Nimas

Ceritaku: Aku Penderita Covid 19




Sejujurnya, nggak pernah terbesit pikiran bakal nulis ini. Yap, aku seorang ibu yang positif jadi penderita covid 19. Flashback sebentar, di awal tahun 2020 ketika pandemi ini baru saja "menyapa" Indonesia, aku sama suami udah ngobrolin kondisi ini. Yaitu, kemungkinan besar orang terdekat atau justru kita yang akan terkonfirmasi. Kayak seleksi alam gitu. Dan, here we are. Kami berdua positif covid 19.

Btw, aku nulis ini dalam keadaan demam 39 celcius, badan kedinginan, kelelahan dan nyeri otot yang luar biasa. Jadi maaf ya, aku nggak cantumin gambar dulu (belum kuat bikin desain).

Tulisan ini, sebenarnya adalah buat kenangan aja. Kalau aku pernah ada di kondisi ini. Kondisi yang sangat nggak nyaman, buatku, suami dan juga bayi kami. Jauh sebelum kami positif, sesungguhnya kami mencoba menerapkan prokes seketat mungkin. Kami nggak mendatangi undangan apapun (kecuali tetangga dekat yang meninggal atau arisan bapak-bapak yang cuma 10 orang), nggak mengunjungi tempat ramai di jam sibuk (kami datang ke taman kota jam 9 pagi, ketika taman udah sepi banget), kami tahan diri buat liburan, kami tahan buat nggak lama-lama interaksi sama orang (ngobrol langsung sama tetangga dengan jarak yang lebih dari 2 meter).

Qadarullah, 3 hari lalu kami dinyatakan positif terkena virus ini. Ada yang bertanya, kenapa kami terkena, dari kana kami tertular. Ya Allah, sampai hari ini pun kami nggak pernah tahu. Kamipun nggak ingin menyalahkan siapa-siapa, jadi kami juga nggak berusaha mencari-cari siapa yang menjadi penularnya. Sekarang, kami hanya fokus untuk menyembuhkan diri dengan berbagai ikhtiar. Dan, ini adalah cerita saya. Selamat membaca, semoga ada pelajaran yang bisa diambil teman-teman :)

Sebelum Positif Menjadi Penderita Covid 19

Beberapa hari sebelum kami isolasi mandiri, suami lebih dulu mengalami beberapa gejala. Apakah kami mengira itu Covid 19? Tidak. Ke Puskesmas lebih dari 3 kali, dan obat yang diberikan adalah sakit kepala, vertigo, lambung dan penghilang nyeri (mefenamic acid).

Akhirnya, kami setuju dengan dokter di Puskesmas, bahwa suami mengalami vertigo karena setelah minum obat ini, sakit kepala mereda. Kondisi dirasakannya sekitar sepekan lebih.

Alhamdulillah aku masih baik-baik saja. Namun, di hari Rabu (16 Juni 2021), ketika dia memutuskan untuk bekerja setelah ijin 2 hari. Dia merasa ada yang aneh. Indera penciumannya beberapa kali tidak bekerja dengan baik. Sesekali bisa mencium, sesekali tidak. Bahkan, minyak telon nggak kecium baunya (padahal doi paling nggak tahan sama bau ini).

Nggak cuma itu aja, indera pengecapnya juga mulai melemah. Rasa-rasa pada makanan tidak sekuat biasanya (aku buatin teh anget dengan gula yang jauh lebih banyak dari biasanya, dia cuma nanya "ini dikasih gula nggak sih?"). Yes, aku mulai panik.

Malam itu (sekitar jam 22.00 WIB), suami putuskan untuk swab. Mencari tempat yang bisa mengeluarkan hasilnya dalam waktu cepat, ternyata tidak mudah. Akhirnya, pilihan jatuh di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto (hanya butuh 30 menit) dan kebetulan antrean nggak banyak.

Kami Positif Jadi Penderita Covid 19

"Halo? Kamu lagi apa? Adek udah tidur? Aku positif covid nih"


Yak. Itu adalah penggalan obrolan dengan suami by phone. Aku cuma minta dia cepet pulang aja sih, padahal di sana dia minta disiapin kamar dll buat isolasi mandiri.

Hari pertama. Hari pertama suami isoman. Petugas Puskesmas setempat nggak bisa visit, karena harus antre ditracing sama petugas khusus. Malam harinya, aku udah pesen beberapa vitamin dan minuman herbal. Jadi hari itu, suami konsumsi vitamin yang kita beli sendiri.

Dan drama pun terjadi. Anak bayi, emang deket banget sama ayahnya. Pas dia bangun, dan tau ayahnya ada di kamar sebelah, ribut dia minta main sama ayahnya. Sampai digedor-gedor pintu kamar sambil nangis-nangis nggak karuan.

"Ayah aja. Ayah aja. Mau ayah. Mau ayah"

Diulang-ulang terus aja sama dia. Sedih banget lihatnya. Digendongpun masih nangis. Hari pertama, aku kerepotan sih ngurus suami, bayi dan pekerjaan rumah. Tapi aku bersyukur, aku masih baik-baik aja.

Hari kedua. Hari ini, kami putuskan untuk swab ke rumah sakit, mengingat kondisiku sebagai orang yang kontak erat. Kenapa nggak di Puskesmas? Masih sibuk mereka, kasus overload. Banyak yang masih kepending, dan karena kita butuh kepastian, kita pilih ke swasta aja. Tapi tetep, mereka tracing kita by phone ya. Vitamin dari mereka dikirim semua, buat suami, aku dan bayi. Saking banyaknya kasus.

Malam sekitar habis Isya, aku dikabari suami. Aku positif. Aku masih ngerasa baik-baik aja. Cuma harus membiasakan diri, beraktivitas dengan masker medis rangkap dua. Nggak nyaman banget.

Menjelang dini hari, barulah aku ngerasa nggak enak badan. Ku pikir cuma gejala ringan, ternyata ini awal dari semuanya.

Hari ketiga. Hari ketiga buat suami dan hari kedua buatku. Aku mulai kehilangan tenaga. Nggak kuat masak, nggak kuat duduk, bahkan ngunyah makanan aja aku capek :')

Ternyata memang gini. Gejala yg aku alami, kelelahan yang luar biasa, kedinginan yang sampai menggigil, nyeri otot di seluruh tubuh dan sakit kepala yang luar biasa.

Dan untuk pertama kalinya, aku minum Qusthul Hindi. Ya Allah, ini pahiiiiiiit banget ya. Jadi dia itu serbuk yang kuat banget rasanya, dan kayak susah larut di air gitu. Aku nggak sanggup minum sih. Aku nyerah .

Hari ke empat. Ya, akhirnya aku tumbang. Seharian cuma makan sama tidur aja. Anak full sama ayahnya.

Meski begitu, aku bersyukur masih diberikan gejala yang nggak parah. Jadi kami bisa tetap di rumah aja sama bayi. Karena nggak kebayang sih, kalau harus isolasi di rumah sakit yang kondisinya lagi kayak gini :')

Setiap hari, setelah hari ke empat, alhamdulillah progres kembali sehat itu mulai kelihatan. Tapi, memang belum balik full sih. Nafsu makan masih belum balik, badan masih ada sisa-sisa loyo. Kami hanya tinggal menunggu untuk pemeriksaan lanjutan, setelah isolasi mandiri selama 10 hari.


Btw, sejak wabah ini muncul di Indonesia, aku termasuk yang percaya keberadaan virus ini. Aku nggak masalah sih, kalau ada yang nggak percaya sama virus ini. Yang bilang kalau virus ini cuma "fiktif" atau nggak seberbahaya pemberitaan, itu hak orang lain untuk menyikapi keadaan ini. Tapi, please banget, jangan tunjukkan itu di depan orang-orang yang lagi berjuang buat sehat, yang lagi berduka karena kehilangan orang tercintanya, apalagi di depan tenaga kesehatan yang kerja keras entah kayak gimana capeknya :'(

Kalau nggak percaya sama virus ini, paling nggak, sikap kita yang "nggak percaya" ini nggak menyakiti orang lain.

Oke, cukup deh curhatnya. Aku cuma berharap segera sehat seperti kemarin. Hari ini, aku menjadi penderita covid 19, dan semoga cerita ini bermanfaat.


Terima kasih sudah membaca, dan semoga Tuhan selalu menjaga kita. Aamiin aamiin
Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangaki kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

There is no other posts in this category.

1 comment

Post a Comment

Follow by Email