Rumah Di Surga - 2

Saya yakin, setiap rumah tangga punya masalah dan susi yang berbeda. Tapi di belahan bumi mana pun, hak dan kewajiban seorang istri itu sama.

Berbicara tentang urusan rumah tangga, tentu tak akab pernah ada habisnya. Itu lah sebab banyak kajian atau seminar yang mrngangkat tema ini. Karena selalu ada hal-hal yang selalu layak u tuk diperbincangkan.

Kali ini, kita hanya akan bahas kehidupan rumah tangga dari sudut pandang istri.

Ketika kita sudah berikrar secara agama dan negara, maka kita telah resmi menikah dengan seorang manusia. Manusia biasa, bukan robot atau malaikat. Dialah pasangan kita, suami kita, oleh karenanya jangan menuntut kesempurnaan darinya.

Sistem kerja otak pria dan wanita memang dirancang berbeda oleh Allah ta'ala. Pria- suami kita memang dibentik untuk fokus menyelesaikan satu hal, dengan pikiran yang panjang dan luas. Sedangkan kita, bisa memikirkan bahkan melakukan banyak hal dalam satu waktu. Multitasking is a must for a woman.

Buat yang belum nikah, nanti ketika nunggu nasi mateng, kalian bisa sambil rendem cucian, potong-potong sayut, goreng-goreng lauk  atau bahkan buat desert, bersih-bersih rumah dan terakhir mandi. Jadi, suami masuk rumah, semua sudah siap dinikmati, termasuk istrinya (ya begitulah).

Jadi, sebelum menikah, yuk kita perbanyak ilmu-ilmu pernikahan dari para shahabiyyah terdahulu. Bagaimana mereka begitu berlomba-lomba memuliakan suaminya. Sekarang kita hidup di jaman yang lebih canggih, sedang dulu? Mereka harus berbakti dalam keadaan yang hidup penuh dengan himpitan.

Rela ditinggal berbulan-bulan tanpa kabar untuk dagang atau bertempur di medan perang atas nama agama, dan tak jarang yang datang terlebih dulu justru berita kematian.

Sudah jelas dalam agama kita (Islam), bahwa bakti dan surganya seorang wanita telah berpindah ke suaminya setelah dia menikah. Sebagian dari mereka mengharapkan diperlakukan layaknya ratu di dalam rumahnya, namun ketika impiannya tak terwujud, justru dereta caci maki, hinaan bahkan penghakiman lah yang keluar.

Alangkah baiknya sebelum menuntut seluruh wish list ke suami, cobalah untuk mengabdibdan melayaninya dengan baik, tanpa mengitung untung rugi di kemudian hari. Karena sebagaimana kita memperlakan orang lain, seperti itulah kita akan diperlakukan.

Ada yang bilang, kalau suami selalu diperlakukan demikian, dia akan jadi pria yang manja, dan merasa menang. Tunggu dulu, suami seperti apa yang dia maksud?  Karena jika suami yang paham fiqih rumah tangga, tentu tidak akan "mempekerjakan" istrinya. Betul?

Kembali pada sudut pandang istri dalam kesehariannya di dalam rumah.

Menjalani rutinitas yang sama setiap hari, tentu tidak mudah. Ada kejenuhan yang beberapa kali akan datang dan tinggal dalam diri kita, walaupun hanya beberapa saat. Setiap orang butuh waktu dan teman untuk mengeluarkan bersosialisai, menyalurkan energi dan emosinya, termasuk para istri.

Setiap hari berkutat dengan piring atau perabot kotor, debu-debu yang setiap hari ada entah darimana, tumpukkan baju siap cuci, rontokkan sisa makanan bahkan rambut, atau sepasang kaos kaki kotor yang tergelatak di atas kasur, tentu meminta ratusan bahkan ribuan stok sabar kita menghadapinya.

Meluapkan emosi karena cucian yang tak kunjung habis, atau harga sayur yang naik turun sedangkan uang belanja jumlahnya tak menentu pada suami, tentu sangat tidak elegan.
Ingat, mereka adalah pemimpin. Jangan memberontaknya, ajaklah dia berdiplomasi dengan sajian, kata-kata atau bahkan sentuhan manja.

Percayalah, setiap istru tau bagaimana harua menjinakkan singa dengan tetap menjaga wibawa sanga raja.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Posting Komentar

0 Komentar