Nimas

Mengetahui Pentingnya Kesehatan Mental Untuk Ibu

17 comments

mengetahui pentingnya kesehatan mental untuk ibu


Sadar, kalau kesehatan mental ibu itu penting? 

Ini berdasar pengalaman pribadi. Melahirkan 2019 lalu, dihadapkan pada kenyataan kalau si bayi merah itu harus dirawat di Peristi selama 3 hari, drama menyusui menyusul, lalu baby blues. Sedang menikmati fase menjadi ibu, anak umur 9 bulan diagnosa positif TB Paru.

Bolak-balik ke spesialis anak, bertemu dengan beragam kondisi anak dan orang tua, membuat saya sadar, pada dasarnya setiap orang tua tengah berusaha untuk menjadi kuat, setidaknya untuk dirinya sendiru Tak pernah ada orang tua yang baik-baik saja, ketika melihat keadaan anaknya begitu menyesakkan, dan juga dirinya yang begitu jauh dari dukungan. Belum lagi ketika masalah dalam pernikahan muncul, keuangan, pasangan, pekerjaan bahkan tak jarang circle keluarga dekat juga menjadi ujian. Tidak ada pilihan untuk tidak menghadapinya dengan ikhlas.

Terlepas dari semua itu, ibu juga berada pada posisi yang sama. Yakni rawan sebagai orang yang terganggu kesehatan mentalnya.


Pentingnya Kesehatan Mental Ibu

Adakah yang tahu, jika ternyata Indonesia adalah salah satu negara Darurat Kesehatan Mental?


Pada sebagian golongan, menjadi ibu dianggap sebagai akhir perjalanan seorang wanita. Belum lagi, ketika nanti dihadapkan pada banyak batasan, pilihan, cara pandang bahkan labelling. Inilah yang kemudian menjadikan ibu bagai berada di persimpangan.

Ibu, dianggap sebagai sebuah "label" yang menunjukkan dedikasi penuh dan alpa dari lemah.

Padahal, kita justru tengah mengabaikan apa yang tak terlihat, yakni kesehatan mental ibu.

Salah satu alasan mengapa Indonesia darurat kesehatan mental adalah karena tidak hadirnya ayah dalam pengasuhan. Sedangkan jika kita melihat di negara maju, ayah mendapatkan jatah cuti sampai beberapa puluh hari untuk menemani ibu beradaptasi dengan bayi kecilnya.

Hal lain, adalah adanya stigma bahwa pekerjaan domestik rumah tangga adalah haram dikerjakan oleh para suami. Benar, budaya patriarki masih sangat terasa di negara ini. Tidak ada kisah yang tidak terdengar oleh telinga kita, bukan berarti kisah itu tidak ada, termasuk juga tentang kesehatan mental ibu ini.

Mungkin kita memang tidak banyak tahu, seberapa banyak ibu-ibu yang memilih mengubur mimpinya, mengalah pada keadaan, dan bertahan pada pergulatan yang tidak bertepi. Kadang yang kita dengar hanya keluhan, tanpa tahu jika ibu ingin didengar. Hingga tanpa bersalah, kita memotong kisahnya. Tak sedikit dari ibu, yang hanya ingin didengar bukan dinasehati.

Sebarapa banyak kasus bunuh diri, yang dilakukan ibu rumah tangga? Lalu, seberapa banyak kasus ibu rumah tangga yang terganggu mentalnya? Mungkin, ini hanya retorika, tapi ini juga perenungan untuk kita semua.

Ibu dengan mental bahagia, adalah kunci dari rumah yang penuh cinta.

penyebab terganggunya kesehatan mental ibu

Penyebab Kesehatan Mental Ibu Terganggu

Harapan Tidak Realistis

Seberapa banyak kita mendengar ucapan "ibu harus kuat, tidak boleh mengeluh. Lelah sudah konsekuensi jadi ibu", atau mungkin kalimat-kalimat serupa, yang pada intinya memposisikan ibu sebagai makhluk kuat. Ini memang tidak realistis.

Bukankah ibu juga manusia biasa? Ingat, ibu bukan tokoh superhero, yang bahkan setelah tubuhnya luka berdarah-darah masih bisa menyerang habis semua musuhnya. Ibu manusia biasa, yang lahir dengan kesamaan seperti semua orang. Punya rasa lelah dan jenuh.

Pernah kah kita dapati, ketika seorang ibu tengah bercerita, justru kemudian disanggah dengan kalimat "ibu tidak boleh mengeluh, memang begitu fitrahnya jadi ibu".

Bukankah yang demikian ini, terkesan mempunyai harapan yang tinggi pada seorang ibu? Alasan mendasar apa, sehingga ibu ini tidak boleh membagi lelahnya?

Ketika ibu merasa lelah, itu bukan keadaan di mana seorang ibu tak lagi sempurna. Coba kita tengok sebentar, bagaimana keadaan sosial di sekitar kita, ikut andil dalam pengasuhan yang justru terkesan memaksa ibu? Apakah ketika tidak sesuai dengan ekspektasi kita, maka si ibu bukanlah ibu yang baik?

Menjadi Orang Tua Tunggal

Seorang teman, kehilangan suaminya ketika dia hamil 6 bulan. Apa yang terjadi padanya? Dia mengaku kehilangan dunianya. Satu kalimat yang luar biasa dalamnya bagi saya. Tak butuh penjelasan apa pun. Dia menyadari, jika sesuatu terjadi padanya. Psikisnya mulai terganggu. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mencari profesional, demi tumbuh menjadi orang tua tunggal bagi bayi perempuannya.

Menjadi ibu tunggal memang bukanlah hal yang mudah. Segalanya baru dan menyedihkan. Seorang diri mencari solusi atas segala permasalahan, entah finansial, pendidikan, pengasuhan atau sekadar untuk me time. Sebab dia juga bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Kelelahan yang luar biasa menumpuk.

Generasi Sandwich

Sebenarnya, tidak salah ketika kita merawat orang tua, bukan? Bahkan sebuah kewajiban menurut ajaran agama yang saya yakini. Namun, tentu hal ini akan berbeda bagi sebagian orang. Mengapa bisa demikian?

Pernah melihat orang tua yang begitu pemarah pada anaknya di masa kecil? Atau orang tua yang abai dengan pengasuhan anaknya di masa kecil? Kondisi ini lah, yang kemudian bisa membuat pertentangan batin. Benar, sebab dihadapkan pada sisi yang berlainan.


pengaturan kesehatan mental ibu

Mengatur Kesehatan Mental Ibu

Self Love

Mencintai diri sendiri itu kewajiban. Sederhana memang, namun tak sedikit yang kemudian justru mengabaikannya. Melakukan hal yang disukai atau menjadi hobi pada waktu tertentu, adalah salah satu cara mencintai diri sendiri.

Setiap ibu butuh waktu meng-upgrade diri, agar cintanya pada anak dan suami juga bertumbuh seiring dengan dirinya.

Jika memang terasa tak memiliki hobi, melakukan hal yang membuat kita nyaman juga sudah sedikit menghilangkan penat. Salah satu bentuk me time saya adalah membaca dan minum segelas es teh. Sesederhana itu. Hanya diberi es teh, hanya membuat es teh, saya bisa bahagia dan bersyukur atas apa yang saya lalui. Tentu akan berbeda dengan masing-masing ibu.

Ada ibu, nyaman dengan menggunakan skin care, arisan, ke bioskop, atau bahkan belanja. Lakukan apapun, yang memang itu membuat kita bahagia. Bukankah kebahagian kita, juga berhak dan layak diperjuangkan? Meski hanya segelas es teh? 

mencintai diri sendiri

Perbaiki Circle

Selain diri, lingkungan terdekat kita juga memiliki andil dalam perkembangan psikis kita. Ketika kita mulai sadar, bahwa tak ada lagi support system yang baik, maka menjauh dan memperbarui lingkungan adalah salah satu solusi terbaik. Karena kita tidak akan berkembang, selama kita bertahan pada lingkungan yang toxic atau tidak mendukung.

Pasangan kita, adalah circle terdekat kita. Maka menjalin dan memperbaiki komunikasi dengannya adalah sebuah keharusan. Bicaralah dari hati, dengan sejenak meletakkan emosi. Karena yang kita harapkan adalah perbaikan mental, bukan pengabaian.

Komunitas atau support group, juga bisa menjadi alternatif lain. Ini bisa kita temui dengan di media sosial. Tidak ada sesekali mencarinya, karena nyatanya komunitas atau support group seperti ini sedikit banyak telah membantu ibu bangkit dari terpuruk dan kacaunya mental.

Bergerak dan Berkarya

Sudah pernah olahraga ringan? Seperti berjalan kaki pagi sebelum matahari benar-benar terik? Menghirup udara pagi yang bersih dan segar, akan sedikit menenangkan hati. Ibu juga bisa melakukan kegiatan lain, seperti yoga, atau bahkan menanam bunga. Lakukan apapun yang membuat ibu tetap bergerak, karena pikiran ibu akan terfokus pada apa yang tengah dilakukan. Sibuklah.

Jika ibu memang tertarik dengan dunia craft, tidak adalah salahnya menekuni dan menguangkannya. Berkarya ketika menjadi ibu, bukanlah hal yang haram dan memalukan. Berkaryalah dengan apapun yang mampu kita lakukan dan tidak melulu berorientasi pada rupiah.


Pentingnya kesehatan mental untuk ibu tidak lain agar tercipta rumah tangga yang hangat, nyaman, dan bahagia. Tidak sedikit pernikahan yang tumbuh bersama caci maki, tangis bahkan perundungan. Mengapa? Karena terganggunnya mental para penghuni, terlebih para ibu. Tak segan berteriak di hadapan suami atau memukul anak, adalah tanda perlunya perbincangan mengenai kesehatan mental ibu.


Ibu, di manapun kamu berada, apa pun yang tengah kamu rasakan

Percayalah, kamu adalah makhluk yang hebat.

Tuhan menciptakanmu dengan seluruh kekuatan dan kelemahan dirimu

Bukan untuk membuatmu disakiti, namun untuk mengingatkan, jika Surga memang layak berada di kakimu

Ibu, bangkitlah

Kamu tidak sendiri,

aku di sini, bersedia mendengar dan memelukmu


Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

17 comments

  1. Banyak problematika yang dialami seorang ibu. Butuh dukungan semua pihak--terutama pasangan--agar kesehatan mentalnya tetap kuat. Nice artikel, Mbak.

    ReplyDelete
  2. aku juga pernah dengar menjadi seorang ibu dan istri harus bisa memendam masalahnya sendirian,
    padahal kita juga manusia bukan malaikat yang selalu baik-baik saja

    ReplyDelete
  3. Bagus ka informasi nya.
    Waktu kecil aku pernah mikir, kalo jadi ibu itu enaaaak banget, karena punya anak yg bisa d suruh dan punya surga sendiri di telapak kaki ny😅
    Semakin dewasa aku sadar, itu adalah beban terberat.

    ReplyDelete
  4. Menjadi seorang ibu itu gak mudah. Terlalu banyak tuntutan, yang ujung-ujungnya mengacam mental seorang ibu .
    Saya suka tulisan ini, makin paham problem yang dihadapi para ibu 😁

    ReplyDelete
  5. Setuju banget mbak, dan semoga sesama perempuan terus saling menguatkan ya, bukan sebaliknya

    ReplyDelete
  6. Betul mba Nimas, menjadi ibu harus punya kematangan emosi dan self love serta support system yang baik. Pokoknya semangat untuk para ibu!

    ReplyDelete
  7. Kesehatan mental memang sangat penting bagi siapapun, apalagi seorang ibu ya.. Ibu bahagia keluarga bahagia, bukankah begitu umumnya?.. Trmksh sudah berbagi tips menjaga kesehatan mental.ibu ini..

    ReplyDelete
  8. Mba apakah punya referensi data ttg Indonesia darurat kesehatan mental yg disebutkan di atas, bisa buat penelitian lanjutan nih, kebetulan aku lagi riset ttg wellness dan mental health juga, bbrp kali cari datanya blm nemu angka yg gambarin kondisi darurat kesmen. Makasiy sharingnya ya Mbaa. . Pas bgt dgn yg sdg kucari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti coba ku carikan lagi ya, kemarin dapet dari salah satu website psikologi gitu. Kalo udah ketemu, ku kirim wa ya

      Delete
  9. Seorang ibu bisa menjadi sehat apabila didukung penuh oleh lingkungan sekitar.. terutama keluarga. Sehat-sehat yaa ibu Indonesia.. jadikan generasi penerus yang juga sehat mental dan fisik.

    ReplyDelete
  10. Jadi salah satu penyebabnya adalah ketidakhadiran suami ya mbak? Ya Allah sedih aku krn memang faktanya masih sangat banyak suami yg menganggap ngurusin anak tu tanahnya perempuan. Padahal pasca lahiran dan bahkan sambil jalan membesarkan anak tu kita sbg perempuan butuh bgt support system ya mbak

    ReplyDelete
  11. Iya, kesehatan mental dari dulu hal tabu untuk dibahas, baru sekarang saja ya akhirnya kita bisa ke psikolog dan psikiater lebih bebas dan tanpa harus disembunyikan..ibu bebannya lebih berat dan rentan menderita mentalnya

    ReplyDelete
  12. Super bgt nih artikelnya mbak..mmg budaya patriarki kadang membuat seorg ibu bs depresi jg, kala suami berpendapat klu pekerjaan rumah tangga ya hrs dikerjakan oleh ibu. Bahkan ada suami yg segan membantu di dapur, atau momong anak klu sy dengar curhatan sdr2 sy di desa.

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah, jadi trenyuh membaca ini.
    Sepakat benar, perjuangan menjadi kuat, tak pernah berhenti.
    Harus belajar dan belajar seumur hidup.

    Semangat kuat dan sehat mental buat kita semua, para ibu-ibu dimanapun berada.

    ReplyDelete
  14. Di rumah ada kejadian, ibu yang membunuh bayinya. BIsa jadi karena baby blues sih. Jadi, memang sangat penting menjaga kesehatan mental seorang ibu.

    ReplyDelete
  15. Seorang ibu tuh memang memikul tanggung jawab berat, apalagi kalau pasangannya tidak terbiasa ikut mengurus rumah tangga. Saling menyemangati dan mendengarkan keluhan, bisa menjadi terapi yang bagus bagi sesama ibu.

    ReplyDelete
  16. Sedihbanget baca artikel ini. Banyak banget kejadian yang serupa ada di sekitar kita. Semoga selalu dikuatkan

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email