Hilangnya Rembulan (part 2)

Semenjak hari itu, tak pernah ku lihat lagi gadis yang selalu datang dengan setelan rok midi dan kemeja longgarnya. Seperti ada yang ruang kosong pada pagiku, kini.

Ku lempar pandangan jauh ke depan, mencoba menerawang apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Sesuatu yang sepertinya akan sedikit sulit ku terima dengan akal sehat.

Masih ada foto kita "aku dan Re" di ruang kerjaku, satu sudut yang mungkin akan semakin sering aku lihat nantinya, sudut ruang yang akan membuatku tenggelam dalam kenangan yang entah sampai kapan akan bersemayam dalam hidupku.

Lalu, sesuatu tiba-tiba menghantam kepalaku begitu kerasnya. Aku tertunduk dengan rintihan menahan sakit yang luar biasa. Ternyata Re mengandung janin Efe. Apa ini sebenarnya? Hubungan macam apa yang mereka inginkan?

Seseorang mengetuk pintuku, dan hilang sudah segala sakit yang merayapi kepalaku tadi.

"Masuk", balasku sembari merapikan rambutku yang sepertinya juah lebih kusut dibanding beberapa waktu lalu. Sebelum Re, ... sudahlah.

Aku tetegun beberapa saat ketika seseorang yang ku yakini adalah wanita, dua orang wanita tepatnya melongokkan kepalanya dari balik pintu kayuku. Siapa mereka?

"Permisi", salah seorang dari mereka bersuara. Aku masih mengamati mereka berdua.

"Ah, iya silahkan. Maaf dengan siapa dan adakah yang bisa saya bantu?", tanyaku bergantian menatap dua wanita asing ini, ah bahkan aku tak bisa mengenali suara itu.

"Aku Aya, istri Efe dan ini adik perempuanku, Sarah".

Kejutan dari Tuhan pagi ini. Luar biasa. Dua wanita yang tak pernah ku sangka kedatangannya, sekarang justru berhadapan denganku. Kupikir aku akan dipersilakaan masuk dalam ranah keluarga mereka, ya, jika itu berhubungan Re, tentu saja aku akan terbawa. Ah Re, aku masih rindu padamu....

"Mas Iko mungkin tidak menyangka jika saya akan datang kemari, atau justru mas Iko sudah dan sedang menunggu kedatangan saya", kata Aya datar .

Aku masih diam, mencoba mendengarkan dan memikirkan banyak hal, salah satunya Aya.

Aya? Dulu dia tidak seperti ini, tapi sekarang? Dia datang padaku dengan gamis longgar dan cadar hitamnya. Oh Tuhan, dia benar-benar berubah. Ada apa dengannya selama ini?

"Wah, sampai tak mengenali kalo ternyata ini kamu Ay. Maaf ya aku pangling", jawabku mencoba mencaurkan suasana yang memang kaku.

"Wajar mas. Setiap manusia itu sebenarnya adalah pembelajar, termasuk saya. Waktu dan keadaan telah membuat saya belajar banyak hal. Termasuk pakaian saya".

"Betul Ay. Jadi, apa yang bisa ku bantu". Aku tak ingin banyak basa-basi kali ini.

"Rembulan dan Mas Efe", katanya bersamaan dengan sebuah helaan nafas yang panjanag berat. Aku tau Ay, aku tau.

"Aku sudah tau jika Rere dan mas Efe sedang menjalin hubungan. Aku tidak tau harus kemana mencari Rere, mas Efe tak akan memberi tahu, terlebih aku dan Mas Efe sudah pisah rumah". Dia tertunduk. Di balik cadarnya itu, aku tau dia sedang menahan tangis. Ku pandang Sarah, sepertinya dia sama terlukanya dengan Aya.

"Aku ingin bertemu dengan Rere mas. Bukan untuk menyakitinya, aku tau dia sedang mengandung buah hati mas Efe". Kini tangisnya pecah, Sarah menariknya dalam pelukannya, dan aku hanya bisa memberikan beberapa lembar tisu kepada Sarah. Sarah tak pernah menatapku.

Hanya ada suara isakan di ruanganku. Sebuah ruangan yang dulu memberikanku banyak tawa dan semangat, namun kini berubah seperti rumah duka yang menyayat hati. Ay, aku tak tahu seberepa sakit yang kau derita. Tapi melihatmu seperti ini, tentu kamu sangat menderita. Isakkanmu telah menjelaskan segalanya Ay, segalanya.

"Ay, maaf aku tak bisa banyak membantumu. Akupun sedang menunggu kabar, atau barangkali ada kabar dari dan tentang Rere". Dua wanita ini masih berpelukan, dan usapan Sarah sepertinya sedikit menguatkan kakaknya. Aku terharu melihat mereka berdua.

"Soal Rere dan Efe, akupun tak bisa menjelaskan apa-apa. Maaf Ay". Ku hela satu nafas panjang, mencoba menyingkirkan setumpul penyesalan yang perlahan membebaniku.

"Mas Iko, tolong sampaikan pada Rere. Aku tak pernah marah jika dia dan Mas Efe ingin menikah. Tapi tidak bisakah Rere meminta ijin padaku baik-baik? Mas Iko, dalam agamaku, poligami itu diijinkan namun dengan syarat yang harus dipenuhi, dan tidak seperti ini. Mereka telah berzina. Ini bukan saatnya aku menghakimi mereka, karena Allah-lah yang akan menghakimi mereka, segera atau di akhirat nanti mas. Mas Iko, aku hanya ingin Rere tau tentang ini, dan juga sampaikan padanya aku menunggu dia datang dan duduk bersamaku. Cepat atau lambat".

Kata-kata yang barusan ku dengar, membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku seperti merasakan ada ketulusan dan kepedulian seorang wanita, seorang istri yang mencoba kuat dengan keadaan pernikahannya.

Aya, tak kusangkau sekuat ini dirimu. Semoga Tuhan selalu menguatkanmu.

"Mas Iko aku pamit dan terimakasih. Aku percaya jika Mas Iko akan menyampaikan seluruh pesanku pada Rere. Jika ada kabar, tolong hubungi Sarah". Dia berdiri seraya meletakkan selembar kertas sobekkan di mejaku.

"Hati-hati Ay". Sepertinya dia tak mendengarku. Mereka berlalu dan hilang. Aku sendirian, dan menyadari satu hal, mereka tak meninggalkan bekas tisu yang Aya pakai untuk menyeka air matanya.

Segera ku buka surel dari Rere beberapa waktu lalu. Aku seperti sedang menatap sebuah pesan singkat dari robot, bukan manusia. Ku benamkan wajahku dan kuakhiri segalanya

-----------

Untuk : Rembulan-ku

Re, aku rindu.
Kau tau Re, semenjak "hilang" mu, aku tak lagi baik-baik saja.

Satu lagi, Aya.
Dia benar-benar terguncang, terluka dan menderita, sama denganmu.

Re, apakah kau akan kembali? Segelas soda sudah menunggumu dan Aya.

-----------

Surel terkirim, dan Rere masih "ada" di suatu tempat. Kurasa.




#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar