Mode atau Syariat?

Seseorang pernah berkata padaku, "jangan cuma karena pengen makanya Nimas pakai cadar. Pelajari ilmu menutup aurat dari berbagai sumber, kaji pendapat para ulama, segala sumber kebaikan itu alquran". Sejak saat itu, ku renungkan banyak hal. Segala sebab akibat ketika aku menggunakan cadar nantinya. Ku bersihkan hatiku dari segala nafsu ingin dianggap lebih dibanding yang lain. Ketika sudah mantap dengan segala proses belajarku, terpakailah selembar kain hitamku menutup sebagian wajahku, menyisakan dua bola.

Waktu berlalu, satu demi satu cibiran semakin menguatkanku. Pandangan asing dari orang-orang yang ku lalui telah membuatku tersenyum di balik selembar kain ini dan aku semakin mencintainya. Mencintai selembar kain yang kini telah banyak dipakai oleh wanita di luar sana. Pada hakikatnya, cadar digunakan untuk menutupi diri agar tak menimbulkan fitnah, membantu diri dan para ajnabi menundukkan pandangan.

Namun kini, ku lihat selembar kain itu telah banyak digunakan. Tak susah menemukannya. Selembar kain yang dulu ku kira begitu sakral, kini hadir dengan beragam bentuk. Sesekali ku lihat ada tambahan pemanis di beberapa bagiannya, beberapa lipit nampak di ujung, manik-manik tersebar acak. Hadir dengan warna yang mencerahkan mata.

Bukankah pakaian taqwa itu bukan pakain popularitas? Lantas kenapa ditambahkan hal-hal yang justru menimbulkan fitnah baginya? Cukuplah cadar itu fungsinya sebagai penutup aurat, bukan aksesoris berhijab, bukan pula trend fashion yang harus diikuti. Cadar seharusnya menambah rasa malu kita, karena wanita itu indah sifat malunya.

Sekarang? Cadar digunakan ketika mereka berikhtilat di sudut-sudut pusat perbelanjaan, digunakan ketika mereka ingin menunjukkan eksistensinya di dunia maya, digunakan ketika mereka menyelesaikan kontrak kerjasama endorsement. Cadarku kini menyedihkan.

Beberapa waktu lalu, ku lihat salah satu selebgram dengan cadarnya berputar-putar mengibaskan gamisnya, cadarnya melambai tertiup angin. Sedih? Sangat. Tidakkah mereka sadar jika ada sebagian perempuan yang menjadikannya panutan? Lalu bagaimana jika panutan ini melakukan hal kurang baik?

Bukan menyalahkan, mengajak berpikiran luas dengan rendah hati. Cobalah renungkan, ketika kita dengan mudahnya menggunakan cadar lantas bergaya seperti itu, di sana ada yang menangis ketika cadar-cadarnya di buanh sang ibu. Ketika kalian berfoto menggunakan cadar dengan snapback  bertengger di kepala kain, tidakkah kalian sedih dengan perjuangan saudari kita yang rela ditembak mati di Paleatina hanya karena tak mau melepaskan kerudungnya?

Ini kembali pada diri kita masing-masing. Seperti apa niat dan keteguhan kita menutup aurat, seberapa keras perjuangan kita menegakkan sunnah, akan sangat berpengaruh pada kehati-hatian kita dalam bersikap. Jika engkau telah menutup aurat sedemikian rapat, lantas engkau bertingkah ingin dikenal dan mencari popularutas, bolehkah kutantakan, dimana izzah dan iffahmu sebagai seorang muslimah?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar