Nimas

Mengenal Feeding Rules Pada Anak

8 comments


Mengenal feeding rules

Feeding Rules atau aturan makan, adalah proses pembelajaran dan pengenalan pada anak, yang dilakukan ketika si anak sedang belajar makan. Biasanya, pada usia 6 bulan. Tapi ternyata, feeding rules ini banyak diabaikan dan banyak yang tidak tahu, loh!

Sebagai orang tua di jaman yang serba canggih, sudah seharusnya kita mau cari ilmu parenting dengan seluas-luasnya kan? Betul, karena ilmu parenting selalu berkembang, jadi kalau kita sebagai orang tua nggak mau update ilmu, rasanya kok kurang bijaksana ya? Salah satu yang mengalami banyak perkembangan ada soal MPASI. Mengingat banyak sekali perspektif dan cara pemberiannya, maka saya memutuskan hanya berpedoman dari tenaga medis yang memang berkompeten dalam bidang tersebut.

Dokter Meta Hanindita, adalah salah satu dokter yang sangat getol sekali menyuarakan feeding rules dalam pemberian MPASI. Secara sederhana, feeding rules berarti aturan makan. Apakah bapak dan ibu merasa janggal dengan istilah ini? Apakah bapak dan ibu merasa ini akan sangat merepotkan orang tua? Ini adalah kisah saya, dengan seorang bayi berusia 13 bulan dengan konsep feeding rules yang masih saya usahakan.

Ada beberapa poin penting ketika hendak menerapkan feeding rules, terlebih ketika anak baru mulai makan (usia 6 bulan atau kurang, tapi pastikan ini tas advice dari dokter ya).

Poin Penting Dalam Feeding Rules

Perhatikan aturan makan

Jadwal

Biasakan anak untuk makan teratur 3x (makan utama) dan selingan (snack). Karena anak masih ASI, jadi perlu diatur juga untuk pemberiannya.

Biasa saya jeda 2 jam untuk setiap jadwal. Misalkan jam 8 sarapan, jam 10.00 ASI, jam 12.00 makan siang, jam 14 ASI, jam 16.00 snack, jam 18.00 makan malam. Apakah jadwal ini permanen? Tidak, tentu saja mengikuti kondisi anak. Tapi pada dasarnya, jeda 2 jam ini perlu diterapkan, supaya anak juga belajar merasakan lapar dan kenyang.

Mengapa dua jam? Karena butuh waktu sekitar 100 menit bagi perut anak untuk melakukan pengosongan sebanyak 50%. Proses pengosongan ini, tentu saja akan semakin cepat, seiring bertambahnya usia anak. Juga ingat, hanya memberikan air putih selama kegiatan ini.

Contoh kasus : Ketika anak jam makan siang hanya makan sedikit, lalu orang tua merasa khawatir anak tidak kenyang. Kemudian jam 14.30 anak diberi snack, jam 16.00 snack lagi, jam 17.00 snack, jam 18.00 makan malam. Pertanyaannya, apakah di jam makan malam anak akan makan dengan lahap dan sesuai dengan porsinya? Pada keadaan ini, anak tidak mengalami proses pengosongan perut dengan baik. Karena orang tua selalu memberikan makanan, jadi anak pun belum bisa mengenali tanda lapar dan kenyang.

Batasi durasi hanya 30 menit sekali makan. Mengapa harus 30 menit? Cek poin selanjutnya.

Konsisten

Konsisten adalah kunci dari semuanya. Misalkan terkait jadwal pemberian makan. Ketika anak di jam makan tidak mau makan atau tidak lahap dan akhirnya tidak habis, maka jangan berikan apapun sebagai penggantinya. Anggapan “anak saya hanya mau snack, makan utamanya susah sekali” bisa saja karena orang tua yang menciptakan keadaan demikian. Selalu memberi makanan di luar jam makan utama. Jangan lupa, proses ini adalah salah satu kesempatan anak belajar. Maka, berikan kesempatan pada anak untuk merasakan kenyang dan lapar.

Kemudian terkait dengan durasi makan, 30 menit. Dari yang disampaikan oleh dokter Meta, fokus anak hanya selama 30 menit. Jika sekali makan lebih dari itu, maka kemungkinan hanya untuk main saja (diemut, dilepeh, memainkan makanannya atau yang lain). Lalu, bagaimana jika selama 30 menit anak tidak menghabiskan makanannya? Tetap harus diselesaikan. Jangan lupa, kita tengah mengajari dia. Hal ini juga diharapkan, ketika jam makan selanjutnya, anak kan menghabiskan makanannya karena dia memang lapar. Jadi, jangan diperpanjang dan jangan berikan snack di luar jam.

Jika anak selama makan menunjukkan tanda tidak ingin makan sama sekali, tidak ada salahnya memintanya untuk makan sendiri (jangan dipaksa apalagi dibujuk dengan iming-imin hadiah) . Jika selama 10-15 menit tetap tidak mau makan, maka segera akhiri saja proses makan tersebut.

Saya sendiri, akan segera membersihkan makanan anak ketika dalam 30 menit tidak habis, dan tentu saja tetap akan mencoba menyuapinya selama masih ada waktu. Termasuk ketika kakek dan neneknya ingin mengajaknya bermain, maka dengan tegas saya katakan “makannya belum selesai”. Benar, akan selalu ada perbedaan pengasuhan antar generasi. Dan perbedaan ini, saya sampaikan dengan baik karena memang bisa dijelaskan secara ilmiah.
Aturan makan anak

Lingkungan

Selain menu makanan yang bervariasi, lingkungan ketika anak makan juga akan menimbulkan kesan menyenangkan. Bayangkan saja, bagaimana jika setiap anak makan harus dimarahi atau bahkan dipaksa (dicekoki)? Apakah anak akan merasa senang? Pada akhirnya, yang tertanam pada anak adalah kegiatan makan yang menakutkan, penuh tekanan yang membuatnya stres dan bisa saja mengakibatkan trauma.

Saya sendiri tidak pernah memaksa anak ketika sedang makan. Misalkan anak sudah sangat tidak kooperatif, maka akan saya tunggu selama durasi waktunya. Dan jika tidak ada perubahan, akan segera saya sudahi. Karena hal ini ternyata juga membuat orang tuanya tidak stress, toh nanti bisa kita coba di sesi makan selanjutnya. Dengan catatan tidak ada pemberian makanan apapun di luar jam.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika makan adalah, tidak adanya distraksi. Bagi saya, ini tidak kalah pentingnya dengan komposisi makanan. Mengapa demikian? Karena anak harus pada kegiatan makannya, bukankah ini juga proses belajarnya?

Apakah anak-anak bapak dan ibu pernah makan dengan nonton TV? Lihat youtube di handphone atau tablet? Makan sembari jalan-jalan bahkan naik odong-odong? Bapak dan ibu, kesemuanya tadi adalah bentuk distraksi pada kegiatan makan anak.

Contoh: Youtube adalah sesuatu yang mengasyikkan untuk anak-anak. Ketika mereka sedang makan dan melihat youtube, apa yang terjadi? Anak akan fokus pada tontonannya. Bahkan tidak sadar jika sedang kita suapi. Kadang, justru makanan itu lupa dikunyah karena terlalu lama diemut. Jadilah anak tidak mengenali dengan baik sinyal lapar dan kenyang tersebut.

Di keluarga kami, sebagian besar masih melihat televisi bahkan gadget sambil makan. Maka, ketika kami sedang bertamu (ke rumah neneknya, misalkan), saya akan bawa anak saya ke luar (ruang tamu atau teras) ketika harus makan. Benar, karena di rumah kami biasakan tanpa televisi dan gadget. Beruntungnya, beliau memahami pilihan kami.

Di circle terdekat saya misalkan, ada ibu yang berseloroh, jika anaknya hanya mau makan kalau sambil jalan-jalan atau bahkan lihat handphone (youtube). Ini karena anak-anak itu melakukan apa yang dilihatnya (they see they do). Pertanyaannya, sudahkah kita memberi contoh yang baik pada mereka? Atau jangan-jangan, ketika makan kita justru fokus lihat handphone?

Itulah pentingnya konsisten. Biasakan dari awal anak belajar makan. Karena ketika anak semakin besar, memperbaikinya pun akan semakin susah.

Saya pribadi, sejak usia anak 6 bulan, mencoba menerapkan hal-hal tersebut di atas. Saya biasakan anak saya makan tanpa distraksi (tidak ada tv menyala, tidak ada gadget, mainan bahkan odong-odong). Durasi makan pun hanya 30 menit, tanpa pemberian apapun di luar jam. Apakah berjalan dengan baik? Sejauh ini, iya. Karena memang anak harus dibiasakan.

Makan bersama keluarga


Kesalahan dalam proses pemberian makan anak, jika dibiarkan berlarut-larut tentu saja akan berdampak buruk pada anak. Dokter Meta Hanindita menyampaikan, jika ada sekitar 50-60% orang tua melaporkan anaknya memiliki masalah makan. Dampak dari masalah maan sendiri, bisa saja berupa timbulnya gangguan pertumbuhan, mudah sakit, gangguan kognitif dan perilaku bahkan bisa menyebabkan kematian.

Tapi, ketika bapak dan ibu sudah menerapkan semuanya dan tidak ada perubahan, seperti misalkan ketika sudah mengatur jadwal makan tapi anak biasa saja (tidak menunjukkan lapar dan kenyang), bahkan ketika sudah dicoba makan tanpa distraksi juga tetap diemut saja? Bapak dan ibu, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Karena pada usia 9 bulan, anak saya pun tiba-tiba berubah pola makannya. Jadi sangat rewel ketika makan. Yang sebelumnya tidak pernah melepeh makanan, tiba-tiba jadi suka melepeh. Ya, intinya tiba-tiba suasana makan berubah sangat melelahkan. Segera saya putuskan ke dokter (dr Hapsari, Sp.A (K)), dan ternyata anak saya positif TB. Alhamdulillah, ketika silence disease tersebut diketahui dan diobati, pola makannya kembali seperti dulu dan tentu saja tetap saya terapkan aturan makan.

Masalah-masalah dalam pemberian makan memang dikarenakan pola pengaturannya yang tidak baik, namun ingat, ini hanyalah salah satu penyebabnya. Ketika semua cara sudah dilakukan dan tidak membuahkan hasil, jangan ragu untuk berkonsultasi pada dokter.

Siap mengenalkan feeding rules ke anak-anak segera? Kita usahakan ya bu, pak, karena tidak ada salahnya mengikuti anjuran ahli untuk kebaikan buah hati kita. Semangat bertumbuh menjadi orang tua.




Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangkai kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

8 comments

  1. Oh ternyata durasi makan yg terbaik hanya 30 menit saja ya.. Kadangkala saya melihat ada anak yg lamaaaa sekali saat makannya karena patokan ortunya adalah menghabiskan porsi, bukan durasi. TFS mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Karena anak perlu belajar tanda lapar dan kenyang. Kalo udah terbiasa, pada umumnya porsi makan akan tetap habis dalam durasi tersebut, harus dibiasakan sejak awal belajar makan sebaiknya dan konsisten :)

      Semoga bermanfaat ya mbak

      Delete
  2. Membaca ini jadi inget pas anak mau mpasi dulu hehehe, cuma sekarang sejak di rumah aja malah anak manja, malas gitu makan sendiri, minta disuapin, hehehe

    ReplyDelete
  3. Noted nih mbak..akan kuterapin nih buat bocilku yg msh 2.5 tahun. Kmrn2 sy suka ksh dia hp klu pas makan, dan klu sy males keluar ternyata kurang bgs ya itu..

    ReplyDelete
  4. Ya Allah jd keinget jaman anak pertamakali gimana perjuangannya hanya utk nyuapin dia. Udah lah semua artikel parenting ga berlaku. Makan kadang sampe 1 jam udah gonta ganti menu wes mumet pokoknya mbak. Hingga di suatu masa tiba2 si bocah doyan makan dgn sendirinya n bahkan harus distop sakit mulut ga brenti nguntyah padahal dlu susah bgt kalo disuruh ngunyah hahahah

    ReplyDelete
  5. Di lingkungan sekitar rumah yuni tu masih banyak ibu-ibu yang nggak mengenal feeding rules deh. Keponakanku saja tu ya makannya suka diemut. Mungkin benar. Salah satu penyebabnya ya karena ada distraksi saat makan.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, sebagian besar tips yang dijelaskan mbak Nimas di atas, cukup berhasil aku terapkan ke anak-anak jaman mereka kecil dulu. Sekarang, momen makan sudah jadi kebiasaan rutin yang tidak terlalu banyak drama.
    Paling si sulung, sempat ngerem makan, karena takut gemuk ^^

    ReplyDelete
  7. Oh begitu ya ternyata waktu makan itu hanya 30 menit kalau ternyata tidak habis, ya sudah jangan dilanjutkan ya, mendingan 2 jam kemudian ditawarkan lagi makanan. Terima kasih infonya.

    ReplyDelete

Post a Comment