Tumpukkan rindu

Aku berdiam dalam rintik hujan yang menderu
Jatuh, bersimpuh dalam kubangan rindu
Aku menjadi beku, kaku, kelu
Tak mampu lagi kulangkahkan kaki menujumu, yang kurindu
Aku tak mampu bergeming
Hanya diam dan melinangkan air mata
Hanya mengguratkan senyum dalam semu tatapan
Entah waktu sudah mencacatnya seberapa lama
Ketika aku, tetap saja menyimpannya
Rindu yang begitu hangat dan mematikanku
Rindu yang begiu manis dan menusukku
Dirimu
Pergi dengan meninggalkan tumpukkan rindu, untuk kuhabiskan seorang diri
Kini,
Rindu itu masih bersisa, masih tertumpuk
Kadang ada rasa ingin tahu
Kapan tumpukkan rindu itu akan segera aku habiskan?
Atau, aku kekurangan tumpukan itu?
Dirimu
Pergi tanpa meninggalkan dekapan
Namun menorehkan sayatan yang selalu aku dekap
Sayatan luka yang tak jarang aku tepis perihnya
Sayatan luka yang kadang tak ingin aku sembuhkan
Itulah dirimu,
Sepeti itulah dirimu kukenang,
Sejak kepergianmu

Posting Komentar

0 Komentar