BALON UDARA WARNA BIRU


 



Siang itu, aku tidur di samping ibu. Usiaku masih 6 tahun. Ibu mendengkur, dengan mulut sedikit menganga. Aku menatapnya. Kami hanya berdua, di rumah warisan nenek. Ayahku jarang sekali pulang, katanya kerja. Tapi, meski liburan kadang mengunjungi kami, ayah lebih sering sibuk dengan gawainya, alasannya selalu sama "pekerjaan". Jadi aku sebenarnya tidak tahu, apakah ayahku bekerja atau pura-pura bekerja.

Nenekku baru saja meninggal, setahun yang lalu. Kadang, aku merasa masih merasakan kehadirannya. Suara khasnya ketika marah sangat dekat di telinga. Dia meninggal ketika sedang menonton sinetron kesukaannya, siang hari, ketika ibu tengah bermalas-malasan dengan gawainya, dan membiarkanku seorang diri bermain di teras.Tak ada yang mengetahui kematian nenek.

Sedangkan Kakek telah meninggal sejak aku masih berumur 2 tahun, kata ibu.

Ayahku? Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Sebab memang tak banyak rekaman kenangan bersamanya. Ah, jika kenangan adalah berupa foto, maka ibu punya ratusan. Tapi jika kenangan adalah tentang bersama di pantai tanpa ponsel, rasanya tak ada kenangan seperti itu bersama ayahku.

Ayahku kadang mengirim ibu uang. Aku tak pernah tahu jumlahnya dan mungkin belum bisa menghitungnya. Tapi yang aku ingat, ibu selalu bilang "ibu nggak ada uang. Beli besok kalau ayah datang". Aku pun kembali dibuat heran, apa yang sebenarnya ayahku kirimkan pada ibu? Uang kah? Atau hanya kata manis untuk kami saja?

Ibu hanya mengisi harinya dengan membuat makanan ringan, itu pun tidak setiap hari. Karena ibu tak sepandai nenek untuk urusan dapur, sebab ibuku lebih suka membeli makanan dengan jasa pesan antar daripada harus masak. Jadilah, ibu juga menjadi guru les untuk menambah isi dompetnya, katanya.

Aku akan ada di rumah sepupuku ketika ibu sibuk. Kata ibu, aku akan merepotkannya. Tapi, aku memang senang di rumah sepupuku, mereka selalu mengajakku bermain. Bahkan, om dan tanteku tak jarang membelikanku kue-kue kering. Hal yang sangat jarang dilakukan ke dua orang tuaku.

Ibu bangun dari tidurnya. Lalu segera membuka ponselnya, seperti biasa. Aku dibiarkan begitu saja. Tiba-tiba ibu menangis setengah berteriak. Aku mendekat, mencoba memeluknya. Ibu menangis di pelukanku yang tak cukup melingakari tubuh ibu yang kurus.

Mataku melihat ponsel ibu, ada nama ayah di sana, "Mas Bambang Suamiku".

Kita cerai. Kamu dan Raka baik-baiklah. Aku akan mengirim uang secukupnya.

Aku tak paham. Hanya aku tahu jika ayah akan mengirim uang dan dia punya anak istri, bukankah itu kami? Cerai? Apakah itu buah cermai?

Setelah siang itu, ibu semakin murung. Om dan tante lebih sering mengunjungiku, membawakan kami makanan, membersihkan rumah, mencuci baju kami, mengajariku belajar dan bahkan mengisi kulkas kami.

Pada satu sore, aku pulang dari rumah om. Aku diantar tanteku. Ketika masuk rumah, ku dapati tubuh ibuku berayun-ayun di kusen pintu. Kepalanya tertunduk. Aku berteriak. Tante berlari memeluk dan menutup mataku.

Kami menangis berdua. Aku kehilangan dua orang yang paling ku sayangi, nenek dan ibu.

Di dalam kamar, ada 5 ikat balon warna biru, warna kesukaanku, dan sebuah kertas.

Nak, maaf ibu baru bisa membelikanmu balon ini. Selamat ulang tahun ya. Ibu sayang kamu, maafkan ibu. Sampai jumpa di Surga.

Sejak hari itu, aku sangat membenci ayahku. Beberapa tahun setelahnya, aku baru tahu, jika selama ini tak pernah ada kiriman uang darinya. Nenek lah yang selalu memberi ibu uang.

Ayahku, telah membunuh ibu yang suka bermalas-malasan tanpa menyentuhnya. Hebat.

Posting Komentar

1 Komentar

Ibuk Oz mengatakan…
Aku merinding dibuatnya ������