267 Hari

Dimana ada harapan di situ ada kehidupan. -Hanum Salsabila Rais

Cerita saya, bukanlah cerita yang paling menyentuh hati, bukan yang paling penuh perjuangan, atau yang paling banyak linangan air matanya. Karena setiap manusia punya jalan cerita yang beragam, punya sudut haru dan heroik yang bermacam. Tapi, saya tuliskan ini untuk mengingatkan diri, jika saya pernah sekuat ini bertahan, juga karena setiap cerita berhak dituliskan dan dibaca ulang.

***
Rabb. Bukankah Engkau hakim terbaik yang kami punya di kehidupan ini?
Rabbi. Bolehkan kutanyakan sesuatu padaMu?
Beberapa waktu lalu, aku mendengar bahwa dia tak menginginkan kehamilan itu, berniat mengundur bahkan mengugurkannya. Lalu kenapa Engkau ijinkan dia mengandung?
Rabb. Dulu aku tau, jika dia hamil bukan dalam ikatan pernikahan. Kenapa Engkau uji dia dengan nikmat yang demikian? Dia hamil di luar nikah.
Rabb. Kenapa bukan di rahimku Engkau tiupkan nyawa dalam segumpal darah itu? 
Rabb, Engkau lebih dari tahu aku menginginkan apa yang tidak mereka harapkan.
Rabb. Aku harus baik-baik saja atas ujianMu ni, bukan karena tidak ada pilihan, 
melainkan Engkau telah memilihkan jalan ini, untukku
Rabb, aku duduk dalam takdir dan kuasa-Mu ...
Semarang, 24 Agustus 2018

***
Untukmu setiap wanita yang tengah menunggu datangnya kehidupan dalam rahimmu, percayalah, segalanya akan indah pada waktunya. Klise memang, namun demikian adanya. Sungguh kalian adalah manusia kuat pilihan Tuhan. Menangislah, air mata itu adalah bukti ketegaranmu. Setiap usaha dan doamu, tersimpan di sisi Tuhan dan akan dikembalikan dalam wujud yang apik. Tunggulah, tetap panjangkan doa dan usaha itu. Kamu tidak sendirian. Tegakkan kepalamu, tersenyum, dan bangkitlah segera, karena "manusia kecil" itu berhak mendapatkan rahim yang bahagia dan penuh cinta. 

Yakinkan pada dirimu, bahwa keturunan pun sama dengan kehendak Tuhan lainnya. Ialah rejeki yang tak patut diperlombakan. Bukankah sehelai daun yang jatuh pun telah tercatat waktunya? Bagaimana mungkin dengan keajaiban ini? Bersabarlah. Inilah waktumu memberdayakan diri, hingga menjadi sekolah yang pantas bagi buah hatimu kelak. Bukankah mereka berhak mendapat orang tua yang berpengetahuan? Jangan habiskan waktumu untuk meratap, karena setiap detik keberkahan telah terbuang dengan sia-sia. 

Ijinkan hatimu untuk berbahagia atas segala pencapaianmu. Ingatlah, ini adalah kesempatanmu untuk menghebatkan diri demi gelarmu kelak menjadi seorang ibu. Sekalah air matamu, dan meminta ampunlah pada Tuhan. Berhentilah berprasangka buruk pada-Nya. Hadiahmu sedang dalam perjalanan ke rahimmu, tak lama lagi. Maka tugasmu adalah menunggunya dengan berbahagia, penuh suka cita dan kasih.

Untuk setiap pria yang sedang mendampingi istri terkasihnya. Ingatlah, dia adalah wanita yang Tuhan cipatakan sedemikian uniknya. Di balik senyum tegar dan kuat tubuhnya, ada sebuah ruang kosong yang hampa di jiwanya. Di ruang itulah kelak tumbuh cinta dan kasih untuk anak-anak kalian. Semailah bahagia dalam dirinya. Karena sejatinya, engkaupun turut berperan atas penciptaan kehidupan di dalam rahim itu.

Jangan hardik dia ketika isakkan bahkan rengekan manja menghantui kalian. Demikianlah memang, mereka mencari aman di bahu kalian. Berikan aman yang penuh ketulusan, kenyamanan dan keutuhan. Biarkan dia tenang dan menikmati harinya. Karena janin yang sehat dan bahagia sudah selayaknya mendapatka lingkungan yang "bersih". 
Istrimu bukanlah robot yang akan selalu kuat menghadapi kenyataan. Sesekali pasti dia ingin menyerah, berlari menghindar dan mengakhiri beberapa hal dengan segera. Percayalah, yang mereka butuhkan adalah peluk hangatmu. Dia butuh ruang mengadu dan berkasih. Langkahnya tidak selalu kuat, namun meski perlahan dia akan bergerak. 

Karenanya, temani dia, genggam erat jemarinya. Dialah istrimu, yang penuh dengan kelemahan, namun ia juga yang esok akan menjadi benteng terkuat bagi anak-anakmu. 

Bersabarlah bersamanya. Bukankah kalian menikah juga karena kesabaran menunggu waktu? 

Posting Komentar

0 Komentar