Nimas

4 Tips Memilih Dokter Anak

1 komentar

4 tips memilih dokter anak


Tips memilih dokter anak ini, based on personal experience saya. Karena memang mendapatkan dokter anak yang klik dengan ibu, itu seperti menghilangkan setengah kegelisahan dan membuat ibu percaya diri dalam mengasuh anaknya. Kalau kita sudah berbekal ilmu, maka ketika ujian itu datang, kita tidak akan terlalu kelimpungan. Mungkin begitu perumpanaan yang tepat, untuk tulisan saya kali ini. 

Ketika lahir anak saya harus masuk peristi selama 3 hari. Melihatnya harus diinfus ketika berumur beberapa menit, membuat saya menyalahkan diri sendiri. Menyesali keadaan. Tapi ini adalah kesalahan, tidak dibenarkan dalam agama saya. Pihak rumah sakit tempat kita melahirkan, biasanya memang akan langsung memilihkan dokter. Ternyata, setelah bertemu dengan beliau, saya tidak terlalu nyaman ketika berkomunikasi. 

Setelahnya, saya bertekad untuk mencari dokter anak yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan kami. Benar memang, pengalaman adalah guru terbaik. Ada beberapa hal yang saya lakukan ketika memilih dokter anak, sebelum akhirnya memutuskan pada satu dokter. 
Tips sederhana

Tips Memilih Dokter Anak

Buat Daftar Referensi

Ini to do list pertama bagi saya. Untuk melakukan hal ini, kita bisa mencarinya dari berbagai sumber. Kalau saya pribadi, mencari nama-nama dokter anak ini di komunitas ibu yang ada di wilayah domisili. Ibu-ibu biasanya akan sangat terbuka menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan atau hal penting lainnya yang menyangkut anaknya. 

Silakan buat daftar sebanyak mungkin, karena nanti pasti akan mengalami penyusutan. Salah satu hal yang juga perlu ditambahkan dalam daftar referensi nama dokter adalah, biaya periksa dan harga obat. Terlebih jika kita memang memilih memberikan vaksin di sana, tentu saja biaya yang dikeluarkan juga lebih besar. Ingat, biaya terlampau mahal atau paling murah bukan jaminan kualitas pemeriksaan ya.

Fokus Pendidikan

Bagi saya ini juga penting. Karena basic ilmu atau spesialis ini ada beragam ya. Ada dokter anak saka (umum), dokter anak sub spesialis neurologi, sub spesialis penyakit berat, infeksi, penyakit tropis, nutrisi dll. Ini bisa menjadi acuan kita, karena sudah pasti dokter-dokter tersebut akan "lebih" menguasai bidang yang dia pelajari secara spesifik.

Komunikasi

Pertimbangan selanjutnya adalah komunikasi. Yang saya garis bawahi adalah cara dokter tersebut berkomunikasi dengan pasien (orang tua). Untuk kebutuhan medis, saya sangat suka dokter yang detail dan terbuka. Maka, dokter-dokter yang cenderung "menyembunyikan" atau tidak menjelaskan secara gamblang, saya hapus dari daftar.

Berikutnya adalah soal media komunikasi. Apakah dokter tersebut bisa dan bersedia dihubungi secara pribadi? Atau harus melalui asistennya? Atau justru tidak menerima konsultasi secara pribadi? Ini penting, karena ada saat dimana kita tidak bisa segera ke dokter atau terbentur dengan jadwalnya. Setidaknya, ini bisa jadi alternatif ketika ada keadaan darurat.

Tempat Praktek dan Jadwal

Memperhitungkan jarak ini penting bagi saya. Karena harus mengukur durasi perjalanan dan antrean. Dokter-dokter tertentu, biasanya akan sangat padat antreannya. Karenanya, kita bisa memperhitungkannya sejak sebelum berangkat, supaya anak-anak tidak terlalu lama menunggu.

Selain itu, keadaan di tempat praktek juga saya pertimbangkan. Apakah memang ramah anak atau tidak, terlebih ketika pandemi seperti sekarang ini. Ruang tunggu, kamar mandi, playground, pelayanan perawatnya juga bisa kita pertimbangkan. Karena kita membawa anak kecil, jadi memang kenyamanan dan keamanannya juga harus diperhatikan.

Jadwal. Termasuk juga dengan jadwal praktek di rumah sakit. Ketika memilih dokter, saya wajib tahu jam dan lokasi praktek. Karena jika terjadi sesuatu, saya bisa segera mengecek kapan dokter tersebut ada di tempat dan di mana. Misal anak harus di rawat inap di rumah sakit, tentu akan mudah melakukan koordinasi jika anak harus juga harus ditangani spesialis lainnya.

Dokter anak

dr. Hapsari, Sp.A (K) adalah dokter anak pilihan saya. Beliau dokter anak konsultan sub spesialis infeksi. 

Kenapa saya memutuskan memilih beliau?

Komunikatif. Beliau memberikan penjelasan yang sangat detail dan terbuka pada kami. Cara penyampaiannya pun enak, tidak terkesan menggurui atau mendikte. Bisa dan bersedia dihubungi secara pribadi dan memberi resep obat juga. Tidak mudah memberikan antibiotik (Penting, sebab tidak semua gejala sakit butuh antibiotik). Tempat prakteknya mudah dijangkau, yakni berada di dua rumah sakit besar di Semarang dan rumah pibadinya yang ramah anak, dan juga memiliki akses transportasi yang mudah. 

Selain itu, ketika akan ke dr. Hapsari, kita tidak perlu mengambil nomor urut di rumah. Karena beliau menggunakan aplikasi Antre.id. Aplikasi ini sangat membantu para ibu. Karena kita akan tahu, berapa jumlah pasien dalam sehari dan estimasi waktu kita dipanggil. Tidak perlu menunggu lama di lokasi. 

Sebetulnya pilihan memiliki dokter anak bukanlah keharusan. Namun, ketika ada biaya yang bisa dialokasikan atau ada fasilitas yang mendukung, mengapa tidak kita manfaatkan? Bagi saya, punya dokter anak punya sisi keuntungan dan kelemahannya. Untung karena riwayat kesehatan dan tumbuh kembang anak dipegang oleh satu pihak secara berkala, satu kelemahannya tentu saja adanya penambahan pengeluaran biaya. 

Namun, kami tidak selalu membawa anak ke dokter. Jika memang dokter bisa dihubungi via chat dan keadaan tidak terlalu mendesak, maka kami konsultasi daring dan minta diberikan saran (obat maupun tindakan). Ada kalanya, kami juga memanfaatkan fasilitas pemerintah seperti ke Puskesmas. Kami juga memiliki cadangan dokter anak lainnya. Tentu saja kami pilih sesuai dengan kebutuhan dan konfirmasi ke beliau, jika dokter kami juga memiliki dokter anak. Tak lupa, kami sampaikan semua riwayat pengobatan dan hal-hal penting lainnya pada dokter cadangan. Dokter cadangan tidak berarti pemeriksaan dan lainnya tidak lebih, hanya sebagai alternatif ketika tidak bisa ke dokter utama.

Sekali lagi, tips memilih dokter anak ini berdasarkan pengalaman pribadi saya. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan, keadaan dan kenyamanan masing-masing. Semoga setiap pilihan dan keputusan adalah yang paling bijak untuk keluarga kita. 

Selamat dan semangat mengasuh anak-anak ya, Bu!
Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

1 komentar

  1. Harus pintar-pintar memilih dokter ya mba, kalau gak cocok kadang memang bikin malas datang ke dokter. Mending cari yang lain.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email