BIAYA HIDUP DAN GAYA HIDUP

We spend money that we don’t have, to buy on things we don’t need, to impress people who don’t careWill Smith

 

Salah nggak sih beli barang-barang yang harganya terbilang fantastis? Nggak, selama barang itu memang dibutuhkan. Jangan hanya karena ingin dinilai “mampu beli” maka kita beli barang yang nggak terlalu berguna buat kita. Misal, kita nggak hobi bersepeda bahkan nggak paham tentang onderdilnya, maka beli sepeda “kekinian” yang harganya bahkan sampai ratusan juta bukanlah suatu keharusan.


 

Kenapa? Karena nggak sedikit orang, yang pada akhirnya memutuskan menambah gunungan utang demi terlihat eksis! Kalau seperti ini, sepertinya definisi hidup sejahtera akan sedikit menjauh, sebab sudah terbayang cicilan utang selama beberapa waktu ke depan. Apakah kita akan nyaman dengan keadaan demikian? Seharusnya tidak.

Betul. Liburan Bersama keluarga, membeli buku kesukaan, makan di resto atau sekadar duduk diam di café merupakan cara yang umum digunakan untuk menikmati hidup. Tapi, ingat, akan aada ketimpangan ketika pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Besar pasak darpada tiang.

Kalau mengikuti gaya hidup, biaya yang dikeluarkan memang terbilang banyak. Itulah mengapa, tampil dengan “image kaya dan mampu” sering kali berujung pada lilitan utang dan menjadi biang munculnya beragam masalah finansial.


 

1.       Apakah bahagia dengan harta?

Menurut KBBI, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Jadi, “Bahagia” tidak memiliki tolak ukur nominal. Tentu saja, jika tolak ukur Bahagia adalah dengan memiliki harta atau tumpukkan barang-barang mewah dan ini dilakukan di luar kemampuan, hasilnya sudah dapat ditebak bukan? Ya. Lilitan utang di depan mata.

 

2.       Karena butuh atau hanya ingin?


 

Apakah kita termasuk yang lebih sering memilih kopi bermerk di mall daripada kopi seduhan sendiri? Bukankah kandungannya sama? Yakni setiap kopi mengandung kafein. Hal ini termasuk pada keinginan atau kebutuhan sekunder, slaah satu tujuan dilakukannya adalah untuk menjaga harga diri dan menciptakan kenyaman.

 

Tidak masalah jika kita ingin memenuhi keinginan, namun harus dipastikan terlebih dahulu, apakah kebutuhan sudah terpenuhi dengan baik? Rencanakan dengan matang dan pastikan ada dana yang memang dialokasikan untuk memenuhi keinginan ini.

 

Raditya Dika pernah berucap, jika liburan Bersama keluarga atau makan di restoran adalah membeli pengalaman. Benar. Karena apa yang kita lakukan adalah memenuhi kebutuhan. Yang kita dapatkan dari membeli pengalaman ini adalah kenangan. Jadi, ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memenuhi keinginan, antara lain memasikan tidak ada tumpukkan utan, dana tersedia dengan aman (tanpa intervensi untuk membayar biaya-biaya lain), dan jangan lupa mengendalikan diri.

 

Sudahkah mengenal peraturan 50/20/30 dalam budgeting?

 

50%

 Dari pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok

20%

Digunakan untuk memenuhi kewajiban dalam mencapai impian

(tabungan dana darurat, asuransi dan atau dana pensiun/jika bukan PNS)

30%

Merupakan dana yang digunakan untuk pilihan kita (keinginan)

 

 

Peraturan 50/20/30 ini bisa digunakan untuk kelas menengah hingga atas, karena sangat membantu penataan keuangan di waktu yang akan datang.

 

Menentukan prioritas dan sadar betul apa saja yang merupakan kebutuhan dan keinginan merupakan langkah bijak yang bisa dilakukan sebelum utang semakin melilit keuangan kita.

 

Selamat merenung,

Posting Komentar

1 Komentar

Saina mengatakan…
Wah, auto saya coba menggunakan peraturan 50/30/20 ini, Mbak 😊