Kanvas dan Kertas - 1

Aku adalah anak perempuan yang lahir 24 tahun yang lalu. Lahir dan tumbuh dalam keluarga hangat bersama dua orang kakak, seorang adik laki-laki, nenek dan ibu- tanpa ayah. Mereka tidak hanya tempatku mengadu ketika duka, namun juga tempatku pulang ketika dunia lelah menghimpitku.

Ada salah satu hal yang merupakan turunan dari mendiang ayahku, adalah ketertarikanku pada seni. Ibu pun membenarkannya, ku dengar dari cerita-ceritanya yang mengenang kehadiran ayah setelah 24 tahun pergi.
Selama masa pendidikan, aku serinh mendapat prestasi dari berbagai kejuaraan menggambar yang aku ikuti. Piagam bertumpuk, bahkan tak jarang ku bagikan uang hadiah pada ibu, nenek, dan adikku.

Hingga pada satu waktu, ada sebuah perlomban besar yang harus aku ikuti. Berlembar-lembar kertas ku habiskan, bahkan ku kesampingkan sebentar tugas sekolah, juga rela begadang semalaman untuk mendapatkan komposisi rupa yang aku inginkan. Pada malam itu aku sendirian di ruang tamu, ibu menghampiriku. Beliau diam, melihat gambarku, lalu menatapku, dan berulang.

"Buk, gambarku bagus enggak?" tanyaku dengan tatapan lelah.
"Bagus ndhuk, sudah istirahat dulu." Ibu duduk di sampingku.

Hari yang ku tunggu tiba, ku sabet posisi juara II. Bukan sekadar piala atau piagam, namun juga aku pulang membawa kepuasan bercampur bangga.

"Ibu kemarin sebebarnya kurang suka sama gambarmu. Kok tumbrn gambarmu gitu, biasanya bagus. Cuma ibu enggak tega mau bilang, takut kamu enggak percaya diri," ujar ibu pada malam harinya.
Ah, aku selalu kagum dengan caramya menguatkan semangat anak-anaknya.

"Bu, besok aku kuliah seni rupa aja ya?" tanyaku. Namun ibu tak menjawabnya, diam sebentar dan beralihlah topik obrolan kami. Ya karena aku tau, ibu kurang suka jika ku jadikan seni rupa sebagai pilihan pendidikan di perguruan tinggi nanti. Ibu ingin sesuatu yang terlihat lebih menjanjikan untuk masa depanku.

Bulan telah berganti, aku telah duduk di bangku kelas XII. Hari itu aku sedang sibuk mengurus administrasi pendaftaran seleksi masuk salah satu perguruan tinggi swasta besar di Bandung- STISI Telkom, dengan pilihan jurusan Desain Komunikasi Visual. Berangkat ke Solo seorang diri, berbekal kartu peserta ujian dan materi-materi ujian.
Aku siao menyandang gelar Sarja Desain, empat tahun yang akan datang.

Setelahnya, aku berkutat dengan persiapan ujian nasional dan dokimen SNMPTN melalui jalur undangan. Untungnya, selain unggul dalam seni rupa, aku pun cukup punya prestasi akademik yaang bisa ku banggakan di sekolah.

Namun, di tengah-tengah padatnya waktuku, ada satu hal yang terjadi. Sesuatu yang kemudian tertanam kokoh dalam ingatanku, dan akan selalu ku kenang bagamaina kisahnya.

^bersambung

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
#tantangan
#nonfiksi

Posting Komentar

0 Komentar