INTROVERSION?

"Dia orangnya pendiam, cuek. Diajak ngobrol cuma jawab satu dua kata aja".
"Orang kayak gitu nggak bisa sosialisasi."

***
Ada yang pernah berpikir demikian ketika bertemu dengan seorang introvert?
Saya seorang introvert, dan menulis adalah salah satu cara saya mengungkakan perasaan "yang sering" tidak tersampaikan.
Dengan tegas dan jelas saya menepis anggapan itu. Jangan nilai kami dari "sampul" semata, jauh di dalam, kami pun punya jiwa manusiawi seperti yang lain.

Kami tetap bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekalipun tak banyak yang kami katakan, atau ketika kami tidak terlalu banyak basa-basi dengan orang baru. Karena faktnya, saya pun mampu membangun komunikasi yang hangat dengan para relasi (sesuatu yang selalu saya mulai dengan susah payah).

Di tulisan sebelumnya, saya pernah membahas secara singkat bagaimana pernikahan saya dengan suami yang ekstrovert garis keras. Silakan dibaca :D

Memang tidak banyak yang kami katakan. Hanya sesuatu yang kami anggap perlu lah yang akan disampaikan. Terbiasa "berpikir" dahulu sebelum bicara, dan memproses berbagai atau secara internal di pikiran kami.

Keadaan seperti ini, bukan berarti kami mengalami masalah kejiwaan. Seperti anggapan beberapa kalangan, bahka kami memiliki kesehatan mental yang kurang baik jika dibandingkan orang dengan kepribadian ekatrovert.

Kepribadian seseorang, nyatanya mampu dijelaskan secara ilmiah.

***

Pernah mendengar tentang Lobus Frontalis?

Dalam otak manusia, terdapat berbagai bagian yang bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing.
Sedangkan Lobus Frontalis (terdapat di bagian depan tengkorak) adalah rumah bagi pemikiran kognitif manusia, dan itulah proses yang membentuk dan menentukan kepribadian seseorang.

Beberapa fungsi Lobus Frontal adalah mengendalikan penalaran, perencanaan, menilai, dan beberapa yang lain.

Kami para introvert menggunakan Lobus Frontalis lebih banyak dibandingkan yang lain. Itulah mengapa, kami tampak "sedikit berbeda".

Kegiatan seperti membaca dan menulis sangat menarik bagi kami. Pun interaksi dengan sedikit orang, namun dengas kualitas pembicaarn yang dalam, lebih bermanfaat bagi kami.

***

Hidup di dunia ekstrovert, sering kali membuat kami kepayahan. Bagaimana tidak, kehadiran kami adalah 1:3 ekstrovert. Pada akhirnya, "golongan mayoritas" meberikan standar kewajaran berdasarkan kebanyakan diri mereka.

Kami tidak akan menutupi, bahwa kami introvert, dengan menjadi pribadi yang lain. Kami punya standar kebahagiaan dan kepuasaan tersendiri, maka verhentilah membandingkan kami dan melabeli kami dengan sesuatu yang mampu menjatuhkan nilai diri kami.

#ODOPbatch6 #Nonfiksi

Posting Komentar

0 Komentar