Nimas

Mengolah Sampah Dengan Teknologi Terapan

28 comments
mengolah sampah di indonesia


Mengolah sampah, bukanlah tugas golongan tertentu. Sebab kini, sampah telah menjadi isu global yang dituntut untuk segera dicarikan solusinya. Masalah mengenai limbah ini, tidak hanya ada di Indonesia saja, hampir di berbagai belahan dunia juga mengalami hal serupa. Namun, tentu saja setiap negara itu punya cara bagaimana menyiasatinya.

Beberapa waktu lalu, kebetulan adab sebuah webinar yang mengusung isu ini menjadi tema utama. Sangat menarik. Sebab, sebagai ibu rumah tangga saya juga ikut andil dalam penambahan sampah di Indonesia. Sedih, kan. Selama webinar ini berlangsung, kita akan dibuat sadar betapa pentingnya kerjasama berbagai pihak untuk pengentasan masalah ini.

Salah satu yang cukup menarik untuk saya adalah, ketika disampaikan fakta-fakta mengenai permasalahan sampah di negara ini.

atasi masalah sampah di Indonesia

Apa Peran Kita Dalam Penumpukan Sampah Nasional?

Apakah tersindir dengan pertanyaan di atas? Saya pribadi bahkan tersindir, ya. Karena memang, diakui atau tidak kita juga punya peran dalam penumpukan sampah yang selalu mengalami penambahan setiap tahunnya.

Coba kita tanya pada diri sendiri, selama sepekan ini, jenis sampah apa yang paling banyak kita hasilkan? Kalau di rumah saya, jawabannya adalah plastik. Adakah yang sama?

Dari ketiga kategori sampah di atas, kategori residu lah yang butuh perhatian besar. Sebab sampai saat ini, belum dikelola dengan baik. Sampah-sampah ini dihasilkan dari banyak produk rumah tangga, seperti plastik bungkus makanan, popok sekali pakai, pembalut dan juga kain.

Bahkan, setelah tahu jika barang tersebut akhirnya akan menjadi limbah, nyatanya banyak juga yang tetap membuangnya bercampur dengan sampah yang lainnya. Hayoo? Siapa yang masih suka gini, nih? Padahal, seharusnya kita memilahnya sesuai dengan bahan sampah tersebut.

Inilah yang kemudian juga menyebabkan kegiatan di TPA menjadi tidak sesuai. Sebab tidak ada pemrosesan di sana, yang justru TPA menjadi tempat pembuangan akhir. Meskipun ada ratusan pemulung yang memilah sampah untuk kemudian dijual kembali, nyatanya tidak mengurangi masalah kita.

atasi sampah di Jepang

Belajar Memilah Sampah Dari Negara Tirai Bambu

Ada yang suka serial kartun anak-anak dari Jepang, Shinchan? Beberapa waktu lalu, diceritakan jika Misae dibuat pusing karena adanya surat edaran yang berisi perintah pemilahan sampah. Dijelaskan juga, bagaimana harus membuang kardus susu UHT, botol minuman hingga kotak makanan ringan.

Awalnya, saya pikir ini hanyalah rekayasa penulis saja untuk membuat konflik yang “menyentil”. Tapi, menurut Prof. Sunardi ternyata hal ini memang sebuah fakta. Di Jepang sendiri, ternyata memperlakukan sampah-sampah ini dengan cukup istimewa, ya. Sebab dikelola dengan sangat baik.

Pada satu hari, Misae marah-marah pada suaminya karena salah membuang jenis sampah sesuai jadwalnya sehingga menyebabkan sampah milik mereka tidak diambil petugas. Hal ini juga sesuai dengan kenyataan yang ada di sana, loh! Yap! Mereka juga memberikan jadwal khusus untuk pengambilan sampah berdasarkan jenis sampahnya.

Tutup botol, kertas, tusuk sate, kardus mie instan, hingga label pada botol minuman kemasan pun dipisahkan dengan baik. Benar sekali, Jepang menyediakan lebih dari 5 tempah sampah untuk jenis-jenis sampah yang berbeda.


Saatnya Teknologi Pengolah Sampah Ambil Peran

Ketika Teknologi Bantu Atasi Sampah Plastik

Salah satu penelitian yang dilakukan para teman-teman akademisi, salah satunya adalah dengan membuat alat pengolah limbah plastik. Seperti yang kita ketahui, bahwa lebih dari 80% sampah yang ada adalah sampah plastik yang tidak bisa direcycle kembali.

Saat ini, fokus teman-teman akademisi ini adalah membuat teknologi tepat guna, yang mana penelitian bertujuan untuk menyelesaikan masalah dengan menghasilkan produk.

mengolah sampah plastik


Dengan menggunakan alat ini, kita tidak perlu menyortir sampah plastik. Yang artinya, sampah plastik multi jenis (semua sampah kategori plastik), bisa kita lelehkan dan diolah kembali. Keren, kan? Limbah plastik ini memang perlu diolah lagi, karena mau bagaimanapun butuh waktu yang sangat lama untuk menguraikan secara alami.

Contoh nyata yang saat ini dihasilkan dari limbah komposit plastik ini adalah paving blok, kusen interior dan papan dekoratif. Keduanya sangat bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Apakah barang yang dihasilkan ini kuat? Jangan khawatir ya, karena untuk pembuatan barang-barang ini sudah ditambahkan dengan bahan-bahan tertentu. Jadi, secara kualitas sangat bisa diadu. Fyi, tidak ada bau yang dihasilkan dari alat ini, loh!

Salah satu riset lanjutan yang masih akan dikembangkan adalah permasalahan second polutan di lapangan. Hal ini dikarenakan untuk permasalahan yang terjadi pada penelitian aplikatif tepat guna, adalah diteliti sepanjang penggunaan alat. Jadi, ya sambil jalan sambil riset untuk mengoptimalkan penemuan ini.
Sampah harus diselesaikan, sampah harus dimanfaatkan -


mengolah sampah makanan

Urai Limbah Makanan Dengan Prototipe Thermal Composter

Siapa nih, yang sering terganggu dengan bau limbah makanan? Yap, sampah makanan ini memang butuh waktu lebih lama untuk bisa diolah kembali ya. Apalagi, limbah makanan ini bertambah sebanyak 300 kg/orang/tahun di Indonesia! Kebayang, nggak, sih gimana banyaknya sampah makanan yang kita hasilkan?

Bisa jadi, di situ ada sampah makanan yang berasal dari rumah kita :)

sumber sampah makanan


Beberapa masalah yang disebabkan dari sampah makanan ini adalah, jumlahnya yang terus bertambah tiap tahun, biaya mengolah yang mahal, pencemaran udara, air hingga tanah dan tentu saja durasi waktu pengomposan yang relatif lama.

Proses yang terjadi pada sampah makanan yang tanpa oksigen, sangat besar kemungkinan yang terjadi adalah proses anaerob. Dan jika terjadi proses ini, maka gas yang dihasilkan adalah amonia dan H2S, yang juga terjadi pada bau kentut.

Belum lagi kandungan selulosa, hemiselulosa, lignin dan lain-lain yang berbeda. Hal ini akan mudah terlihat pada pembusukan bagian-bagian sayur. Contohnya adalah daun lebih cepat busuk daripada bagian batang.

Mengapa sayuran dan buah-buahan ini menjadi penyumbang terbesar? Hal ini dikarenakan ada banyak bagian dari keduanya yang tidak kita manfaatkan, seperti akar, kulit, batang ataupun bagian lain yang tidak bisa dimasak. Ini juga termasuk penambahan sampah makanan. Auto inget semua sampah makanan di rumah sendiri :(

mengolah sampah makanan


Cara Menggunakan Thermal Composter

  • Masukkan bulking agent sebanyak 75% dari kapasitas, atau sekitar 2,5 kg sampah makanan
  • Limbah akan dicacah secara otomatis menjadi ukuran kecil, sekitar 1 cm
  • Panas suhu yang digunakan adalah sekitar 50 derajat Celcius
  • Sampah akan teraduk dan tercampur secara berkala, lalu akan masuk pada pengaduk spiral untuk dipanaskan dan pengomposan terjadi
  • Proses pengadukan butuh waktu 1 menit setiap 6 jam proses pengomposan
  • Produk kompos dapat digunakan setelah 3 hari pengolahan
Tentu saja 3 hari ini jauh lebih singkat, jika dibandingkan proses alami yang butuh waktu sampai 30 hari, kan? Benar, salah satu tujuan diciptakannya alat ini adalah untuk menyingkat waktu pengolahan sampah makanan. Untuk lingkup rumah tangga, rasanya alat ini sangat cocok untuk diadopsi di rumah kita. Biaya listriknya sendiri juga bergantung pada besaran KWh yang kita pakai.

penemu mesin pemisah sampah

Mengolah Sampah Adalah Tugas Bersama

Seperti yang dikatakan Prof. Sunardi, bahwa pengolahan sampah ini membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Sudah bukan lagi saatnya kita diam, sudah menjadi tugas kita untuk membantu pemerintah dalam mengentaskan masalah klasik ini.

Seperti yang kita lihat dari dua teknologi pengolahan sampah di atas, bahwa untuk menghasilkan alat-alat tersebut membutuhkan sumbangsih ide dan peran dari banyak disiplin ilmu.

Mengolah sampah sendiri, juga termasuk salah satu cara untuk menjaga kesehatan kita. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan memilah sampah rumah tangga dengan baik.

Dari dua alat di atas, mana alat pengolahan sampah yang teman-teman lirik? Aku pribadi berharap punya Prototipe Thermal Composter ini ya, karena cocok banget untuk ibu rumah tangga, sih hohohoho ...
Nimas Achsani
Blogger, content writer dan penulis buku. Tertarik dengan dunia pernikahan, psikologi, pendidikan dan finansial. Menulis bukan sekadar merangkai kata, namun juga menciptakan kenangan dan menebar manfaat.

Related Posts

28 comments

  1. wooh keren banget mengelola sampah dengan teknologi terapan, jadi sekarang sampah pun bisa di manfaatkan lebih baik lagi ya kak :)

    ReplyDelete
  2. Keren deh kedua teknologi ini. Moga bisa diadopsi oleh makin banyak orang, ya

    ReplyDelete
  3. Benar mba kalau pengolahan sampah ini tanggungjawab banyak pihak, tanggungjawab bersama. Jangan sampai yang lain abai. Bagus ini teknologinya dan semoga makin banyak teknologi ini

    ReplyDelete
  4. semoga Indonesia bisa menerapkan teknologi pengelolaan sampah seperti itu yaa mba, sudah mulai sih tapi masih parsial saya lihat ada beberapa pemukiman yang punya unit pengelolaan sampah seperti itu

    ReplyDelete
  5. Permasalahan sampah sampai saat ini belum juga terselesaikan ya mbak. Dan ibu rumah tangga termasuk penyumbang terbesar dari masalah sampah ini. Semoga pengolahan sampah dengan teknologi terapan ini bisa terealisasi dengan baik, sehingga kita bisa menikmati udara yang segar dengan minim sampah yang mengakibatkan polusi ini.

    ReplyDelete
  6. ah..aku juga tercubit saat mengikuti acara ini dari youtube mba.. sedih karena menjadi salah satu penyumbang masalah dan bertekat utk memperbaiki diri..

    ReplyDelete
  7. Aduh, ini nyentiiill banget!
    Secara aku juga jarang kepikiran utk ngolah sampah cem gini.
    makasiii insight-nya ya Kak.

    ReplyDelete
  8. Bagus nih ada edukasi seperti ini.... semoga saja bisa banyak yang mengadopsi, aku lagi berusaha juga sih sedikit demi sedikit mempraktekan ilmu tentang pengelolaan sampah ini.

    ReplyDelete
  9. kereen materinya. Memang sudah harus dimulai ini untuk semua anggota keluarga, mulai memilah milah sampah, sehingga nanti sampah pun bisa berguna kembali.

    ReplyDelete
  10. Belum pernah bikin komposter di rumah, beberapa kali pernah denger sih soal ini.
    Di rumah paling banter kami milahin sampah basah dan kering juga sampah yg berbahaya, sayangnya sih blm ada dukungan dr peuga sampah krn mereka main campur aja begitu sampah pindah ke mereka :(
    Bagus jg tu mbak alat utk melelehkan plastiknya

    ReplyDelete

  11. thermal composter ya bagus banget jadi sampah bisa diolah menjadi produk dalam waktu yang sangat singkat. Mudah-mudahan ini bisa jadi concern dan diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia ya kak

    ReplyDelete
  12. Sudah saatnya kita bergerak untuk mengambil peran dalam menanggulangi masalah sampah di sekitar kita, dimulai dari yang terdekat, yaitu sampah rumah tangga

    ReplyDelete
  13. thank you yaaa mba untuk semua infonya. Memang penting untuk kita tau mengenai pengolahan sampah ini yaaa

    ReplyDelete
  14. Penanganan masalah sampah ini memang patut jadi perhatian kita semua ya. Setidaknya kita bisa berkaca ke Negeri Tirai Bambu untuk pengelolaan sampah ini.

    Eh tapi sekarang sudah ada teknologi untuk mengelola sampah ya saya tertarik juga nih dengan alat Prototipe Thermal Composter.

    ReplyDelete
  15. Bagus banget, semoga bisa dikembangkan untuk penggunaan bersama, karena masalah sampah di Indonesia sudah cukup parah.

    ReplyDelete
  16. Benar-benar bagus tuh, mengelola sampah dengan teknologi. Pengelolaan Sampah adalah tugas kita bersama.

    ReplyDelete
  17. Aku setuju dengan kata "samapah harus dimanfaatkan"
    Selain mengurangi samaph, itu juga dapat melatih kreatifitas kita

    ReplyDelete
  18. Wah bagus banget ini. andai Bank Sampah punya kemampuan keuangan, bisa menggunakan alat ini dan menyerap lagi sampah yang ada di masyarakat. Sayangnya kebanyakan Bank Sampah minim modal

    ReplyDelete
  19. Bahas sampah emang kadang bikin ngganjel pikiran ya, karna hampir tiap hari kita produksi sampah, urusan begini kudu tuntas dari tingkat keluarga .. saatnya konsisten memilah sampah ..

    ReplyDelete
  20. Jepang memang ketat mbak memberlakukan sampah, karena negara mereka kecil, tentu mereka harus menjaga kelestarian alam lingkungannya agar tidka menjadi bencana nasional bagi mereka. Lagipula di sana itu sepertinya malu kalau buang sampah sembarang. Budaya malu ini penting memang ditingkatkan di negara kita. Btw, Jepang kayaknya belum berubah deh julukannya, negara matahari terbit. Kalau tirai bambu mah negaranya Putri Huan Zhu ^_^

    ReplyDelete
  21. Aku jadi lebih aware lagi tentang pengolahan sampah, mulai dari diri sendiri dan diterapkan dalam lingkup keluarga kecil deh. Dengan begini semoga masalah sampah sedikit-sedikit bisa diatasi.

    ReplyDelete
  22. Alatnya ini dijual dimana mbak? Sepertinya perlu banget buat kita sehari hari, karena kadang klo pas rajin masak, sampahnya baru 2 hari aja udah penuh

    ReplyDelete
  23. Sampah oh sampah...masalah yang terus berulang. Bersyukur sekarang di desa-desa sudah dikembangkan bank sampah sehingga sedikit banyak sudah membantu mengurai sampah.

    ReplyDelete
  24. Khususnya sampah plastik ya mbak. Aku pun sampai skrg masih blum bisa istiqomah dalam pemisahan sampah hiks. Wah alatnya kece ya

    ReplyDelete
  25. Sudah ada ya alatnya? Keren banget ini.. Pengen punya kalau ada. Selama ini masih pakai komposter biasa saja yang butuh waktu sebulan untuk jadi kompos. Alhamdulillah sudah mulai mengompos dari 3 tahun silam. Plastik juga sudah pernah disetor jadi paving blog. Selalu memilah sampah dan mengompos serta membawa wadah kalau belanja. Sedikit langkah menjaga bumi.

    ReplyDelete
  26. pelan-pelan aku sudah mulai memilah-milah sampah nih mbak, termasuk mengolah sisa kulit buah dan sayur di jadikan eco enzyme. semangat selamatkan buhi mulai dari langkah kecil dari rumah masing2.

    ReplyDelete
  27. emang sampah ini kudu jadi perhatian lebih ya Kak. Keren banget dah ada alatnya. Diriku dah memulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai, pelan-pelan dulu nih, Kak :3

    ReplyDelete
  28. Aku juga pengen punya composter, bisa sih ya bikin sendiri, tapi kok sepertinya ku tak setelaten itu. Udah pernah belajar eco enzyme juga, tapi mau praktek sendiri kok maju mundur cantik.

    ReplyDelete

Post a Comment