Nimas

Dari Kamar Kos Meluaskan Manfaat Hingga Negeri Syam


Kami Tumbuh Bersama Sedekah Nasi Bungkus

Kami menikah tahun 2017. Di tahun yang sama, suami berencana untuk membuat sebuah gerakan sosial. Sedekah Nasi Bungkus. Terlihat sederhana dan biasa memang. Namun bagi kami berdua, ini adalah sesuatu yang baru.

Alasan suami saat itu adalah ingin memberikan manfaat untuk orang lain. Tak bisa ku tolak, karena sepenuhnya ini adalah ide yang sangat bagus. Lalu, bagaimana kami memulainya?

Pasangan Baru, Goals Baru

Sebagai pasangan pengantin baru yang masih beradaptasi, kami pun memiliki banyak PR. Namun gagasan tentang gerakan ini tetap dilanjutkan. Karena bukankah kebaikan harus disegerakan?

Saat itu, suami menyampaikan rencananya. Jadi, kami sepenuhnya akan mengandalkan dana bantuan dari donatur. Sebab secara finansial, kami berdua jauh dari kata lebih. Untuk membayar sewa kos bulanan saja harus sangat menghemat gaji bulanan.



Singkat cerita. Setiap nasi bungkus yang akan dibagikan dihargai senilai 5.000 rupiah saja. Tidak ada batasan minimal yang dibebankan pada donatur. Berapapun yang mereka berikan, kami terima dengan senang hati.

Mulailah kami membagikan informasi tersebut pada WhatsApp Story. Mengajak siapapun yang melihat informasi tersebut untuk ambil bagian dalam kegiatan sosial ini. Alhamdulillah. Gayung bersambut. Beberapa teman bersedia membagikan sedikit hartanya dan percaya pada kami.

Amanah baru bagi kami dan khususnya suami.

Satu pekan. Dua pekan. Sebulan. Dua bulan dan hingga kini memasuki tahun ke 6 . Masya Allah. Aku pun menuliskan ini dengan haru. Hal sederhana yang kami mulai dari kamar kos berukuran 3x3 bisa bertahan sejauh ini.

Jadi Perantara Kebaikan dan Bermanfaat

Boleh dibilang, kami tidak membutuhkan pengakuan apa pun dan dari siapa pun. Karena gerakan ini memang tidak untuk mencari “nama”. Kami menjalankan gerakan ini berdasarkan amanah donatur.

Ya. Selama ada donatur yang membagikan hartanya, maka kami akan terus membagikan nasi bungkus untuk saudara-saudara yang membutuhkan.

Hingga beberapa bulan lalu, tepatnya di Desember 2023. Seorang teman mengirimkan pesan singkat yang membuatku berdegup.

“Doakan ya Nimas. Walaupun sedikit kami bisa seperti kalian. Bisa jadi perantara kebaikan dan bermanfaat”

Ya. Dia ingin mulai gerakan yang sama dengan kami di kota lain tempat mereka menggantungkan hidup. Masya Allah. Siapa yang menyangka, jika ada yang terinspirasi dengan kami?

Apa yang teman ini tanyakan, aku jelaskan semua. Tidak ada yang ditutupi, termasuk bagaimana cara kami mengelola keuangan. Kami sangat berhati-hati dengan uang dari donatur. Jadi sekecil apapun donasi yang masuk dan keluar, dicatat dengan baik.

Kami juga sampaikan pada teman kami, bahwa keterbukaan dalam gerakan sosial itu sangat penting. Karena ada amanah yang kita emban.Ada hak orang yang dititipkan pada kita.

Apakah kami hanya membagikan nasi bungkus saja? Tidak.

Di Bulan Ramadan beberapa tahun yang lalu, kami membagikan takjil di pinggiran jalan protokol. Bulan Ramadan yang lain, kami berdonasi ke sebuah panti asuhan kecil. Kami bagikan donasi pada yatim piatu dan dhuafa. Kami sumbangkan bantuan untuk korban bencana alam.

Senang rasanya bisa menjadi bagian dari senyum-senyum mereka yang tidak kami kenal. Melihat ibu yang menggendong anaknya dan ikut antre menerima takjil adalah pandangan yang tak terhapus sampai sekarang.

Ternyata Meluaskan Manfaat Juga Meluaskan Bahagia Kami

Dari harta para teman-teman donatur yang ditipkan pada kami, ternyata ada kebahagiaan yang juga diberikan pada kami. Melihat anak-anak segera menyerbu nasi bungkus kami atau ketika melihat para yatim yang tersenyum malu ketika menerima bantuan, adalah pemandangan yang enggan menghilang.

Namun, hal ini ternyata juga memiliki alasan ilmiah.

Jorge Moll di National Institutes of Health menemukan sebuah fakta bahwa ketika seseorang menyumbang untuk kegiatan amal, maka hal tersebut mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan kesenangan, sehingga mampu menciptakan perasaan positif.

Hal serupa juga disampaikan oleh Lay Institution dan Pop Psychology, bahwa memberi bantuan pada orang lain mampu membuat seseorang berada pada level bahagia paling tinggi.

Mungkin teman-teman juga pernah merasakan hal yang sama. Bukan seberapa banyak harta yang kita bagikan yang membuat bahagia. Namun kerelaan kita berbagilah yang membuat senyum kita mengembang dengan sendirinya. Setuju?

Rasanya, ini pula alasan yang membuat kita dengan @seedekah.nasbung terus bertahan sampai saat ini. Namun, ini bukanlah akhir dari perjalanan kami. Sebab masih panjang keinginan untuk terus memberikan manfaat bagi orang lain.


Berinfaq Tak Hanya Membagikan Harta, tapi Juga Perenungan

Bagi teman-teman muslim, tentu tahu bagaimana kekuatan infaq ini. Bahkan, sedekah jariyah merupakan salah satu amalan yang tidak putus sampai pemberinya meninggal.

Seringkali ini lah yang membuatku (secara pribadi) merenungi banyak hal. Kita sebagai umat beragama tentu ingin mendapatkan tempat istirahat terbaik di Surga, tapi seringkali kita begitu susah mengeluarkan sedikit harta untuk orang lain dengan berbagai alasan.



Padahal, jika kita lihat kembali, janji Allah pada pemberi sedekah tidaklah kecil. Ada sebuah kisah yang baru aku dapatkan beberapa hari lalu.

Singkatnya, si fulan ini masuk surga karena janda. Ya. Tanpa diketahui orang-orang, dia membagi gajinya menjadi dua bagian setiap bulan, untuk dirinya dan janda tersebut, hal itu terus dilakukan sampai dia meninggal.

Masya Allah, kisah yang indah ya :’)

Kini, ketika kita memiliki banyak kemudahan untuk membagikan harta pada kegiatan-kegiatan kemanusian dengan tepat. Salah satu perantara yang bisa teman-teman jadikan rekan kebaikan adalah LMI.

Lembaga Manajemen Infaq (LMI) ini merupakan salah satu yayasan filantropi yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Mari berkenalan dengan LMI, Lembaga Terbaik untuk meluaskan manfaat dengan berinfaq.


LMI, Menjadikan Infaq Semudah Mengirim Pesan Singkat

Jujur saja, kami pun kadang merasa kebingungan ketika harus mencari penerima infaq. Dengan adanya LMI Zakat, memberikan kami kesempatan meluaskan manfaat dengan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Begitu mengetahui keberadaan LMI Zakat, aku segera mencari tahu “siapa dia”. Ternyata kiprahnya di bidang kemanusiaan tak perlu diragukan lagi. Hal ini telah terbukti dari banyaknya kantor cabang yang tersebar di berbagai kota besar, termasuk di kota tempat tinggalku -Semarang-.





Namun, hal ini tentu tak menghalangi niatan kami untuk ikut meluaskan manfaat bersama LMI. Ada beberapa hal yang menurutku bisa menjadi pertimbangan, mengapa LMI layak menjadi rekan menebar kebaikan.


Alasan Menggunakan LMI Zakat

Pertama LMI Zakat telat terdaftar secara resmi di bawah Kementerian Agama yang dibuktikan dengan SK KEMENAG RI No. 184 Tahun 2016.

Kedua, Laznas LMI memiliki transparansi penyaluran dana. Menurutku ini penting sekali. Karena seperti yang aku bilang di awal, bahwa dana yang kita gerakkan adalah titipan dan di sana ada hak orang lain.




Laporan keuangan yang diunggah oleh LMI Zakat pada website resminya juga cukup jelas. Bahkan di tahun 2020, terlihat cukup banyak penyaluran dana untuk berbagai program. Benar. Ini adalah tahun di mana Indonesia sedang berjuang mengatasi pandemi.



Ketiga, LMI Zakat memiliki akses yang sangat mudah. Sebagai pengguna baru, aku merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Laznas LMI ini. LMI Zakat hadir dengan sangat dekat dengan masyarakat, baik melalui media sosial seperti Instagram, Facebook maupun layanan pelanggan pada aplikasi pengirim pesan WhatsApp.

Keempat, LMI memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berinfaq. Ini tentu saja solusi yang sangat tepat. Hanya dari rumah saja, kita bisa tetap bersedekah kapanpun dengan jumlah berapapun. Tidak hanya infaq, LMI Zakat juga memberikan akses serupa untuk wakaf hingga berqurban.

Kami Siap Meluaskan Manfaat Bersama LMI

Kini dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh LMI dan didukung dengan loyalitas para teman-teman donatur, kami siap menjadi partner untuk meluaskan manfaat bersama LMI.

Rasanya tidak ada lagi alasan bagi kami untuk tidak ikut serta mengambil kursi kebaikan di gerbong ini. LMI Zakat tidak hanya menjangkau yang terdekat, tapi juga menyapa saudara yang jauh di negeri sebrang.

LMI Zakat telah membuktikan, bahwa perkembangan teknologi digital adalah pintu gerbang bagi kebaikan. Ya. LMI telah memanfaatkan teknologi dengan begitu apik. Sehingga kita sebagai masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan mudah, cepat dan transparan.

Kini, kami pun bisa menyalurkan donasi dari teman-teman dengan lebih nyaman dan aman. Berawal dari kamar kos yang kecil, sekarang kami siap meluaskan manfaat hingga ke negeri Syam.





“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Meluaskan Manfaat” yang diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen Infaq dan Forum Lingkar Pena”



Source :
lmizakat.org/templates/Company_Profile_Laznas_LMI_2021.pdf
lmizakat.id


Nimas Achsani
Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Related Posts

1 comment

Niah Jee said…
MasyaAlloh, keren gerakan amal nya, Kak Nim. semoga Alloh senantiasa meRahmati ,,