Nimas

Perhatian Terhadap Verbal Bullying Pada Ibu


Pengaruh verbal bullying pada ibu

Pengaruh verbal bullying pada ibu hampir tak terdeteksi, sebab sering kali bercampur dengan dialog biasa. Selain itu, verbal bullying kerap kali dilakukan tersirat oleh pelaku, namun dilakukan secara berulang dan akhirnya korban tidak menganggap bahwa yang dikatakannya adalah benar dan dia salah. Inilah yang kemudian membuat para korban, seolah merasa jika perundungan tersebut tidak pernah terjadi. 

Verbal bullying atau perundungan verbal adalah bentuk pelecehan melalui kata-kata, sama bahayanya dengan pelecehan fisik, yang menyebabkan tekanan psikologis dan tidak menutup kemungkinan terjadinya kekerasan fisik. 


Mengrnal ciri verbal bullying pada ibu

Kenali Ciri Verbal Bullying

Seperti yang kita ketahui, jika verbal bullying tidak senyata perundungan fisik, selain karena tampak seperti percakapan biasa, perundungan verbal ini juga kerap dilakukan ketika hanya bersama dengan korbannya. Memang, pelaku ini jeli melihat situasi ketika melakukan bullying. 

Tidak Pernah Setuju Pilihan Kita

Selalu menyalahkan apapun keputusan atau pilihan kita, juga bisa ditandai sebagai ciri bullying. Termasuk juga menyalahkan pihak lain, atas apa saja yang tidak bisa dikendalikannya. 

Menyalahkan di sini, juga bisa berkaitan dengan pilihan-pilihan yang bahkan masih berupa wacana dan sama sekali belum terwujud. Memang tanpa disadari, intimasi seperti ini banyak kita jumpai, bahkan di circle terdekat kita.

Percakapan Tanpa Solusi

Jika kita tengah terlibat perbincangan dengannya, tak jarang kita hanya berputar pada permasalahan yang sama tanpa keluar dengan sebuah solusi. Tak jarang, perbincangan ini justru mengalami ketegangan sepanjang waktu, karena memang sejak awal berdialog tidak untuk memberikan solusi. Jadi, hanya bertele-tele.

Membagikan Informasi

Termasuk juga adalah membagikan informasi berkenaan dengan hal-hal yang tidak bisa dilakukannnya, kepada orang lain. Disampaikan langsung atau pun tidak, hal ini sama saja, karena tetap menyebarkan informasi. 

Panggilan Buruk

Seberapa sering kita mendengar orang dipanggil dengan sebutan yang buruk? Panggilan hewan, misalnya? Atau label-label negatif yang tidak seharusnya digunakan untuk memanggil orang? Hal ini juga salah satu ciri verbal bullying, yang mungkin bisa dengan mudah kita sadari, meskipun pada sebagian masyarakat menganggap hal ini adalah suatu yang "wajar".

Ibu dan Verbal Bullying

Sebagai seorang ibu, tanpa dikritik atau dikomentari secara berlebihan pun, sepertinya sudah sangat memikirkan apakah yang ia lakukan betul atau tidak untuk tumbuh kembang buah hatinya. Bisa dibayangkan, ketika ada ibu yang tengah berusaha keras untuk kebaikan dirinya juga buah hati, lalu komentar-komentar jahat yang terkesan merendahkan itu bermunculan?

Mungkin, verbal bullying pada ibu bisa kita lihat dengan di kalangan para selebritis. Mereka dihujani dengan cacian dan bahkan hinaan dari masyarakat, terhadap pola asuh yang diberlakukan pada anaknya. Tapi, justru lingkungan terdekat ibu lah yang berpotensi besar menjadi pelakunya. Mereka adalah orang tua, mertua, dan kerabat dekat. 

Hal-hal terkait verbal bullying yang terjadi pada ibu, bisa juga disebut tindakan mom shaming loh! Tentu saja saja hal ini berakibat buruk pada kesehatan mental ibu. 

Verbal bullying ini, memang kerab kali menghinggapi para ibu muda. Mengapa bisa? Karena ada satu golongan ibu, yang ingin terlihat lebih unggul dalam mengasuh anaknya, jika dibanding dengan ibu yang lain. Itulah mengapa, ujaran-ujaran yang bersifat menghina, intimidasi atau merendahkan sering dilontarkan pada sesama ibu muda. 

Selain itu, kelelahan ternyata juga bisa menjadikan seseorang sebagai pelaku bullying. Dengan rutinitas yang sama setiap hari, seringkali menghadapkan ibu pada kejenuhan bahkan rasa bosan. Ada rasa ingin beristirahat atau sekadar melepaskan emosi dan penat. Hingga tak jarang, pilihan mengeluarkan kata-kata tak sepantasnya, harus keluar dari mulutnya. 

Tidak menutup kemungkinan juga, jika pelaku ini adalah ibu dewasa yang tidak bahagia, misal karena tidak pandai bersyukur atas apa yang dimilikinya. Pribadi seperti ini, cenderung akan melampiaskan emosinya pada pihak yang dinilainya lebih "lemah" atau "menderita". Karena dengan demikian, dia akan merasa lebih bahagia dan lebih baik. Padahal, sama sekali tidak benar, justru sebenarnya dia juga tengah mengalami masalah psikologi.


Perundungan


Dampak Verbal Bullying Pada Ibu

Gangguan Psikis

Depresi

Kecemasan berlebih

Overthinking

Tidak percaya diri

Rendah diri

Merasa bersalah

Mudah sedih atau menangis

Menghindari interaksi sosial


Gangguan Fisik

Mudah lelah

Kekebalan tubuh menurun

Lemas

Tidak nafsu makan

Munculnya psikosomatis

Sakit kepala dan perut

Otot tegang

Gangguan tidur



Ketika memang kita berada pada posisi tidak bisa melawan atau tidak ingin berbuat lebih, itu adalah keputusan ibu. Namun selalu ingat, dibalik itu semua, setiap ibu tentu saja butuh adanya support system yang sangat kuat. Entah dari pasangan, orang tua, maupun kerabat atau teman dekat. Selain itu, tidak ada salahnya juga kita menghindari orang-orang dengan perilaku demikian. Sebisa mungkin tidak berhubungan dengannya atau sengaja membatasi komunikasi adalah pilihan terbaik untuk menjaga kewarasan mental ibu. 

Kadang, diam dan mencari tahu lebih adalah solusi terbaik ketika kita dihadapkan pada banyaknya perbedaan pola asuh, ciri fisik bahkan urusan rumah tangga. Jika memang kita tidak bisa berkata yang baik, mendukung atau merangkul, maka berhentilah untuk menghakimi hanya pada satu sisi. 

Verbal bullying pada ibu memang seharusnya tidak lagi terjadi. Karena bagaimanapun, setiap ibu pasti mengusahakan yang terbaik untuk buah hatinya, dirinya sendiri dan juga rumah tangganya. Jika kita hanya melihat dengan mata, atau mendengar secuil dari seluruh perjuangannya, bukan menjadi alasan kita boleh menghujaninya dengan kata-kata bermuatan negatif. 

Yuk, mulai dari kita.
Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email