Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menulis Lebih Banyak untuk Pembaca

Bersama dengan Blogspedia aku secara pribadi ingin menyuarakan kesehatan mental dengan lebih aktif. Bukan tanpa alasan, hal ini karena masih banyak masyarakat yang belum aware terhadap kesehatan mental, akhirnya yang muncul adalah stereotipe yang tumbuh subur di masyarakat.

Jika dihitung secara persentase, jumlah tulisanku tentang kesehatan mental memang belum banyak. Hanya beberapa saja. Hal ini dikarenakan berbagai faktor yang menjadi latar belakangnya. Salah satu alasannya adalah keterbatasan waktu.

edukasi kesehatan mental

Bukan karena sibuk bekerja, aku memang sengaja membatasi waktu untuk berinteraksi dengan alat elektronik. Menjaga jarak dari gawai, sedikit banyak juga membantu menjaga kesehatan mentalku. Sebab banyak gangguan yang disebabkan oleh akses berlebih terhadap gawai.

Titik Balik Sebagai Blogger

Jika dilihat ke belakang, rasanya sudah sekitar 3 tahun ini aku menarik diri dari blog. Mengisi blog hanya sebatas keperluan pekerjaan saja. Beberapa kali sebenarnya aku mencoba untuk mengisi beberapa blogku dengan artikel organik, tetapi rasanya sangat berat.

Ada banyak trauma yang tersimpan di balik keyboard laptop. Banyak luka yang tidak bisa aku ceritakan ketika membahas blog. Namun, aku tetap bertahan dengan blog yang aku miliki. Sebab menulis adalah salah satu coping mechanism.

Bisa dibilang, hubunganku dengan blog seperti benci tapi cinta. Ingin menjauh tetapi tetap ingin bertahan.

Hal yang sama terus saja terulang sampai saat ini, saat aku menuliskan artikel ini. Meskipun langkahku tidak secepat dan sebanyak blogger lain, tetapi aku bangga menyebut diriku sebagai blogger.

Sebenarnya, aku memiliki banyak tema artikel yang ingin ditulis. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya keinginan tersebut diurungkan.

Oleh karenanya, di Ramadan kali ini aku bertekad untuk kembali menghidupkan blog yang sudah lama hiatus. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan kembali mengisi blog yang telah lama kosong, setelah Ramadan usai.

Mengapa harus menunggu Ramadan usai? Tentu saja karena di bulan ini, aku ingin sedikit lebih fokus untuk beribadah dan memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Karenanya, momen setelah Ramadan adalah kesempatan terbaik sebagai momentum titik balik.

Sejujurnya, aku ingin mengulurkan tangan untuk dekapan yang lebih hangat pada banyak pihak yang bersangkutan. Hal ini menurutku sangat penting, sebab banyak caregiver yang masih kebingungan bagaimana mendampingi kami para penderita masalah kesehatan mental.

Selain itu, aku juga ingin menjadikan menulis di blog sebagai salah satu jalan ibadahku. Bukankah dengan menyebarkan kebaikan kita juga mendapatkan pahala atasnya? Paling tidak, ketika ada orang lain yang bisa mengambil manfaat dari blog ini, mengalir sedikit pahala kebaikan untukku. Begitu harapannya. Aamiin.

penderita masalah kesehatan mental

Ingin Memeluk Lebih Banyak

Ramadan sudah di penghujung waktu. Inginku meramaikan blog pun semakin besar. Salah satu cara yang aku lakukan untuk membantu menulis secara konsisten setelah Ramadan adalah dengan menyiapkan content plan.

Rasanya, aku sudah berjalan terlalu jauh dan ingin kembali pulang ke rumah yang sudah lama ditinggalkan begitu saja. Rumahku mungkin memang belum nyaman untuk ditinggali, tapi akan ku usahakan untuk terus membangunnya meskipun perlahan. Tapi, ini bukan tentang rumah.

Sebagai penderita masalah kesehatan mental, aku ingin banyak orang yang bisa membaca tulisanku. Baik itu para penderita maupun support system yang kebingungan bagaimana harus menghadapi kondisi yang serba membingungkan.

Dengan konsisten menulis, aku ingin banyak pengalaman yang bisa dibagikan sehingga sedikit banyak dapat memberi gambaran pada masyarakat seputar kesehatan mental, baik jenisnya hingga cara mendampinginya.

Aku tidak tahu akan bagaimana perjalananku ketika memulai menulis dengan niche baru, yang aku tahu, keinginanku cukup besar untuk membagikan informasi edukasi terkait kesehatan mental yang masih dipandang sebelah mata.

Kesehatan mental yang dipandang sebelah mata, nyatanya menggerogoti banyak jiwa masyarakat tanpa diketahui seberapa besar lukanya. Oleh karenanya, kita pun seharusnya membekali diri dengan pengetahuan yang bijak tentang masalah ini.

Bagi para penderita masalah kesehatan mental, aku ingin menyampaikan bahwa kita tidak sendirian. Akan selalu ada mereka yang akan setia berada di pihak kita meskipun kehadirannya terkadang terasa mengganggu.

Sedangkan untuk para caregiver, setidaknya memiliki bekal informasi bagaimana bersikap terhadap ODMK. Aku ingin merangkul lebih banyak pembaca yang sama-sama aware dengan pentingnya edukasi kesehatan mental ini.

Dengan banyak menulis, paling tidak aku juga melakukan terapi untuk kesembuhan diriku sendiri. Aku suka bercerita lewat tulisan, karenanya aku bersyukur jika banyak pembaca yang bisa mengambil manfaat dari tulisan tersebut.

Bagi para orang terdekat, menemani penderita masalah kesehatan mental bukanlah hal yang mudah. Sebab luka yang diderita tidak tampak, sehingga tidak bisa diukur seberapa sakitnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh kami, bahwa tidak mudah menjelaskan secara gamblang kondisi kesehatan mental kami yang tidak stabil itu.

Itulah kenapa aku butuh Blogspedia untuk menemaniku bisa menulis dengan rajin setelah Ramadan usai. Karena berada di lingkaran komunitas yang sevisi, paling tidak kita akan mendapatkan dukungan psikologis untuk terus menjaga kontinuitas menulis sesuai dengan niche yang aku pilih.

Tiga tahun menjadi silent reader, membuatku merasa bahwa ini saatnya untuk menyuarakan kesehatan mental dengan lebih lantang dan konstan. Ada berbagai alasan yang menjadi latar belakangnya, seperti yang sudah aku sampaikan di artikel lain pada blog ini juga.

Bagaimana menurut teman-teman, apakah edukasi kesehatan mental masih perlu dipublikasikan dalam bentuk artikel yang santai tetapi padat? Atau teman-teman memiliki usul bahasan seputar kesehatan mental yang ingin dibahas di blog ini?


#TheCupuersIsBack #RamadanSoulJourney #BloggingAsIbadah


Nimas Achsani
Nimas Achsani Parenting, pernikahan, finansial dan gaya hidup

Post a Comment for "Menulis Lebih Banyak untuk Pembaca"