
Dingin. Sakit. 

"Kamu kuat ya. Kamu harus kuat", bisik suamu di telinga kanan saya, seraya mengusap kening yang penuh dengan keringat dingin.
"Sabar ya ndhuk. Memang rasanya seperti ini, nanti kalo bayimu sudah lahir sakitnya langsung hilang. Berdoa ya, dzikir, sholawat", ucap ibu mertua yang bergantian dengan suami menemani di ruang bersalin, saya mengangguk dan mencoba tersenyum. Infus masih tergantung. 

Petugas media telah berganti baju, tirai ditutup. Dicek kembali, sudah pembukaan 10 katanya. 

Ah nak, bertahanlah sebentar lagi. Sungguh. Sebentar lagi, ibu akan berjuang untukmu. Apapun yang terjadi, ibu akan membantumu lahir. Ibu janji. Kini, kehidupanmu lebih penting daripada sengalan nafas ibu yang semakin panjang.

***
Setelah bertahan tidak mengejan selama hampir 4 jam, akhirnya tibalah saatnya untuk mengejan. 
Kemudian, saya tak lagi merasakan nafas, bahkan detak jantung sendiri pun tak terasa. Bahkan dengan selang oksigen melingkar di wajah, sungguh untuk pertama kalinya, saya tidak merasakan "kehidupan" dalam diri saya. Saya sadar, malam itu saya tengah bertaruh nyawa untuk kelahiran seorang bayi kecil, yang selama 38 minggu telah hidup dalam diri saya; jika malam itu ada seorang suami yang luar biasa hebatnya, yang tak putus menguatkan ketika saya sungguh-sungguh ingin berhenti dan menyerah. 

Saya tidak merasakan apapun, selain dorongan yang luar biasa kuatnya dari dalam. Ini waktunya. 

Dek, kita telah bertahan selama sembilan bulan, maka untuk malam ini, marilah kita bekerja sama sekali lagi. Sekali lagi. Ibu akan membantumu keluar dari rahim yang tak lagi nyaman untukmu. Nak, bersiaplah~ 
      
Ahad, 27 Oktober
02.30 WIB
Setelah tiga kali mengejan dengan tarikan nafas yang luar biasa panjang, lahirlah si bayi kecil dengan keadan yang teramat baik. Muhammad Qays Hadi Fahlevi
Sungguh, tak ada lagi sakit. Tidak ada. Lelah. 
"I love you", kata suami setelahnya. Saya tersenyum. 
Benar, dia lahir tepat di akhir pekan dan ditemani ayahnya. Nak, terima kasih.


***
Sakit? Iya. Tapi sakit yang ditunggu dan membahagiakan.
Trauma? Tidak. Tapi jelas terkenang seluruhnya.
Itulah mengapa, saya ingin sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi dan berkali-kali melahirkan. 
Karena sungguh, nikmatnya luar biasa, harunya tak terkira, dan bahagianya jangan ditanya.




Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "23 Jam"