Nimas

Dari Rumah Aku Berdaya Dan Berkarya

Post a Comment


Halo, apakah teman-teman juga suka menambah barang di keranjang belanjaan daring tapi hampir tak pernah membayarnya?

Salam kenal ya …

Tulisan kali ini, mungkin rangkuman dari semua isi hati selama beberapa waktu yang lalu. Tentang keresahan bagaimana datang di dunia yang baru -motherhood-.

Selamat membaca tulisan dari rumah untuk dunia, dari saya


**
Beberapa orang yang mengetahui latar belakang pendidikan saya, mulanya akan sedikit terkejut dengan pilihan yang kini saya jalani. Sebab sangat jauh berseberangan, tapi entah bagaimana ini terasa sangat menyenangkan. Sejak kuliah, beberapa teman sudah merencanakan pekerjaan yang akan mereka coba. Kebanyakan memang memimpikan berada di perusahaan swasta bonafit atau BUMN yang yak tak kalah mentereng.

Saya suka mengobrol dengan mereka, membicarakan banyak hal tentang mimpi. Saya juga memimpikan hal yang sama. Memiliki jejak karir yang cukup bisa dibanggakan ketika tetangga di kampung mendengarnya. Namun saat itu, saya memutuskan tidak bekerja linier dengan latar belakang pendidikan saya.

Kenapa? Saya tidak nyaman. Tentu sangat tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan yang ribuan persen bertolak belakang, dalam segala hal. Bahkan, cara kami berkomunikasi pun sangat “nggak banget”. Namun, ini adalah pilihan saya. Hingga kemudian, ketidaknyamanan itu berubah menjadi kejenuhan.

“Lihat itu Nimas, sarjana hukum juga sekarang kerjanya malah di sini”. Bagi mereka, sarjana hukum seharusnya bekerja di tempat yang levelnya lebih tinggi dari mereka. Sejak saat itulah saya semakin sadar, bahwa tidak banyak orang yang peduli dengan alasan kita memilih. Yang mereka pedulikan adalah apa hasil yang bisa mereka nikmati lewat indera. Termasuk kesuksesan.

Selamat Datang di Quarter Life Crisis

Pernah dengar istilah ini? Secara psikologis, Quarter Life Crisis adalah keadaan dimana seseorang meragukan potensi dan cenderung membandingkannya dengan orang lain pada rentang usia yang tidak jauh, berkisar pada 20 sampai 30 tahun.

Ketika melihat teman-teman sudah memiliki pekerjaan yang cukup menjanjikan, sering kali saya bertanya “aku ini lagi ngapain, sih?”. Bagaimana tidak, kita memulainya pada titik yang sama tapi ternyata kami berhenti di tempat yang berbeda. Entah karena arah pantulan, gaya atau hal lain di luar itu semua.

Dulu, saya berpikir jika mereka lebih dulu sukses dalam banyak hal. Mereka punya mobil, karir yang menjanjikan di perusahaan, dana lebih untuk berlibur dan banyak hal yang tidak ada dalam hidup saya. Sampai pada titik, saya iri pada pencapaian teman-teman sebaya.

Sedih memang. Namun, memang saya pernah ada masa-masa seperti itu. Bahwa tidak mudah untuk masuk ke dunia baru.

Dari Rumah Untuk Dunia

Setelah berdiskusi cukup lama dengan suami, akhirnya disepakati saya tidak akan lagi bekerja setelah memiliki momongan. Saya ingin fokus mengurus anak-anak kami. Siapa sangka, jika inilah awal mula kehidupan saya yang baru.

“Haduh sayang banget sarjana hukum kalau nggak kerja”

“Sarjana Hukum banyak lowongan di Bank”

“Sarjana Hukum kalau nggak kuliah lagi ya biasa aja”

Itulah adalah beberapa ungkapan yang beberapa kali masih sampai ke telinga atau masuk ke aplikasi pengirim pesan di ponsel. Entah niatnya hanya basa-basi, atau yang lain, tapi kini saya bisa menyikapinya dengan lebih tenang.

Toh, sekalipun saya tidak bekerja di balik nama perusahaan besar atau menggunakan kendaraan inventaris kantor, saya masih tetap berdaya, kok.


Ibu Profesional?

Apa definisi ibu profesional menurut teman-teman? Rasanya kita akan kesulitan menemukan penjelasan ini di berbagai literatur. Sebab, hanya kita yang bisa mengartikannya secara personal.

Bagi saya, ibu profesional adalah setiap ibu yang tetap mampu berdaya dan berkarya apapun keadaan mereka. Tidak selalu mudah, namun setiap ibu yang berusaha untuk memberdayakan diri adalah ibu yang luar biasa menurut saya.

Kini, saya menikmati masa-masa di rumah dengan bayi kecil. Melihatnya tumbuh sesuai kurva kesehatan rasanya sangat membahagiakan. Ah benar, di tulisan ini saya tidak akan membandingkan diri dengan ibu yang bekerja di luar rumah ya. Mari tetap menjaga pilihan setiap ibu.

Tak Bisa Melangkah Tanpanya

Inilah awal mula langkah saya di mulai. Suami. Jika bukan karenanya, saya mungkin tidak akan seperti ini. Mendapat dukungan penuh dan sangat besar, rasanya sayang jika saya abaikan begitu saja.

Dia tahu, bahwa hobi saya adalah menulis. Maka sejak awal menikah dia sangat mendukungnya, bahkan sering kali dia mengambil alih posisi pengasuhan ketika saya harus segera menyelesaikan pekerjaan.

Tunggu, ini bukan tentang finansial. Tapi, bagaimana suami mengijinkan saya berdaya dengan hobi dan ketertarikan ini. Mengijinkan saya mengikuti banyak kelas daring ataupun luring, bertemu dengan banyak orang baru atau mendukung saya melakukan hal-hal baru.

Rasanya beliau memang ingin saya tetap berdaya, meskipun kini menjadi seorang istri dan ibu. Beliau memberikan fasilitas yang saya butuhkan untuk tumbuh.

Berdaya dan Berkarya Dari Rumah

Beberapa teman-teman sebaya kini menjadi manager sebuah bank, PNS, karyawan BUMN, pengusaha, notaris, jaksa, lawyer, staf Mahkamah Konstitusi dan beberapa sukses dengan magisternya. Benar, banyak sekali capaian yang bisa dilihat dari mereka.

Kini, saya tidak lagi iri melihat kesuksesan merek. Karena pada dasarnya, kita memiliki standar sukses yang berbeda. Apa yang mereka dapatkan, bisa jadi bukan yang kita butuhkan. Hanya karena kita tidak mencapai apa yang mereka lakukan, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa.

Menjadi blogger, content writer, penulis buku dan sesekali menggambar adalah hal-hal sangat menyenangkan bagi saya. Meskipun harus mengerjakannya di sela-sela keribetan urusan rumah, bahkan kadang sambil momong tapi saya nyaman melakukan semuanya.

Daripada saya membuang waktu dengan rasa minder terhadap teman-teman sebaya, rasanya lebih bijak jika waktu itu saya gunakan untuk berbagi hal-hal positif. Sebab, senang sekali rasanya ketika apa yang kita tulis itu berdampak pada pembaca. Dengan tulisan, kita tidak hanya menyusun kata menjadi kalimat, namun juga menyimpan mimpi dan harapan.

Meskipun 24 jam habis di dalam rumah, saya tetap bahagia dengan segala kesibukan urusan pribadi dan ceceran makanan bayi di mana-mana hehehe.


Di Rumah, Ngapain Aja?

Sangat tidak bijak, jika kita beranggapan bahwa para ibu yang berdiam di dalam rumah tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Ketika saya mulai menekuni dunia blogging, saya baru sadar jika manfaatnya begitu besar bagi banyak pihak.

Tidak hanya membantu pembaca menemukan solusi atau motivasi lewat tulisan, namun kita juga bisa membantu menggerakkan roda perekonomian. Mungkin skalanya tidak besar, tapi jika yang kecil mampu bergerak dan terus tumbuh kenapa harus mengejar yang besar tapi tidak pernah tumbuh?

Konferensi Ibu Pembaharu

Ada yang pernah mendengar ini? Atau ini adalah kali pertama?

Menghadirkan sebuah ekosistem bagi lahirnya para ibu yang mampu menemukan masalahnya dan menciptakan solusi untuk masalah tersebut, sehingga keberadaannya di muka bumi bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. - Misi Ibu Pembaharu

Ibu Pembaharu sendiri merupakan sebuah wadah yang di dalamnya adalah ibu-ibu yang datang dengan masalah dan menjadikannya sebuah tantangan, hingga penting sekali baginya untuk menemukan solusi. Salah satu harapan dari diadakannya kegiatan ini adalah, supaya tidak ada perempuan yang luput atau bahkan terlewatkan untuk maju dan menjadi berdaya. 

Konferensi ibu pembaharu sendiri sudah mulai dilaksanakan sejak 2019 yang lalu dengan harapkan, menajdi tempat bertemunya ibu-ibu dari berbagai wilayah yang datang dengan solusi untuk setiap masalahnya.

Sebab tak banyak ibu yang memiliki akses informasi mudah seperti kita. Inilah salah satu manfaat menjadi perempuan di era digital, yakni berbagi berbagi berita baik dan berdaya bersama. Hal ini juga selaras dengan tujuan diadakannya Konferensi Ibu Pembaru, yakni menjadi media publikasi untuk meningkatkan jumlah perempuan berpendidikan dan berkualitas.

Dari Ibu Untuk Ibu

Saat ini, semakin banyak media yang bisa diakses untuk memberdayakan diri, namun tak banyak yang memiliki informasi ini. Begitu pula dengan berkarya, banyak sekali ibu yang ingin tetap berkarya meski hanya dari rumah tapi tidak tahu harus bagaimana memulainya.

Dengan menjadi ibu rumah tangga, tidak lantas membuat kita tidak berharga dan merasa tidak berkontribusi apa-apa. Bukankah kita selalu memulainya dari rumah? Dari rumah untuk dunia. Salah satunya adalah dengan mendidik dan mengasuh anak-anak kita. Ini adalah permulaan yang sangat menentukan bagaimana wajah masa depan kita.

Yuk, kita jalan bergandengan bersama. Supaya tidak ada yang tertinggal jauh di belakang, supaya tidak ada yang lelah dan sendirian, supaya tidak ada yang tersesat dan tak kembali, dan supaya selalu bisa menguatkan tanpa meninggalkan. Mari berjalan bersama untuk menjadi ibu profesional dari rumah.



Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangkai kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

Post a Comment