Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ada Apa dengan Kesehatan Mental

Kali ini, mari kita bicara tentang refleksi di balik layar. Sebagai blogger, rasanya kami akan memiliki alasan yang personal. Hal tersebut tentu sangat bergantung dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang pendidikan hingga kesehatannya.

Banyak hal besar bermula dari langkah kecil yang dilakukan secara kontinyu. Sama halnya dengan ngeblog. Setiap tulisan akan membawa pembacanya sendiri-sendiri. Setiap latar belakang akan selalu menemukan pembacanya.

Beberapa waktu lalu, aku pernah mendapat pesan dari seseorang yang tidak ku kenal. Isi pesan beliau adalah bahwa tulisanku sangat relate dengan kehidupannya dan berterima kasih karena sudah menuliskan hal tersebut. Hubungan kami kini telah menjadi teman dunia maya. Paling tidak, kami memiliki latar belakang isu yang sama, hanya saja dikemas dengan sampul yang berbeda.

masalah kesehatan mental

Apa Salahnya Putar Balik di Jalan

Awalnya, niche blog yang aku pilih belum terlalu tertuju pada satu bahasan. Ternyata di perjalanan, aku ingin memutar balik dan memilih salah satu jalan yang berbeda. Kali ini, niche blog yang aku pilih adalah seputar kesehatan mental.

Tentu saja ada alasan yang menjadi sebab kenapa aku memilih putar haluan di tengah jalan. Salah satu alasannya adalah karena aku sudah menjalani proses pengobatan selama 3 tahun. Ada banyak insight yang aku dapatkan selama melakukan pengobatan dengan konsumsi obat-obatan psikiatri.

Putar balik di tengah jalan tidak melulu karena kita tidak paham arahnya ke mana, sebab bisa jadi justru karena kita tahu jalur yang benar, maka kita memutuskan putar balik meskipun harus mulai lagi dari nol.

Kali ini, niche yang ingin aku kembangkan untuk blog yang sedang aku kelola adalah kesehatan mental. Harapanku, semoga semakin banyak orang yang aware dengan kesehatan mental. Bahwa kesehatan mental itu tidak sesederhana kurang berdoa saja atau kurang bersyukur.

Kesehatan mental juga melibatkan zat kimia dalam otak yang mempengaruhi cara kerjanya. Sehingga ketika zat kimia tersebut tidak normal, yang muncul adalah perilaku-perilaku yang mencirikan masalah kesehatan mental.

Niche baru ini tentu saja tidak menghilangkan jati diri blogku itu sendiri. Sebab justru membuatnya semakin matang dan bertumbuh. Bukankah bertumbuh pun butuh waktu yang tidak sebentar?

Aku ingin kesehatan mental menjadi salah satu kondisi yang divalidasi kehadirannya, bukan denial atau bahkan diabaikan begitu saja. Sama dengan kondisi “sakit” fisik, masalah kesehatan jiwa pun juga perlu disembuhkan. Menariknya, pengobatannya tidak bisa dilakukan linear seperti luka gores di tubuh.

Mengobati masalah kesehatan jiwa itu komplek, naik turun, bolak balik tidak menentu arah dan waktunya. Salah satu yang jelas, kami bisa relapse kapan pun.

Hal ini lah yang juga menjadi alasanku kenapa akhirnya memilih niche kesehatan mental. Bahwa aku ingin mencatat kondisiku ketika sedang tidak baik-baik saja. Teman-teman mungkin tidak akan tahu apakah aku menulis dalam kondisi mental yang baik atau tidak, tapi bagiku melihat kembali hal kecil adalah salah satu pencapaian yang sangat patut diapresiasi.

Dalam perjalanan perenungan, muncul pertanyaan, mengapa memilih niche kesehatan mental ini? Jawabannya ternyata sederhana sekali, aku ingin menghapus stigma negatif tentang penderita kesehatan mental, Entah kenapa, masyarakat sangat mudah melabeli ODMK maupun ODGJ dengan begitu mudahnya.

Kesehatan mental masih menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Seolah ada tabir pembatas yang tinggi, antara yang sakit dan yang normal, kira-kira begitulah perumpamaan kasarnya.

Masalah kesehatan mental bisa diderita oleh siapa saja dan ini bukanlah sebuah aib. Hanya perspektif sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak layak diketahui oleh orang lain.

Aku pun mengalami hal yang sama. Seseorang yang tak ku kenal pernah bertanya, aku sakit apa. Ketika aku menjawabnya dengan jujur, beliau justru menertawakannya. Sedih sekali rasanya. Padahal saat itu, kondisiku pun sama daruratnya dengan beliau. Hanya fisikku sehat, lantas sakitku dianggap tidak nyata dan sepele.

Apakah teman-teman sudah pernah menonton drama korea Can This Love Be Translated? Di drama tersebut, tokoh utamanya digambarkan memiliki gangguan kesehatan mental. Ketika emosinya meledak, orang sekitar merasa tidak nyaman. Sebab tidak hanya emosi yang berubah, perilakunya pun berubah. Hal inilah yang terjadi pada kami.

Mengendalikan diri bukanlah hal yang mudah. Ada banyak elemen yang perlu dibuka satu per satu sampai akhirnya akar dari masalah tersebut dapat diurai dengan baik. Kesehatan mental adalah sesuatu yang menarik, sebab yang didalami adalah kejiwaan manusia sebagai makhluk sosial

masalah kesehatan mental adalah

Berbicara Kepada Teman

Bertemu dengan teman juga merupakan salah satu stress release yang disarankan dokter padaku. Sayangnya, yang terjadi adalah kebalikannya. Aku justru cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal bertemu dengan teman adalah salah satu cara untuk merasa bahagia,

Salah satu orang yang mengetahui bahwa aku memiliki masalah kesehatan jiwa adalah Mbak Marita, beliau founder Blogspedia. Beliaulah yang pertama kali membuatku tersadar bahwa aku harus segera menemui profesional untuk mengatasi masalah kejiawaan ini.

Jika saat itu aku tidak menghubunginya, mungkin perjalananku tidak akan sejauh ini. Bahkan, ini sudah teramat jauh dari apa yang pikirkan.

Mbak Marita dan Blogspedianya pun turut menolong dan membantuku untuk sembuh. Meskipun tidak hadir untuk memeluk erat, paling tidak empati itu sangat terasa sampai ke hati.

Aku pun tergabung dalam komunitas Blogspedia tersebut. Di dalamnya, ada banyak teman-teman blogger yang membuatku sedikit banyak bangun dari tidur panjang yang entah kapan akan berakhir. Mungkin langkahku tidak secepat yang lain, mungkin blogku tidak seramai yang lain, tetapi keinginanku untuk berbagi tak kalah dari teman-teman.

Itulah mengapa aku tetap tinggal di Blogspedia. Sebab ada banyak insight yang bisa aku ambil meskipun hanya menjadi silent reader. Agar tulisanku seputar kesehatan mental bisa menjangkau banyak orang, perlu berbagai strategi yang harus aku lakukan dan dari komunitas inilah aku belajar banyak hal teknis.

Niche kesehatan mental menurutku sangat relate dengan kondisi saat ini, di mana sebagian masyarakat nyatanya juga mulai aware terhadap kesehatan mental. Menurut teman-teman, apakah niche kesehatan mental akan membantu masyarakat teredukasi atau justru buang-buang waktu karena harus membaca ratusan kata bahkan ribuan?


#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah



Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Ada Apa dengan Kesehatan Mental"