Nimas

Pengabdian Istri Berbalas Surga



Sejak kecil, saya melihat bagaimana pengabdian istri pada suaminya dalam kacamata yang sempit. Karena ibu adalah single parent, maka saya belajar tentang hal itu dari seluruh rangkaian cerita ibu. Salah satu yang saya ingat sejak kecil sampai saat ini, ibu tidak pernah pulang terlambat ketika hari Jumat, sebab bapak rahimahullah selalu berangkat sholat Jumat jauh sebelum masjid ramai.


Dari ibu, saya belajar banyak tentang kebaktian istri terhadap suaminya. Kata ibu ketika saya masih SD, ibu hanya akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan apa yang suaminya mau. Sederhana sekali. Ibu pun belajar hal seperti ibu dari nenek. Rasanya memang sangatlah benar, jika ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya.


Tapi, seiring bertambahnya usia dan banyaknya literasi yang sampai pada saya, akhirnya saya menyadari bahwa berbakti pada suami adalah tentang ibadah, mencari pahala dan kebahagiaan.


Ada satu hadist yang begitu saya ingat sejak masih kuliah (biasanya hadits ini disampaikan di kajian-kajian pra nikah).


Banyak Wanita Masuk Neraka

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).


Hadits ini seperti sentilan bagi saya. Karena memang, nyatanya demikianlah sifat seorang wanita, terlebih kepada suaminya. Ketika sekali tidak mendapatkan apa yang diinginkan, maka dengan mudah akan menggelar suaminya sebagai “orang pelit” dan tak nampak baginya segala kebaikan suami selama ini.


Inilah yang saat ini menjadi pengingat bagi saya, betapa mudahnya bagi kami (kaum wanita) untuk masuk ke neraka. Mudah atau tidak ketika menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga, tentu sangat subjektif bagi setiap individu. Namun demikian, kita sebagai istri memang diperintahkan untuk bersyukur atas apa yang diberikan dan dilakukan suami. Ketika memang mereka (suami) telah mengusahakan yang terbaik bagi kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri dan memuliakannya.


Justru dengan mengingat hadits tersebut, menjadikan suntikan semangat itu bertubi-tubi mengaliri darah. Rasanya seperti ingin sekali melakukan banyak hal untuk suami. Tapi entah bagaimana caranya, ketika melihat suami tercukupi kebutuhannya, ada rasa puas, tenang sekaligus bahagia yang tidak dapat dijelaskan.


Selain itu, jangan lupa jika ada balasan yang setimpal bagi wanita yang taat pada suami serta mengerjakan segala kewajibannya, yakni Surga.


إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika wanita akan mendapatkan balasan yang besar yakni Surga, masihkah kita enggan untuk bersyukur atas yang telah dilakukan suami kita? Semoga, segala sesuatu yang kita kerjakan dalam pernikahan dan kehidupan rumah tangga, selalu bernilai pahala dan semoga kita termasuk dari para ahli Surga. Aamiin aamiin
Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email