Laporkan Penyalahgunaan

Pengikut


About

Hidup bukan tentang seberapa panjang usia kita, namun seberapa bermanfaatnya hidup kita di dunia. Karena perjalanan setelah kehidupan dunia, jauh lebih panjang dan abadi.

BUKAN BILANGAN FIBONACCI

15 komentar



 "Teruslah berhitung sampai aku datang. Teruslah berhitung seperti ketika kita main petak umpet. Aku pasti akan datang, untukmu"


Satu, dua, tiga, empat, lima,  enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua puluh tiga, dua puluh sembilan, tiga puluh enam, tiga puluh tujuh, empat puluh, empat puluh lima, empat puluh delapan, lima puluh lima ... 

"Hai perempuan ... " Aku menoleh. 

"Ya?", tanyaku.

"Sedang apa kau di sini?"

"Menunggu kekasihku" 

"Ke mana dia?"

"Pergi untuk membawakanku cincin"

"Sudah berapa lama kau di sini?"

"Baru sampai pada hitungan ke 55. Atau mungkin 58?"

"Nak, kau sudah duduk di sini selama 6,5 minggu"

"Selama itu kah?"

"Kau pikun? Atau sakit jiwa?"

"Tidak"

"Maka pulanglah ke rumah"

"Dia adalah rumahku"

"Nak ... "

"Sembilan, sepuluh, sebelas, enam puluh delapan ... " 


Sejak hari itu, aku berada di sebuah ruangan sendirian. Seseorang sering memberiku makanan dan memaksaku mandi. Mereka memanggilnya Kakak Suster.

Kakak Suster bilang, kalau kekasihku itu sudah mati makanya dia tidak pernah datang. Dia salah. Kekasihku masih hidup, sebab aku pun masih hidup.

Related Posts

15 komentar

  1. Paragraf pembuka yang sederhana kak,tapi m membuat penasaran. Akhir yang mengejutkan. Auto Googling untuk tahu fibunaci

    BalasHapus
  2. Aduh..mbak Nimas, endingnya mengejutkan

    BalasHapus
  3. Maka mati...

    Sesungguhnya tiada kematian dalam hati seorang pecinta.
    Ada dan tiada dalam hal wujud pun lenyap..

    Jika dia mati, aku pun mati..
    Maka telah menyatu.. Manunggal...

    Aku adalah dia.. Dia adalah aku

    BalasHapus
  4. Yaa ampun minta terusannya uuuuu...(tapi klo diterusin bukan mini ya hhe) subhaanallah ceritanya "jleb" banget♡♡♡

    BalasHapus
  5. Memang selalu keren deh tulisan kakak ini

    BalasHapus
  6. Mbak nimaas...aku bisa diajarin biar nulisnya bagus gini mbaaak...

    BalasHapus
  7. Memang ga bohong, master mah beda tulisannya juga. Kereeeeeen Mbaa!

    BalasHapus
  8. Duh, cakep!

    -purnama indah-

    BalasHapus
  9. keren mbak nimas ceritanya :)

    BalasHapus
  10. Pendek, dan isinya sampai ke aku yang baca.. kereenn mbakkk 😍

    BalasHapus
  11. Wah, tulisan master keren betul, hehehe. Semoga bisa nulis fiksi sekeren mbak nimas yaa 😍

    BalasHapus
  12. Keren tulisannya ... dan gak nyangka ttg apa ..
    Sementara pikiranku guru matematika

    BalasHapus
  13. Ada efek gimana gitu di akhir cerita. Surprise

    BalasHapus
  14. Sedih aku bacanya huhu.
    Gak nyangka banget endingnya ternyata menghitung untuk menunggu sang kekasih yang sudah meninggal.

    BalasHapus

Posting Komentar

Pengikut