Ingin Didengar Lewat Barisan Kata
Rasa tenang itu mahal harganya. Harus dibayar dengan kegagalan, kehilangan dan kecewa yang ditelan sendirian sampai tubuh belajar bertahan. Hidup ini tidak pernah ada yang mudah. Satu dua orang mungkin menguatkan, tetapi entah dengan lain. Topeng kadang menjadi andalan, ketika diri sudah tersudut tak bisa lagi mengelak pada apapun.
Menulis adalah salah satu momentum untuk megenali diri lebih mendalam, sama halnya dengan deep talk dengan Tuhan. Kini, aku mulai menikmati menulis untuk diri sendiri.

Menariknya, aku juga menderita masalah kesehatan mental. Ini bukanlah hal yang mudah, baik di awalnya maupun sekarang. Rasanya berbagai hal bertabrakan dengan masing-masing dinding. Dihantam sana-sini hingga akhirnya tidak ada alasan selain bertahan.
Bertahan dengan kondisi ini tidaklah mudah. Aku harus mengendalikan diri dan meregulasi emosi dengan baik agar tidak ada pihak-pihak yang terluka, baik dengan kata-kata maupun tindakanku.
Sebagai blogger, aku ingin pesan ini tersampaikan dengan baik tanpa meminta welas asih dari banyak orang. Aku tidak ingin dikasihani, aku hanya ingin didengar sebagai seorang ibu yang mengidap masalah kesehatan jiwa.
Aku ingin memutus stigma bahwa penderita masalah kesehatan jiwa hanya bisa berdiam diri di bilik Rumah Sakit Jiwa atau bahkan berakhir dengan pasungan di tubuhnya. Miris sekali melihatnya. Ingin ku tunjukkan, bahwa penderita kesehatan mental juga bisa bersuara dengan lantang terkait berbagai hal yang terjadi di sekitarnya.
Blogku mungkin tidak banyak artikel yang membahas tentang kesehatan mental, sebab menulis pun bukan hal yang mudah. Salah satunya adalah melawan diri sendiri agar tetap produktif ketika badan sama sekali tidak punya tenaga untuk sekadar mengetik di ponsel. Jangankan membuka laptop, membuka aplikasi pengirim pesan saja terasa sangat berat.
Namun, aku juga ingin menyampaikan bahwa jangan pernah melabeli diri dengan berbagai macam diagnosis yang hanya bisa dilakukan oleh ahlinya. Saat ini banyak orang yang mengaku dirinya mengalami gangguan kecemasan, tetapi sama sekali belum pernah melakukan pemeriksaan mendalam di psikiater. Aku sangat menyayangkan hal tersebut.
Apakah aku melakukan self diagnosed? Tentu saja tidak. Aku sudah melakukan pemeriksaan mendalam dengan psikiater dan melakukan pengobatan hampir 3 tahun lamanya. Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Oleh karenanya, aku pun ingin menyuarakan hal ini.
Bahwa kami para penderita masalah kesehatan jiwa juga berjuang untuk bertahan hidup. Bahwa kami tidak meninggalkan ritual keagamaan. Jadi, hilangkan stigma negatif tentang kami, kami tidak seburuk atau bahkan sejahat apa yang ada di pikiran teman-teman.
Adakah yang pernah melihat drama Korea yang berjudul Daily Dose of Sunshine? Di salah satu episodenya, ada seorang penderita skizofrenia yang mengalami penolakan dari lingkungan tempat tinggalnya karena dianggap membahayakan. Aku sangat sedih melihatnya, aku paham perasaan yang ingin dimunculkan dalam cerita tersebut.
Begitulah faktanya. Kami sering dianggap sebelah mata, tanpa pernah bertanya apakah kami sudah makan siang? Apakah kami sudah jalan pagi?
Karena tidak pandai berbicara, aku ingin bersuara lewat tulisan-tulisan. Aku ingin ada berbagai pihak yang membacanya, baik penyintas hingga para support system. Sekali lagi ku bilang, ini bukanlah hal yang mudah.
Alasan lain kenapa aku masih memaksakan diri untuk tetap ngeblog adalah karena menulis salah satu coping mechanism. Oleh karenanya, dokter pun menyarankan agar aku tetap menulis (semampunya). Maka kini, aku tidak lagi terlalu berorientasi pada cuan, orientasi utamaku adalah hidup dengan baik.
Uang bukanlah segalanya bagiku. Toh pada akhirnya aku tetap harus minum obat setiap hari tanpa boleh terlewat sehari pun.
Salah satu cara yang aku lakukan untuk menjaga ritme menulis di blog adalah dengan bergabung dengan komunitas Blogger. Menurutku, hal ini cukup membantuku konsisten menulis, meskipun sebulan sekali belum tentu ada tulisan organik.
Komunitas blogger yang aku ikuti saat ini adalah Blogspedia. Di komunitas ini aku bisa menjadi diriku sendiri, menulis semampuku dan beristirahat semauku. Sehingga lebih mudah bagiku untuk menjaga ritme menulis.
Di Blogspedia aku tidak dihakimi atas apa yang terjadi padaku, aku diterima dengan baik. Ada waktu di mana aku menghindari berbagai komunitas blogger, tetapi kemudian ku putuskan untuk bergabung lagi agar aku bisa bertahan hidup.
Bagiku, ngeblog tidak sekadar mencari rupiah saja, itu hanya bonus dari Tuhan. Ngeblog bagiku kini adalah menyampaikan perspektif lain terhadap kondisi diri secara personal. Agar paling tidak, ada orang yang merasa terbantu atau bahkan dikuatkan dengan tulisan-tulisan tulus kita.
Ketika aku masih ngeblog dan bersuara tentang kesehatan mental, maka aku masih hidup. Sebab, akan selalu ada pesan yang ingin ku sampaikan pada pembaca. Semoga aku bisa istiqomah menjalaninya.
Tahun 2026 ini, ada banyak hal yang aku syukuri, salah satunya ya bisa tetap terhubung dengan para teman-teman blogger. Meskipun belum comeback sepenuhnya, belum aktif seperti dulu, paling tidak aku tetap hadir sesuai dengan porsi yang aku mampu.
Tidak masalah jika langkah kita tidak sama dengan orang lain. Mungkin saat ini kita butuh jeda lebih lama, istirahat lebih panjang dan mengenali diri lebih dalam dari kemarin. Uang memang membuat bahagia, tetapi tak selamanya kebahagiaan itu tentang uang saja. Kadang juga tentang tulisan yang menginspirasi pembaca tanpa pernah bertatap muka.
Jadi, bagaimana menurut teman-teman, apakah menulis juga menjadi bagian perjalanan sembuh kalian? Yuk sharing di kolom komentar, ya. Semangat sembuh untuk semua sakit kita.
#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah
Menulis adalah salah satu momentum untuk megenali diri lebih mendalam, sama halnya dengan deep talk dengan Tuhan. Kini, aku mulai menikmati menulis untuk diri sendiri.

Aku Juga Ingin Didengar
Aku bukan ibu yang suka banyak bicara dengan orang lain. Aku lebih suka berdiam di rumah, membaca buku atau menonton film. Namun sebagai ibu sekaligus makhluk sosial menuntutku menjadi pribadi yang berbeda, harus bertemu banyak orang hingga menanggapi basa-basa yang tak bertepi.Menariknya, aku juga menderita masalah kesehatan mental. Ini bukanlah hal yang mudah, baik di awalnya maupun sekarang. Rasanya berbagai hal bertabrakan dengan masing-masing dinding. Dihantam sana-sini hingga akhirnya tidak ada alasan selain bertahan.
Bertahan dengan kondisi ini tidaklah mudah. Aku harus mengendalikan diri dan meregulasi emosi dengan baik agar tidak ada pihak-pihak yang terluka, baik dengan kata-kata maupun tindakanku.
Sebagai blogger, aku ingin pesan ini tersampaikan dengan baik tanpa meminta welas asih dari banyak orang. Aku tidak ingin dikasihani, aku hanya ingin didengar sebagai seorang ibu yang mengidap masalah kesehatan jiwa.
Aku ingin memutus stigma bahwa penderita masalah kesehatan jiwa hanya bisa berdiam diri di bilik Rumah Sakit Jiwa atau bahkan berakhir dengan pasungan di tubuhnya. Miris sekali melihatnya. Ingin ku tunjukkan, bahwa penderita kesehatan mental juga bisa bersuara dengan lantang terkait berbagai hal yang terjadi di sekitarnya.
Blogku mungkin tidak banyak artikel yang membahas tentang kesehatan mental, sebab menulis pun bukan hal yang mudah. Salah satunya adalah melawan diri sendiri agar tetap produktif ketika badan sama sekali tidak punya tenaga untuk sekadar mengetik di ponsel. Jangankan membuka laptop, membuka aplikasi pengirim pesan saja terasa sangat berat.
Namun, aku juga ingin menyampaikan bahwa jangan pernah melabeli diri dengan berbagai macam diagnosis yang hanya bisa dilakukan oleh ahlinya. Saat ini banyak orang yang mengaku dirinya mengalami gangguan kecemasan, tetapi sama sekali belum pernah melakukan pemeriksaan mendalam di psikiater. Aku sangat menyayangkan hal tersebut.
Apakah aku melakukan self diagnosed? Tentu saja tidak. Aku sudah melakukan pemeriksaan mendalam dengan psikiater dan melakukan pengobatan hampir 3 tahun lamanya. Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Oleh karenanya, aku pun ingin menyuarakan hal ini.
Bahwa kami para penderita masalah kesehatan jiwa juga berjuang untuk bertahan hidup. Bahwa kami tidak meninggalkan ritual keagamaan. Jadi, hilangkan stigma negatif tentang kami, kami tidak seburuk atau bahkan sejahat apa yang ada di pikiran teman-teman.
Adakah yang pernah melihat drama Korea yang berjudul Daily Dose of Sunshine? Di salah satu episodenya, ada seorang penderita skizofrenia yang mengalami penolakan dari lingkungan tempat tinggalnya karena dianggap membahayakan. Aku sangat sedih melihatnya, aku paham perasaan yang ingin dimunculkan dalam cerita tersebut.
Begitulah faktanya. Kami sering dianggap sebelah mata, tanpa pernah bertanya apakah kami sudah makan siang? Apakah kami sudah jalan pagi?
Karena tidak pandai berbicara, aku ingin bersuara lewat tulisan-tulisan. Aku ingin ada berbagai pihak yang membacanya, baik penyintas hingga para support system. Sekali lagi ku bilang, ini bukanlah hal yang mudah.
Pertanda Masih Hidup
Salah satu pertanda aku masih hidup adalah masih ada tulisan baru di blog. Sederhana sekali. Karena bagiku, blog adalah rumah singgah yang akan selalu aku kunjungi, dalam keadaan baik maupun lelah compang-camping.Alasan lain kenapa aku masih memaksakan diri untuk tetap ngeblog adalah karena menulis salah satu coping mechanism. Oleh karenanya, dokter pun menyarankan agar aku tetap menulis (semampunya). Maka kini, aku tidak lagi terlalu berorientasi pada cuan, orientasi utamaku adalah hidup dengan baik.
Uang bukanlah segalanya bagiku. Toh pada akhirnya aku tetap harus minum obat setiap hari tanpa boleh terlewat sehari pun.
Salah satu cara yang aku lakukan untuk menjaga ritme menulis di blog adalah dengan bergabung dengan komunitas Blogger. Menurutku, hal ini cukup membantuku konsisten menulis, meskipun sebulan sekali belum tentu ada tulisan organik.
Komunitas blogger yang aku ikuti saat ini adalah Blogspedia. Di komunitas ini aku bisa menjadi diriku sendiri, menulis semampuku dan beristirahat semauku. Sehingga lebih mudah bagiku untuk menjaga ritme menulis.
Di Blogspedia aku tidak dihakimi atas apa yang terjadi padaku, aku diterima dengan baik. Ada waktu di mana aku menghindari berbagai komunitas blogger, tetapi kemudian ku putuskan untuk bergabung lagi agar aku bisa bertahan hidup.
Bagiku, ngeblog tidak sekadar mencari rupiah saja, itu hanya bonus dari Tuhan. Ngeblog bagiku kini adalah menyampaikan perspektif lain terhadap kondisi diri secara personal. Agar paling tidak, ada orang yang merasa terbantu atau bahkan dikuatkan dengan tulisan-tulisan tulus kita.
Sebab aku selalu percaya, apa yang disampaikan dengan hati akan diterima dengan hati juga.
Ketika aku masih ngeblog dan bersuara tentang kesehatan mental, maka aku masih hidup. Sebab, akan selalu ada pesan yang ingin ku sampaikan pada pembaca. Semoga aku bisa istiqomah menjalaninya.
Tahun 2026 ini, ada banyak hal yang aku syukuri, salah satunya ya bisa tetap terhubung dengan para teman-teman blogger. Meskipun belum comeback sepenuhnya, belum aktif seperti dulu, paling tidak aku tetap hadir sesuai dengan porsi yang aku mampu.
Tidak masalah jika langkah kita tidak sama dengan orang lain. Mungkin saat ini kita butuh jeda lebih lama, istirahat lebih panjang dan mengenali diri lebih dalam dari kemarin. Uang memang membuat bahagia, tetapi tak selamanya kebahagiaan itu tentang uang saja. Kadang juga tentang tulisan yang menginspirasi pembaca tanpa pernah bertatap muka.
Jadi, bagaimana menurut teman-teman, apakah menulis juga menjadi bagian perjalanan sembuh kalian? Yuk sharing di kolom komentar, ya. Semangat sembuh untuk semua sakit kita.
#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah

Post a Comment for "Ingin Didengar Lewat Barisan Kata"
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga tulisan di blog ini bermanfaat untuk teman-teman. Jangan lupa untuk tinggalkan cuitan di kolom komentar dan jangan meninggalkan link hidup yak :)