Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fenomena Perubahan Iklim, Itu Nyata dan Mengerikan!

Dulu, rasanya pengetahuan tentang perubahan iklim hanya sebatas teks di buku pelajaran saja. Di mana melihat fenomena perubahan iklim hanya berupa tangkapan kamera dan narasi saja. Bukti nyata perubahan iklim yang paling aku rasakan dulu adalah durasi musim hujan dan kemarau yang tidak pasti.



Namun ternyata, fenomena itu akhirnya aku alami langsung! Di pergantian tahun 2023, Semarang dilanda hujan yang sangat deras dan berlangsung selama beberapa hari. Akibatnya, beberapa daerah yang sudah “langganan banjir” juga kena imbasnya. Pengungsian dan dapur umum didirikan di beberapa titik, bahkan suamiku pun terlibat di sana.

Ku pikir, banjir itu tidak akan datang ke tempat tinggal kami. Adakah yang tahu Kecamatan Tembalang? Ini adalah salah satu kecamatan yang berada di bagian Semarang atas. Tak disangka, banjir bandang itu datang.
Dokumen pribadi. Banjir Januari 2023.


Tak butuh waktu lama, sampai akhirnya perumahan dikepung oleh air. Banyak barang kami yang hanyut, rusak dan bangunan yang juga mengalami kerusakan, Tidak tanggung-tanggung, banjir itu datang dua kali dalam waktu selisih sebulan saja.

Hati siapa yang tidak patah? Melihat rumah yang baru saja dimiliki dengan tumpah ruah keringat, digenangi lumpur di seisi rumah.

Banjir bandang sebesar itu, baru pertama kali terjadi. Bukan hanya kami pendatang di perumahan yang terkejut dan terpukul, tapi warga perkampungan pun ikut berkabung.

Dokumen pribadi. Banjir Februari 2023.
 

Mulanya, aku mengira jika banjir tersebut karena salah satu tanggul yang dekat dengan perumahan jebol. Namun, ternyata tidak demikian. Suamiku mengatakan, jika banjir itu dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi. Bahkan, jumlahnya sama besarnya dengan jumlah curah hujan dalam setahun, dan turun hanya dalam sehari. Bisa dibayangkan?



Air sederas dan sebanyak itu, akhirnya menghantam berbagai bangunan di sekitarnya. Hal menakutkan seperti ini, apa lagi jika bukan karena dampak perubahan iklim? Mungkin bagi teman-teman yang belum merasakan langsung, berada di tengah kepungan air yang sangat banyak dan deras dengan menggendong seorang anak, ini bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Namun tidak bagiku. Fenomena perubahan iklim itu nyata dan sangat dekat dengan kita. Bukan hanya musim kemarau yang panasnya semakin menyengat, tetapi juga hujan yang semakin panjang.

Anakku yang berumur 3 tahun bertanya, kenapa rumah kami kebanjiran. Dengan sederhana aku menjelaskan, jika banjir bisa saja datang karena air sungai yang meluap dan banyaknya sampah di sana, sehingga air tersebut masuk ke rumah-rumah karena sungai sudah sangat penuh.

Apakah dia paham? Paham. Pemahaman dia sesederhana membuang sampah di ikrak atau keranjang agar got tidak mampet dan tidak banjir lagi.

Bayangkan saja. Anak umur 3 tahun bisa kita ajak membicarakan isu lingkungan yang sangat krusial ini dengan bahasa sederhana. Jika mereka saja bisa memahaminya dan mengaplikasikan dengan mudah juga menyenangkan, mengapa kita yang dewasa tidak?

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengatasi Fenomena Perubahan Iklim Ini?

Ada banyak yang bisa kita lakukan sebenarnya untuk meminimalisir hal ini. Bagiku sebagai ibu rumah tangga, tentu semuanya berawal dari rumah.


 
Baik berbelanja dengan sangat menekan penggunaan kantong plastik. Menghemat penggunaan energi rumah tangga, seperti mematikan lampu jika sudah pagi, tidak menyalakan kipas angin kecuali sangat panas.

Lalu, aku juga sudah mengenalkan dan membiasakan anak untuk bepergian menggunakan transportasi umum, misalnya bus Trans dan angkot. Hal ini juga dilakukan suami. Setiap hari Rabu, dia akan berangkat kerja menggunakan transportasi umum. Menariknya, ini adalah himbauan untuk semua ASN di Kota Semarang.

Tidak hanya itu saja. Aku juga mengajak si kecil untuk menanam di pot (karena lahan yang kami miliki sangat terbatas) dan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai pot.

Mungkin yang aku lakukan belum lah signifikan. Namun bagiku, semua hal besar berasal dari kebiasaan kecil yang kita lakukan. Sejak terkena banjir, aku kini mulai menyimpan minyak jelantah dalam botol dan memberikannya pada teman untuk diproses kembali menjadi sabun.

Ya. Alam butuh dukungan kita semua untuk menjaga keseimbangannya. Mungkin tenagaku tidak cukup jika harus membersihkan sungai, tetapi aku punya cukup tenaga untuk memungut sampah di jalan dan memasukkannya ke tempat sampah, atau menyimpannya dalam tas dan membuangnya di rumah.

Memang ku sadari betul, jika aku tidak bisa melakukannya sendirian. Butuh dukungan banyak pihak, agar kepungan banjir bandang tidak lagi menjadi mimpi buruk bagi kita semua.


Greenation Foundation, Buat Kita Tak Sendirian Bergerak untuk Alam

Jujur saja, melihat sungai dekat rumah yang bentuknya tak lagi sama membuatku miris. Pasalnya, bukan hanya endapan lumpur yang semakin bertambah, tetapi juga banyak rumpun bambu yang roboh dan sampah-sampah yang tersangkut di sana.

Namun, ini memang fakta. Banjir bandang bulan Januari dan Februari, juga menghanyutkan banyak sekali sampah. Beruntungnya, aku menemukan Greenation Foundation di tengah proses menata kembali hidup pasca banjir.

Adakah yang tahu Greenation Foundation?


Berikan Donasi Kita, Karena Banyak Hal yang Bisa Dilakukan untuk Bumi

Greenation Foundation adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak untuk mewujudkan implementasi produksi dan konsumsi berkelanjutan dengan cara melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Menariknya, aku pun bisa menjadi bagian dari gerakan ini. Tidak. Tentu saja tanpa meninggalkan rumah. Caranya? Adalah dengan menjadi donatur.

Mudah sekali untuk turut berkontribusi pada semua kegiatan Greeneration Foundation untuk mengembalikan kondisi lingkungan sebagaimana mestinya, antara lain dengan mengikuti Greeanation Buddies (GB), volunteer dan donatur.


 



Sebagai ibu rumah tangga, dengan menjadi donatur adalah solusi terbaik untuk ikut andil dalam restorasi lingkungan. Tak perlu dengan nominal yang besar, hanya dengan 10.000/bulan kita sudah ikut mengambil peran mulia tersebut.

Apakah teman-teman juga ingin ikut menjadi donatur?



Bagaimana? Sangat mudah bukan untuk donasi di Greenation Foundation ini? Secara pribadi, aku menaruh banyak harap pada Greenation Foundation. Itulah mengapa, begitu tahu kegiatan di dalamnya, tak segan untuk langsung ikut donasi.

Karena bagiku, melihat fenomena perubahan iklim dengan mata kepala bukanlah kenangan yang mudah dilupakan. Bahkan ketika menuliskan ini dan mencari berbagai foto ketika banjir, rasa sakit dan takut ketika berada di tengah air kembali datang.



Seandainya teman-teman tahu, dampak perubahan iklim ini telah meninggalkan trauma tersendiri bagiku. Itulah mengapa, di Hari Bumi ini, aku ingin mengajak banyak orang untuk ambil peran terbaiknya dalam menekan dampak perubahan iklim.

Percayalah, ada banyak manusia yang akan ikut merasakan manfaat dari bantuan kita. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan Greeantion Foundation, siapa lagi?





Source :
https://greeneration.org/about/ 
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/02/16/suhu-permukaan-bumi-naik-089-derajat-celcius-pada-2022
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cxrqrn5vl2zo#:~:text=Suhu%20di%20Bumi%20pada%20tahun,industri%20atau%20sebelum%20Revolusi%20Industri.
Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Fenomena Perubahan Iklim, Itu Nyata dan Mengerikan!"