#part 1 "perginya pemilik kenangan"

Percayalah,
Air mata bukan hanya mengartikan kekasihku telah pergi.

Dia, yang pernah melukiskan kenangan di dalam hariku. Sosok yang begitu hangat.
Ketika itu dia datang, dan tetap datang ketika aku tak bergerak menyambutnya. Dia terus bicara, bahkan ketika aku tak mendengarnya. Dia yang selalu ingin menggenggam jemariku, yang akan ada ketika aku jatuh, yang selalu datang ketika aku meminta, dan dia ingin aku bergantung kepadanya.

Dia datang, dengan sebungkus hati yang sepenuhnya dia berikan kepadaku. Dia datang, dengan seluruh rasa yang dia  simpan untukku.

Waktu berlalu, jarak di depan kita tetap saja terbentang. Aku tak mungkin bisa menggapainya, sedang dia begitu mudah untuk mendapatkanku. Aku melihatnya dari jauh, tempat terdekat di depan matanya. Namun dia tak pernah tergapai.

Aku tidak melepaskannya, tidak pula dia yang melepasku. Kita hanya saling melepaskan, ketika kita tau, bahwa kita tak saling membutuhkan. Namun kita juga tau, bahwa kita memiliki rasa dan hati yang sama.

Kita tak pernah saling menggenggam, tak pernah berjalan beriringan, tak pernah pula berbincang sepanjang malam. Namun mata kita mampu mengartikan segalanya, mata kita tau, kita tak pernah benar-benar rela ditinggalkan dan meninggalkan. Kita tak pernah mengartikan perasaan kita, hanya degupan jantung itu yang menjawab segala tanya.

Aku bisa apa, ketika dia tersenyum dan kemudian pergi. Aku bisa apa, ketika dia bahagia setelah kita saling melepaskan.

Dia telah pergi, dan mungkin tak akan kembali. Dia pergi membawa sepotong hatiku, potongan yang aku berikan dengan kerelaan. Dia pergi menyisakan kenangan untukku. Potongan itu, akan selalu terbawa olehnya, dia yang dulu datang dengan sepenuh hati, namun aku memberiku sepotong hatiku.

Tentu bukan karena aku tak memiliki rasa kepadanya. Lebih dari itu, dia adalah mekar salam layuku. Hatiku, entah sampai kapan bertahan, dengan nganga yang terbuka. D8a yang telah pergi, tak akan pernah mengembalikannya, tak akan pula menyembuhkannya.

Akupun tak meminta itu. Aku tak seserakah itu. Aku hanya ingin, dia menjaga potongan hati yang terbawa olehnya, sama seperti aku menjaga kenangan yang dia lukiskan dengan kasih diatas piluku.

Dia pergi dan mungkin tak akan kembali. Entah dia akan menemukan hati yang baru, atau akan menetap dengan hati yang lama. Kedua hati itu bukan aku. Aku tidak seberharga itu, dan tak semahal itu untuk diperjuangkan olehnya.

Tak pernah ada ikatan diantara kita. Tak pernah ada nama dalam hubungan kita. Karena antara aku dan dia, tak pernah ada. Tak pernah ada apapun, begitulah aku menjaga kenangan itu. Kenangan yang tak pernah aku hapus dan tak aku lupakan.

Namun tetap aku jaga sampai aku lupa sedang menjaganya.

By: nimaskz || bani hasan

Posting Komentar

0 Komentar